Kegiatan mengaji bersama KH. Zuhrul Anam Hisyam, yang akrab disapa Abah Anam ini; merupakan pengasuh pondok pesantren Andalusia. Beliau selalu menghadirkan suasana yang khidmat dan menenangkan. Berbeda dari pembelajaran di kelas biasa, majelis ilmu ini sarat dengan rasa hormat dan ketenangan, membuat santri tidak hanya belajar ilmu, tetapi juga meneladani sikap dan adab guru mereka. Ketika Abah mulai membaca dan menjelaskan kitab, suasana menjadi hening. Para santri duduk rapi, membuka kitab masing-masing, dan menulis makna dengan tulisan Arab Pegon. Tidak ada celah untuk bercanda, karena mereka menyadari bahwa setiap detik di majelis ilmu adalah kesempatan berharga untuk menimba pengetahuan dan hikmah.
Penjelasan Abah tentang isi kitab disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami. Tak jarang ia menambahkan kisah nyata, contoh kehidupan, serta nasihat yang menyentuh hati. Bagi santri, setiap kalam yang keluar dari beliau bukan sekadar pelajaran, tetapi juga bimbingan hidup yang membentuk karakter mereka. Sikap khidmat para santri terlihat dari kesopanan, kepatuhan, dan kehati-hatian dalam tutur kata maupun gerak tubuh ketika berada di hadapan Abah. Bagi mereka, guru bukan sekadar pengajar, melainkan figur orang tua dan pembimbing yang menuntun dalam menjalani kehidupan sehari-hari sekaligus menyiapkan bekal masa depan.
Pengajian semacam ini bukan hanya menambah wawasan agama, tetapi juga membentuk akhlak dan tata krama yang baik. Nilai-nilai kehidupan yang tertanam melalui majelis ilmu menjadi pedoman bagi santri menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks dan rawan menggoyahkan iman. Tradisi mengaji di pesantren telah berlangsung sejak dahulu, diwariskan dari generasi ke generasi. Dari majelis yang khidmat dan penuh adab inilah lahir banyak ulama dan pribadi-pribadi berakhlak mulia, menunjukkan bahwa penghormatan kepada guru adalah fondasi terciptanya generasi yang berkualitas.
Khidmat santri kepada Abah bukan sekadar kepatuhan formal, tetapi wujud kesadaran bahwa ilmu dan guru memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam Islam. Melalui penghormatan ini, santri belajar menyeimbangkan pengetahuan dengan akhlak, sehingga ilmu yang diperoleh menjadi pedoman hidup yang bermakna. Selama adab dan penghormatan kepada guru terus dijaga, pesantren akan tetap menjadi tempat belajar yang penuh berkah, tidak hanya bagi santri, tetapi juga bagi masyarakat luas. Ketaatan dan kesungguhan dalam menuntut ilmu membuktikan bahwa hubungan guru dan murid di pesantren adalah fondasi penting dalam membentuk generasi masa depan yang cerdas dan berbudi pekerti luhur.
Oleh : Fauzia Prima Kartika
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan