Ketika para penguasa sudah jauh dari amanah dan jalan yang benar. Di situlah peran pemuda untuk mengingatkan dan melawan kebathilan. Pemuda bukan hanya anak kemarin sore yang kerjaannya main dan nongkrong saja. Akan tetapi, mereka adalah standar kualitas negeri ini . Jika mereka rusak maka rusak lah negeri ini, jika mereka di bungkam maka tuli lah negeri ini , dan jika mereka tidak menentang kedzoliman maka hancur pula negeri ini.
Bagaimana standarisasi pemuda yang bisa kita ambil untuk para pemuda di zaman sekarang?
Kita bisa melihat dari kisah para pemuda yang menentang seorang raja romawi yang dzolim pada ratusan tahun lalu yang bernama Decius/دقیانوس (sekitar 201–251 M) Kisah ini diabadi kan pada surat Al Kahfi ayat 9 – 16
Para pemuda itu adalah Ashabul kahfi
Siapa sebenarnya Ashabul kahfi ini?
Penjelasan mereka di sebutkan pada
QS. Al-Kahf: Ayat 13 (Juz 15)
اِنَّهُمْ فِتْيَةٌ اٰمَنُوْا بِرَبِّهِمْ وَزِدْنٰهُمْ هُدًىۖ
Sesungguhnya mereka (Ashabul kahfi) adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami menambahkan petunjuk kepada mereka.
Kemudian Allah menjelaskan bahwa sesungguhnya para penghuni gua itu adalah para pemuda yang beriman kepada Allah Yang Maha Kuasa dengan penuh keyakinan. Meskipun masyarakat mereka menganut agama syirik, tetapi mereka dapat mempertahankan keimanan mereka dari pengaruh kemusyrikan. Memang para pemuda pada umumnya mempunyai sifat mudah menerima kebenaran, mereka lebih cepat menerima petunjuk ke jalan yang benar dibandingkan dengan orang-orang tua yang sudah tenggelam dalam ajaran-ajaran yang batil. Oleh karena itu, dalam sejarah, terutama sejarah perkembangan Islam, para pemuda yang lebih banyak pertama kali menerima ajaran Allah dan Rasul-Nya.
Adapun orang tua, seperti tokoh-tokoh Quraisy, tetap mempertahankan ajaran agama yang salah, sedikit sekali di antara mereka yang menerima ajaran Islam.
(Tafsir Tahlili)
Ashabul kahfi penentang kedzoliman
Di ceritakan oleh Muhammad bin Ishaq (151H / 768 M)
Ketika pengikut Injil telah melampaui batas dan dosa-dosa banyak terjadi di antara mereka hingga mereka menyembah berhala. Namun, masih tersisa di antara mereka orang-orang yang tetap memegang teguh ajaran Nabi Isa (Al-Masih), mereka berpegang teguh pada ibadah kepada Allah dan mentauhidkan-Nya.
Saat itu di Romawi ada seorang raja bernama Decius (Diqyanus). Ia menyembah berhala, berkurban untuk thaghut, memaksa orang-orang untuk melakukan hal serupa, dan membunuh siapa pun yang menentangnya.
Ia melewati kota Ashabul Kahfi, yaitu sebuah kota Romawi bernama Ephesus (Afsus), yang di kalangan orang Arab disebut Tarsus. sebuah kota Yunani kuno di pesisir Ionia, di Selçuk saat ini di Provinsi İzmir, Turki.
Maka orang-orang beriman bersembunyi darinya. Raja itu pun mengirim para pembantunya untuk mencari, menggeledah, dan membawa mereka menghadap kepadanya.
Ketika fitnah (penganiayaan) ini memuncak… maka mereka sangat bersedih, dan mereka adalah bagian dari bangsawan Romawi yang berjumlah delapan orang (salah satu anjing).
(Hasyiyah ashowi , 4/122)
Yakni nama mereka adalah Muksalmina, Tamlikha, Martunus, Nainunus, Sarinunus, Dzunuwanus, dan Falistathiyunus; dialah sang penggemba, dan nama anjing mereka adalah Qithmir; dikatakan pula (dalam pendapat lain) namanya adalah Hamran, dan dikatakan juga Rayyan.
(Hasyiyah ashowi , 4/135)
Mereka memegang teguh ajaran Nabi Isa (Masehi). Maka dikabarkanlah kepada raja perihal mereka dan peribadatan mereka. Raja pun mengutus orang untuk menjemput mereka hingga mereka dihadapkan ke hadapannya dalam keadaan menangis.
Raja berkata: “Apa yang menghalangi kalian untuk menyembelih kurban bagi tuhan-tuhan kami dan bersikap sebagaimana penduduk kota lainnya? Pilihlah: kembali ke agama kami atau kami bunuh kalian!”
Maka yang tertua di antara mereka menjawab: “Sesungguhnya kami memiliki Tuhan yang keagungan-Nya memenuhi langit dan bumi. Kami tidak akan pernah menyembah tuhan selain-Nya selamanya. Lakukanlah apa saja yang engkau inginkan terhadap kami!”
Rekan-rekannya pun mengatakan hal yang sama. Maka raja memerintahkan agar pakaian dan perhiasan kebesaran mereka dilepaskan—saat itu mereka mengenakan ikat pinggang dan kalung emas—dan mereka adalah pemuda-pemuda yang sangat tampan yang belum tumbuh jenggotnya.
Raja berkata: “Aku akan meluangkan waktu untuk menghukum kalian nanti. Tidak ada yang menghalangiku untuk mengeksekusi kalian sekarang kecuali karena aku melihat kalian masih sangat muda, sehingga aku tidak ingin membinasakan kalian. Sungguh, aku beri kalian waktu tangguh agar kalian dapat mempertimbangkan kembali urusan kalian dan kembali kepada akal sehat kalian.”
Kemudian sang raja pergi bersafar untuk suatu urusan. Maka para pemuda itu merasa khawatir jika raja kembali dari safarnya, ia akan menghukum atau membunuh mereka. Lalu mereka pun saling bermusyawarah di antara mereka.
Perjalanan Ashabul kahfi ke gua
Mereka sepakat agar masing-masing mengambil bekal (uang) dari rumah ayah mereka; sebagiannya untuk disedekahkan dan sisanya untuk bekal perjalanan. Mereka pun melakukannya dan berangkat menuju sebuah gunung dekat kota mereka yang bernama Bijalus, yang di dalamnya terdapat sebuah gua (kahf).
Di tengah perjalanan, mereka melewati seekor anjing yang kemudian mengikuti mereka. Mereka mencoba mengusirnya, namun anjing itu kembali lagi. Mereka melakukannya berulang kali, hingga (atas izin Allah) anjing itu berkata kepada mereka: “Aku mencintai para kekasih Allah Azza wa Jalla, maka tidurlah kalian dan aku akan menjaga kalian.” Maka anjing itu pun ikut mengikuti mereka.
Lalu mereka memasuki gua dan menetap di dalamnya. Tidak ada kesibukan bagi mereka kecuali shalat, berpuasa, bertasbih, dan bertahmid (memuji Allah).
Mereka menyerahkan urusan perbekalan kepada salah satu dari mereka yang bernama Tamlikha. Ia bertugas pergi ke kota untuk membeli makanan secara sembunyi-sembunyi dan mencari informasi (memata-matai) kabar terbaru. Demikianlah mereka menetap di dalam gua itu selama waktu yang dikehendaki Allah.
(Hasyiyah ashowi , 4/122)
Penulis : Mujiburrohman
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial









Tinggalkan Balasan