Pada bulan Ramadhan ini, menjadi waktu yang sangat tepat untuk menambah ilmu dan memperdalam pemahaman tentang sejarah Islam serta perjuangan para ulama terdahulu. Berkaitan akan hal itu, Pada bulan ramadhan tahun ini, santriwati andalusia mendapatkan kesempatan yang sangat berharga mengikuti pengajian kitab tarajim. Kitab ini merupakan karya ulama besar Nusantara, yaitu KH. Maimoen Zubair yang akrab di kenal dengan sebutan Mbah moen.
Kitab tarajim ini berisi tentang biografi para Masyayikh dan ulama yang memiliki peran penting dalam perkembangan lembaga pendidikan islam, khususnya di daerah Sarang dan sekitarnya. Dalam mukadimah kitab ini, Mbah moen memulai dengan memuji kepada Allah SWT dan sholawat kepada nabi Muhammad Saw, sebagaimana tertulis:
الحَمْدُ لِلَّهِ وَكَفَى، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالْوَفَا، وَعَلَى مَنْ بِهِمُ اقْتَدَى وَاقْتَفَى.
Setelah itu, Mbah Moen menjelaskan tentang sejarah masuknya Islam di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Dijelaskan bahwasanya Islam telah tersebar di berbagai wilayah Nusantara melalui para da’i dan para pedagang yang datang dari negeri-negeri Timur Tengah. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam mukadimah:
فَقَدِ انْتَشَرَ الإِسْلَامُ فِي أَنْحَاءِ بِلَادِنَا إِنْدُونِيسِيَا، وَبِالْأَخَصِّ فِي جَزِيرَةِ جَاوَةَ، وَكَانَ دُخُولُ هَذَا الدِّينِ الْحَنِيفِ فِي بِلَادِنَا بِدُعَاةٍ وَتُجَّارٍ.
Islam mulai masuk ke wilayah Nusantara sekitar awal abad ke 13 Masehi. Pada masa awal penyebarannya, Islam terlebih dahulu berkembang di wilayah barat kepulauan Nusantara, khususnya di pulau Sumatera, di daerah Pasai. Seorang ulama sekaligus pengembara terkenal, yaitu Ibnu Battuta, yang mengelilingi dunia selama dua puluh sembilan tahun, pernah mengunjungi wilayah tersebut. Dalam perjalanannya beliau datang ke wilayah Timur jauh termasuk wilayah Sumatera, dan beliau di sambut serta di muliakan oleh para sultan yang telah memeluk agama Islam, karena pada saat itu Islam telah berkembang di daerah tersebut.
Namun Ibnu Battuta tidak melanjutkan perjalanannya ke pulau Jawa, karena pada waktu itu agama Buddha masih berdiri kokoh di pulau Jawa pada pertengahan abad ke 14 M. Pada masa itu Islam di jawa masih di anut oleh kelompok kecil masyarakat yang tersebar di sepanjang pesisir pantai Utara. Masuknya agama Islam di Jawa pada awalnya di lakukan oleh da’i yang ikhlas yang berdakwah dengan cara penuh hikmah dan kesabaran. Mereka mengajak pada agama yang hanif secara sembunyi-sembunyi karena kondisi masyarakat saat itu masih berada di bawah pengaruh kuat agama Buddha.
Para da’i tersebut menjadikan daerah pesisir Utara sebagai pusat dakwah mereka, khususnya di wilayah Gresik dan sekitarnya. Dari daerah inilah dakwah Islam kemudian berkembang meluas hingga mencapai ke kota Tuban. Pada masa awal tersebut, agama Islam lebih dahulu dianut oleh kalangan masyarakat lemah dan kaum fakir, sedangkan para penguasa dan para pembesar negeri belum memeluk agama ini. Keadaan ini sebenarnya juga pernah terjadi pada masa awal kemunculan Islam di berbagai tempat.
Di antara para da’i yang ikhlas tersebut adalah Maulana Malik Ibrahim As-Samarkandi yang dikenal dengan sebutan Sunan Gresik. Beliau dimakamkan di kota Gresik, Jawa Timur. serta Sunan Sendang Duwur di daerah Paciran. Beliau merupakan para da’i yang datang dari negeri-negeri Timur Tengah untuk menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa pada masa ketika pengaruh agama Buddha masih sangat kuat. Mereka termasuk orang-orang pertama yang menyebarkan cahaya ajaran Nabi Muhammad ﷺ dengan penuh keikhlasan dan semata-mata mengharap keridhaan Allah.
Dalam mukadimah kitab tersebut juga dijelaskan bahwa para da’i tersebut berjuang dengan sungguh-sungguh tanpa merasa lelah dalam menghadapi berbagai rintangan. Sebagaimana disebutkan:
لَا يَأْلُونَ جُهْدَهُمْ، وَلَا يَعُوقُهُمْ عَنْ جِهَادِهِمْ وَكِفَاحِهِمْ أَنْوَاعُ الْعَوَائِقِ، وَمَكَائِدُ الْكَائِدِينَ، وَدِفَاعُ الْكَافِرِينَ وَالْمُشْرِكِينَ.
“mereka tidak pernah mengurangi usaha mereka dan tidak terhalang oleh berbagai rintangan, tipu daya para penentang, maupun perlawanan dari orang-orang kafir dan musyrik”.
Masuknya Islam di Pulau Jawa pada awalnya memiliki cara yang unik dan berbeda dengan negeri-negeri lain. Hal ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia dan dapat diterima oleh semua bangsa serta berlaku di setiap zaman dan tempat. Sebagaimana dijelaskan bahwa risalah Nabi Muhammad ﷺ ditujukan kepada seluruh umat manusia tanpa memandang perbedaan ras dan warna kulit, baik yang berkulit hitam, kuning, putih maupun merah.
Pada masa awal kemunculannya, Islam tampak sebagai sesuatu yang asing di tengah masyarakat. Yang pertama kali memeluk agama ini adalah orang-orang lemah dan kaum fakir, sementara para penguasa dan orang-orang kaya justru menolaknya. Di antara sebab kuatnya kedudukan Islam di daerah Tuban adalah masuk Islamnya seorang tokoh agama dari kalangan terkemuka masyarakat Tuban yang pada masa Kerajaan Majapahit memiliki kedudukan penting dalam urusan keagamaan. Tokoh tersebut dikenal sebagai seorang ahli ibadah dan zahid yang terkenal dengan sebutan Sunan Bejagung Tuban.
Melalui peran tokoh tersebut, Islam mulai tersebar luas di kalangan masyarakat Jawa pada masa awal munculnya cahaya Islam di daerah tersebut. Dari keturunannya kemudian lahir para ulama Jawa yang menjadi tokoh penting dalam berbagai lembaga pendidikan agama. Para ulama tersebut mendirikan dan mengembangkan lembaga pendidikan Islam seperti pesantren yang terus berkembang dari masa ke masa hingga zaman sekarang.
Pengajian kitab Tarajim ini dikaji pada bulan Ramadhan bersama Ibu Nyai Rodiyah Ghorro Maimoen, yang merupakan putri dari KH. Maimoen Zubair. Mengaji kitab karya ulama besar, yang secara langsung di sampaikan oleh putri beliau sendiri maka, hal ini akan menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi para santriwati. Dalam kajian ini, tidak hanya mempelajari sejarah perkembangan Islam di Nusantara, tetapi juga belajar tentang nilai keikhlasan, kesabaran, dan semangat para ulama dalam menyebarkan ilmu serta menjaga tradisi keilmuan Islam.
Dengan adanya pengkajian kitab tarajim ini kita semakin menyadari bahwasanya perkembangan Islam di Nusantara tidak terlepas dari perjuangan para ulama yang berdakwah dengan penuh kesabaran, keikhlasan, dan pengorbanan. Dan kita sebagai pencari ilmu diharapkan dapat meneladani semangat para ulama dalam menuntut ilmu dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Oleh : Elok Naelun
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan