Manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan hubungan baik dengan sesama, salah satunya melalui bertamu. Namun, yang tak kalah penting juga adalah bagaimana kita menerima dan memuliakan tamu dengan penuh adab. Dalam ajaran Islam, sikap ini sangat ditekankan oleh Nabi Muhammad SAW. dan menjadi bagian dari akhlak mulia yang harus dijaga. Memuliakan tamu bukan sekadar bentuk silaturahmi, tetapi juga mengandung nilai penghormatan, keikhlasan, dan menjaga kehormatan sesama Muslim. Bahkan, di banyak tempat, sikap ini telah menjadi kebiasaan baik yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan ketulusan dalam kehidupan sehari-hari.
Sikap memuliakan tamu ini merupakan cerminan keimanan dan akhlak seseorang, sebagaimana diteladankan oleh K.H. Zuhrul Anam Hisyam, pengasuh Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy 2 Andalusia, Leler, Banyumas. Yang dikenal tidak hanya karena keilmuannya, tetapi juga karena keramahan dan penghormatannya kepada setiap tamu tanpa memandang latar belakang. Sehingga menjadi contoh nyata bahwa memuliakan tamu adalah bagian penting dari akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menunjukkan bahwa beliau selalu mengamalkan Hadist Nabi Muhammad SAW yang berbunyi :
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ”
“Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya.” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47).
Melalui sikap yang penuh perhatian serta ketulusan yang mendalam Abah KH zuhrul Anam Hisyam keteladanan beliau menunjukan bahwa memuliakan tamu adalah suatu ibadah yang menghadirkan keberkahan. Mulai dari mempersilakan masuk, menyiapkan kebutuhan, hingga menyuguhkan hidangan terbaik, semua dilakukan dengan penuh keikhlasan. Dari sinilah kita dapat belajar bahwa senyum yang tulus dan pelayanan yang sepenuh hati mampu menciptakan suasana hangat dan penuh makna bagi setiap tamu yang datang.
Pada awal kedatangan tamu, Abah KH. Zuhrul Anam Hisyam selalu memberikan dawuh (perintah) kepada para khodam atau abdi ndalem untuk mempersilakan tamu masuk ke ndalem (rumah) ketika sudah mendapatkan izin dari Beliau. Beliau juga mengarahkan agar seluruh kebutuhan tamu, mulai dari tempat hingga perlengkapan, dipersiapkan dengan sebaik dan senyaman mungkin.
Hal yang tidak kalah penting adalah penyajian hidangan. Abah kerap kali menekankan agar semua hidangan disiapkan secara maksimal dan disajikan tepat waktu. Bahkan, sebelum hidangan disuguhkan, beliau sering menanyakan terlebih dahulu apakah makanan dan minuman tersebut sudah layak untuk dihidangkan kepada tamu.
Adapun hidangan yang biasa disajikan antara lain unjukan (minuman) seperti teh panas Tong Tji yang merupakan teh kesukaan beliau, air putih, serta minuman-minuman lainnya. Selain itu, disediakan pula pacitan (camilan ringan) seperti roti, jajan pasar dan sejenisnya. Tidak ketinggalan, daharan (makanan utama) yang terkadang disajikan dalam bentuk prasmanan. Dan Khusus ketika Beliau menerima tamu agung seperti habaib, kiai, dan masyayikh, beliau akan menjamu dengan lebih istimewa, mulai dari tempat hidangan dan lain sebagainya.
Setelah tamu dipinarakan (dipersilakan duduk), Abah dengan ramah mengajak tamu untuk menikmati hidangan yang telah disediakan. Beliau kemudian menyapa dengan wajah yang berseri dan senyum tipis khasnya, sambil menanyakan beberapa hal seperti nama, alamat, serta tujuan kedatangan tamu tersebut, tak jarang juga, beliau kerap bercanda dengan sang tamu sampai Nggujeng (tertawa) yang kerap suaranya terdengar sampai ke luar ruangan.


Abah KH. Zuhrul Anam Hisyam dikenal sebagai sosok yang selalu mengutamakan tamu di atas kepentingan pribadinya. Bagaimanapun keadaannya, selama masih memungkinkan untuk menemui tamu, beliau akan tetap meluangkan waktu untuk menyambut dan melayani mereka.
Dalam beberapa kesempatan, terdapat tamu yang datang untuk meminta solusi atas permasalahan yang mereka hadapi. Meskipun pada dasarnya hal tersebut bukan ranah beliau, namun karena besarnya perhatian dan kepedulian, Abah tetap berusaha memberikan solusi terbaik serta nasehat yang bijak kepada tamu.
Beliau senantiasa mendahulukan kepentingan tamu dibandingkan urusan pribadinya, selama hal tersebut masih dapat dilakukan. Selain itu, dalam menerima tamu, beliau juga tidak membeda-bedakan. Di hadapan beliau, semua tamu diperlakukan sama, tanpa melihat latar belakang maupun kedudukannya. Yang membedakan adalah ketika yang bertamu adalah masyayikh beliau, beliau akan lebih ekstra dalam memuliakan mereka dalam rangka ta’dzim kepada guru gurunya.
Abah KH. Zuhrul Anam Hisyam seringkali dawuh (memerintahkan) kepada para khodamnya, seperti Kang Edi atau Kang Anam, untuk mengatur waktu yang tepat agar tamu dapat menemui beliau dengan baik.
Biasanya, waktu yang dipilih adalah saat-saat yang memungkinkan, seperti selepas sholat Subuh dan sholat Dhuha berjamaah, atau pada sore hari setelah beliau beristirahat siang. Pengaturan waktu ini dilakukan agar tamu tetap bisa bertemu dengan nyaman tanpa mengganggu aktivitas lainnya.
Hal ini menunjukkan bahwa waktu beliau tidak hanya diperuntukkan bagi tamu. Abah juga memiliki tanggung jawab lain, seperti mengajar dan mengaji bersama para santri, serta melakukan tindak (perjalanan) ke luar kota untuk kegiatan dakwah dan pengajian. Selain itu, masih banyak amanah lain yang beliau jalankan.
Dengan pengaturan waktu yang baik, beliau tetap dapat memuliakan tamu tanpa mengabaikan tanggung jawabnya yang lain. Hal ini menjadi teladan bahwa melayani tamu juga membutuhkan kebijaksanaan dalam mengatur waktu.
keteladanan Abah KH. Zuhrul Anam Hisyam dalam memuliakan tamu memberikan pelajaran berharga bagi kita bahwa akhlak mulia tidak hanya diajarkan, tetapi juga harus dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Sikap ramah, perhatian, serta kesungguhan beliau dalam melayani setiap tamu menjadi cerminan nyata dari ajaran Islam yang penuh dengan nilai kasih sayang dan penghormatan terhadap sesama.
Sikap mulia ini dapat menjadi inspirasi bagi kita semua untuk lebih menghargai dan memuliakan tamu dengan penuh keikhlasan. Tidak harus dengan kemewahan, tetapi cukup dengan ketulusan, keramahan, dan adab yang baik. Dengan demikian, budaya memuliakan tamu dapat terus hidup di tengah masyarakat, serta menjadi bagian dari upaya kita dalam meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh : Ahmad Mahbub ‘Atoillah
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial









Tinggalkan Balasan