Pernahkah kalian memperhatikan hujan? Hujan yang turun perlahan, rintik demi rintik, seolah menyentuh bumi dengan lembut? Tidak deras, tidak mengguyur keras, tetapi cukup untuk membasahi tanah dan menyejukkan udara. Setiap tetes hujan yang jatuh ke bumi bukanlah peristiwa acak. Dalam ilmu meteorologi, ukuran dan distribusi tetesan hujan dapat dihitung dan diprediksi melalui model matematis. Hujan rintik, misalnya, terbentuk dari awan rendah dalam kondisi atmosfer yang stabil, dengan tetesan berdiameter sangat kecil. Fakta ilmiah ini menunjukkan bahwa langit bekerja dalam sistem yang teratur dan terukur.
Al-Qur’an menyebutnya sebagai air yang diturunkan “menurut ukuran” seperti dalam QS. Az-Zukhruf ayat 11 :\
والّذي نزّل من السمَآء مَآءً بقدَرٍ فأنشرنا به بًلدَة مَيتًا
“Dan Yang menurunkan air dari langit menurut ukuran ( yang diperlukan ) lalu dengan air itu Kami hidupkan negeri yang mati (tandus)”.
Kata ‘biqodar’ berarti dengan ukuran dan ketentuan yang tepat. Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa hujan turun sesuai kebutuhan makhluk, tidak berlebihan dan tidak pula kekurangan. Begitu juga dalam Tafsir Al-Qurtubi disebutkan bahwa pengaturan ini menunjukkan kebijaksanaan Allah dalam mengatur alam. Secara ilmiah, hujan rintik lebih mudah diserap tanah. Ia tidak langsung menjadi banjir, tidak merusak tanaman. Justru ia meresap perlahan, menyuburkan bumi dengan tenang. Allah berfirman:
وهو الّذي يُنزّل الغيث مِن بعْد ما قَنطوا وينْشُر رحمَتهُ
“Dan Dia yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya.”
(QS. Asy-Syura: 28).
Hujan disebut sebagai rahmat. Dan rahmat itu sering datang dalam bentuk yang lembut, tidak selalu dalam hal yang besar dan mengguncang. Demikian pula kebaikan, tak selalu harus besar karena yang kecilpun dapat memberikan makna. Hujan rintik-rintik juga memberikan suasana yang menenangkan. Waktu yang tepat untuk bertadabbur dan berdoa. Karena di antara waktu yang dianjurkan untuk memperbanyak doa termasuk yaitu saat turunnya hujan. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa dua doa tidak tertolak, salah satunya adalah doa ketika hujan turun.
عَن سَهْلِ بنِ سَعدٍ، قال: قال رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: «ثِنْتَانِ لَا تُرَدَّانِ، أَوْ قَلَّمَا تُرَدَّانِ: الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِ، وَعِنْدَ الْبَأْسِ حِينَ يُلْحِمُ بَعْضُهُ بَعْضًا» . وَفِي لَفْظٍ: «وَعِنْدَ نُزُولِ الْغَيْثِ»
Dari Sahl bin Sa’ad, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua doa yang tidak akan ditolak atau jarang ditolak: (1) doa ketika azan berkumandang, (2) doa ketika perang berkecamuk. (Dalam lafazh lain disebutkan: dan ketika turunnya hujan).” Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2540) dan Al-Hakim (no. 1184). Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih.
Hujan turun membawa rahmat dan kehidupan bagi bumi, sehingga ia menjadi simbol turunnya kasih sayang Allah. Karena itu, ketika rintik hujan membasahi tanah dan udara menjadi sejuk, seorang mukmin dianjurkan tidak hanya berteduh secara fisik, tetapi juga berteduh ruhnya, mendekat secara ruhani pada Sang Pencipta, mengangkat tangan dengan penuh harap kepada Allah yang menurunkan setiap tetesnya dengan hikmah.
Oleh : Khumairo
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan