Volume 1 part 3
KH. Zuhrul Anam Hisyam, yang akrab dipanggil Gus Anam, adalah sosok ulama yang penuh dedikasi dalam menyebarkan ilmu agama Islam. Beliau lahir di Leler, Banyumas, pada 15 April 1966. Gus Anam merupakan putra ke-10 dari pasangan KH. Hisyam Zuhdi dan Nyai Hafshoh binti Abdillah Muqri. Dibesarkan di lingkungan Pondok Pesantren Leler (dahulu dikenal sebagai Tarbiyah Nahwiyah), Gus Anam tumbuh dalam tradisi pendidikan Islam yang sangat kuat.
Sejak kecil, Gus Anam dididik dengan penuh kedisiplinan dan nilai-nilai keagamaan. Ia menyelesaikan pendidikan formalnya di Sampang, menamatkan Sekolah Dasar hingga SMP di sana. Namun, pendidikan utamanya adalah di pondok pesantren keluarganya, At-Taujieh Al-Islamy di Leler. Di pesantren inilah, Gus Anam menempa diri sejak dini dalam berbagai bidang ilmu agama, sambil belajar langsung dari sang ayah dan para kyai di sekitarnya.
Orangtuanya selalu menekankan pentingnya ilmu, bukan popularitas. Hal ini tercermin dari pesan ayahnya yang sangat membekas di hati Gus Anam: “Orang yang penting itu adalah ilmunya, jangan suka popularitas.” Sang ayah, KH. Hisyam Zuhdi, adalah seorang ulama yang sangat menghormati guru-gurunya, termasuk KH. Bisri Musthofa dari Rembang. Hal ini menginspirasi Gus Anam untuk selalu menghormati ulama dan berkhidmah kepada mereka.
Setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren Leler, Gus Anam melanjutkan perjalanannya menimba ilmu di berbagai tempat. Salah satu pengalamannya yang paling berkesan adalah belajar di Pondok Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang, di bawah asuhan KH. Maimoen Zubair. Di pesantren yang terkenal melahirkan banyak ulama ini, Gus Anam belajar dengan sangat tekun dari tahun 1985 hingga 1989. Di sinilah ia mendalami berbagai kitab klasik, memanfaatkan setiap waktu untuk belajar, bahkan hingga larut malam. Gus Anam juga sempat bertabarukan ke Pondok Pesantren Al-Balagh di Bangilan, Tuban, dan menimba ilmu dari Syekh Mahmud Yunus di Cirebon.
Pada tahun 1989, Gus Anam melanjutkan perjalanannya ke Pandeglang, Banten, untuk bertabarukan dengan Buya Dimyati, salah satu ulama besar di daerah tersebut. Setelah itu, ia kembali ke Jawa untuk memperdalam ilmu di Kutoarjo bersama KH. Mas’ud, khususnya dalam studi kitab Shahih Muslim dan Ihya Ulumiddin. Pada tahun 1992, Gus Anam sebenarnya berkeinginan melanjutkan belajar di Suriah di bawah bimbingan Syekh Said Ramadhan Al-Buthy, namun takdir membawanya ke Mekkah.
Di Mekkah, Gus Anam menimba ilmu di Ribath Al-Hanafiah di bawah bimbingan Dr. Ahmad Nur Syekh, seorang ulama besar yang sangat dihormatinya. Selama di Mekkah, Gus Anam belajar berbagai kitab hadits dan ilmu keislaman lainnya, termasuk Kutubussab’ah (tujuh induk kitab hadits). Kehidupannya di Mekkah yang penuh dengan kesederhanaan mengajarkannya banyak hal, terutama tentang ketekunan dan tawadhu’ (kerendahan hati). Dr. Ahmad Nur Syekh, meski seorang ulama besar, selalu menunjukkan sikap rendah hati yang luar biasa, yang menjadi teladan bagi Gus Anam dalam perjalanan hidupnya.
Setelah menyelesaikan pendidikannya di Mekkah, pada tahun 1997, Gus Anam kembali ke Banyumas untuk mengabdikan dirinya di pesantren keluarganya, At-Taujieh Al-Islamy. Namun, dedikasinya untuk mendirikan pesantren yang lebih besar dan modern tak surut. Pada tahun 2013, Gus Anam mendirikan Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy 2 Andalusia di Banyumas, sebuah pesantren yang kini menjadi pusat pendidikan agama bagi santri dari berbagai penjuru Indonesia.
Dalam kehidupan pribadinya, Gus Anam menikah dengan Nyai Hj. Rodliyah Ghorro, putri dari KH. Maimoen Zubair, ulama besar dari Sarang, Rembang. Dari pernikahan ini, mereka dikaruniai tiga anak: Gus Roudlun Nadlir, Ning Zahro Mudliah, Gus Rafiq Ahmad Saif. Dengan dukungan penuh dari keluarganya, Gus Anam terus melanjutkan perjuangan keluarganya dalam dunia pendidikan pesantren, mewarisi semangat keilmuan yang telah ditanamkan oleh ayahandanya.
Pendirian Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy 2 Andalusia oleh Gus Anam bukan sekadar membangun lembaga pendidikan, tetapi juga sebuah ikhtiar untuk menjaga warisan keilmuan Islam dan melahirkan generasi baru yang berilmu dan berakhlak mulia. Dengan keuletan, ketekunan, dan keikhlasan, Gus Anam telah mengukir namanya sebagai salah satu ulama yang membawa pencerahan bagi umat.
Catatan Penting:
Terdapat koreksi terkait tanggal kelahiran Syaikhuna KH. Zuhrul Anam Hisyam. Dalam acara tasyakur milad beliau yang ke-59, beliau menyampaikan bahwa tanggal 15 April 1966 yang tercatat di KTP hanyalah data administratif. Adapun tanggal kelahiran KH. Zuhrul Anam Hisyam yang benar adalah pada hari Sabtu Pahing, 9 Juli 1966 M yang bertepatan dengan 20 Rabiul Awwal 1386 H seperti yang beliau sampaikan pada acara tersebut.
Penulis : M Hisyam Abdillah
Profil Syaikhuna KH. Zuhrul Anam Hisyam
Gus Anam & Andalusia
“Abnaul Lughoh: Peran Strategis dan Kiprah Membangun Budaya Bahasa Arab”










Tinggalkan Balasan