Bergembira atas datangnya bulan Ramadan merupakan salah satu tanda bahwa kita adalah seorang muslim yang sejatinya. Bulan Ramadan merupakan bulan yang paling ditunggu-tunggu oleh seluruh umat muslim di dunia, ibarat seorang kekasih yang lama tak jumpa.
Namun, kegembiraan sering kali disalahartikan oleh sebagian orang. Sebagian orang mengartikan kegembiraan adalah mereka yang banyak hartanya, mereka yang tinggi jabatannya, dan lain sebagainya. Akan tetapi, kegembiraan yang dimaksud di sini adalah kegembiraan atas datangnya bulan Ramadan, dan kegembiraan ini bukanlah suatu kegembiraan yang biasa-biasa saja. Bagi umat muslim, kegembiraan ini adalah suatu kehormatan dan kebanggaan yang tak ada duanya.
Landasan utama tentang kegembiraan yang benar ditegaskan Allah Ta‘ala dalam firman-Nya:
قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ
“Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, maka dengan itulah hendaknya mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus: 58)
Ayat ini menjelaskan betapa pentingnya kita harus bergembira atas datangnya karunia dari Allah SWT berupa kenikmatan ketaatan, keimanan, dan lain sebagainya, termasuk karunia datangnya bulan suci Ramadan, dan bukan kegembiraan duniawi yang hanya sementara. Di dalam kitab Risalah Ramadan karya KH. Muslich Abdullatief, Lc., pengasuh Pondok Pesantren Modern Al Islah Kebumen, pada awal bab dalam kitab tersebut beliau memulai pembahasannya dengan judul الترحيب بمجيئ شهر الرمضان, “yang artinya gegap gempita atas kedatangan bulan suci Ramadan”.
Hal ini merupakan penguat bagi kita bahwa ulama-ulama kita terdahulu sangat berbahagia dan bergembira atas kedatangan bulan Ramadan. Kemudian beliau menukil hadist yang diriwayatkan dari shohabat Abi Hurairoh R.A. yang berbunyi:
عِنْدَمَا أَقْبَلَ رَسُوْلُ اللهِ صلّى الله عليه وسلم شَهْرَ اللهِ الْمُبَارَكَ، وَهُوَ شَهْرُ الصِّيَامِ، وَشَهْرُ الْجِهَادِ، وَشَهْرُ الْقِيَامِ، وَشَهْرُ الْقُرْآنِ، وَشَهْرُ الْمَغْفِرَةِ، بَلْ شَهْرُ الْفُتُوْحَاتِ فِي الْإِسْلَامِ، بِقَوْلِهِ:
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ﷺ:
“قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ، افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامًا، تُفْتَحُ فِيْهِ أَبْوَابُ الجَنَّةِ، وَتُغْلَقُ فِيْهِ أَبْوَابُ الْجَحِيْمِ، وَتُغَلُّ فِيْهِ الشَّيَاطِيْنُ، فِيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ.”
{رَوَاهُ النَّسَائِيُّ وَأَحْمَدُ}
Artinya:
Ketika Rasulullah ﷺ menyambut bulan Allah yang penuh berkah, yaitu bulan puasa, bulan jihad, bulan qiyam (shalat malam), bulan Al-Qur’an, bulan ampunan, bahkan bulan kemenangan dalam Islam, beliau bersabda:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ta‘ala ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
“Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa di dalamnya. Pada bulan itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa terhalang dari kebaikannya, maka sungguh ia telah terhalang (dari kebaikan yang besar).”
(HR. An-Nasa’i dan Ahmad).
Kita bisa mengambil istimbat dari hadist tersebut bahwa kita harus bergembira atas kedatangan bulan suci Ramadan dengan mempersiapkan diri dengan penuh persiapan, lalu memperbarui niat, dan memperkuat iman serta takwa kepada Allah SWT. Karena Rosulloh SAW sudah menerangkan dengan jelas kepada kita bahwa bulan Ramadan ini bukan sekadar bulan yang biasa kita temui. Bulan Ramadan bukanlah bulan yang identik kita kenal dengan berbagai takjilnya, buka bersamanya, dan baju barunya. Akan tetapi, bulan Ramadan ini adalah bulan kita diwajibkan untuk berpuasa, bulan Qur’an, bulan ampunan, bulan di mana setan-setan dibelenggu, bulan di mana pintu-pintu surga dibuka, bulan di mana pintu-pintu neraka ditutup, dan bulan di mana ada suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, yaitu malam Lailatul Qodar.
Menciptakan suasana Ramadan di rumah dan lingkungan juga merupakan salah satu bentuk kegembiraan yang dianjurkan. Hal ini dapat diwujudkan dengan menghias rumah atau masjid dengan nuansa Ramadan sebagai simbol syiar dan pengingat datangnya bulan yang mulia, mengadakan pengajian atau kajian menjelang Ramadan agar keluarga dan masyarakat memahami keutamaannya, serta saling mengingatkan tentang kemuliaan dan peluang besar yang ada di dalamnya.
Mudah-mudahan kegembiraan kita atas datangnya bulan Ramadan menjadi tanda diterimanya amal dan bertambahnya iman serta takwa kepada Allah SWT. Aamiin.
oleh Ahmad Mahbub ‘Atoilah
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan