Raja Diqyanus kembali dari perjalanannya ke kota. Pada saat itu, Tamlikha sedang berada di kota untuk membeli makanan, lalu ia datang dan mengabarkan kepada teman-temannya tentang kembalinya raja dan bahwa raja sedang mencari-cari mereka.
Maka mereka pun merasa takut dan mulai berzikir kepada Allah Azza wa Jalla serta memohon dengan sangat (tadharru’) kepada-Nya agar dijauhkan dari kejahatan raja. Hal itu terjadi saat matahari terbenam.
Datang nya pertolongan Allah
Tamlikha berkata kepada mereka: “Wahai saudara-saudaraku, makanlah dan bertawakallah kepada Tuhan kalian.” Mereka pun makan lalu duduk berbincang serta saling berwasiat.
Di saat mereka dalam keadaan demikian, tiba-tiba Allah menurunkan rasa kantuk (tidur) kepada mereka di dalam gua tersebut.
Allah juga menidurkan anjing mereka yang sedang menjulurkan kakinya di pintu gua. Kemudian raja mencari mereka hingga ditunjukkanlah keberadaan mereka. Sang raja pun merasa bingung tentang apa yang harus ia lakukan terhadap mereka.
Lalu Allah mengilhamkan ke dalam hati raja untuk menutup pintu gua /tersebut. Allah Azza wa Jalla berkehendak memuliakan mereka dengan cara itu, menjadikannya sebagai tanda bagi manusia, serta menjelaskan kepada mereka bahwa hari kiamat pasti datang dan bahwa Dia Maha Kuasa untuk membangkitkan hamba-hamba-Nya setelah kematian.
Maka raja memerintahkan untuk menyumbat (menutup) pintu gua itu seraya berkata: “Biarkan mereka di dalam gua yang telah mereka pilih sebagai kuburan bagi mereka.” Raja menyangka bahwa mereka menyadari apa yang sedang ia lakukan terhadap mereka, padahal Allah telah mewafatkan (menidurkan) ruh mereka dengan “kematian tidur”.
Penulis kisah Ashabul kahfi
Ada dua orang mukmin di istana Raja Diqyanus yang menyembunyikan keimanan mereka, mulai menuliskan kisah para pemuda tersebut.
Keduanya menuliskan waktu hilangnya mereka, jumlah mereka, silsilah keturunan mereka, agama mereka, dan dari siapa mereka melarikan diri, pada dua lempengan timah (timbal), lalu meletakkan keduanya ke dalam sebuah peti tembaga.
Mereka berdua meletakkan peti tersebut di dalam struktur bangunan (di pintu gua), seraya berkata: “Semoga Allah menampakkan perihal para pemuda ini kepada kaum mukminin sebelum hari kiamat, sehingga mereka dapat mengetahui kabar berita para pemuda itu dari tulisan ini.”
Wafat nya Raja Diqyanus
Kemudian Raja Diqyanus pun wafat bersama kaumnya, lalu berlalulah tahun demi tahun dan abad demi abad, serta berganti-gantilah para raja. Hingga akhirnya kota tersebut dipimpin oleh seorang lelaki saleh yang bernama Baidurus/بيدروس.
Rakyatnya pun berselisih pendapat; di antara mereka ada yang beriman kepada hari kiamat dan ada yang mengingkarinya. Hal itu terasa berat baginya ketika ia mendengar mereka berkata: “Tidak ada kehidupan melainkan kehidupan dunia saja, dan sesungguhnya yang dibangkitkan hanyalah ruh tanpa jasad.”
Maka sang raja mulai memohon dengan sangat rendah diri (tadharru’) seraya berdoa: “Wahai Tuhanku, Engkau Maha Mengetahui perselisihan mereka ini, maka bangkitkanlah bagi mereka suatu tanda yang menjelaskan kepada mereka perihal hari kiamat dan kebangkitan.” Maka Allah pun berkehendak memperlihatkan perihal para pemuda Ashabul Kahfi kepadanya dan menjelaskan urusan mereka kepada manusia.
Serta menjadikan mereka sebagai tanda dan hujah atas mereka agar mereka mengetahui bahwa hari kiamat itu pasti datang tanpa ada keraguan padanya, dan bahwa Allah akan membangkitkan siapa pun yang ada di dalam kubur. Lalu Allah mengilhamkan ke dalam hati seorang lelaki dari penduduk daerah tersebut untuk meruntuhkan bangunan yang menutupi pintu gua,dan membangun kandang domba dengan batu-batunya. Ia pun meruntuhkannya dan membangun kandang domba darinya. Ketika pintu gua terbuka, Allah membangkitkan para pemuda tersebut. Mereka pun duduk dengan perasaan gembira, wajah yang berseri-seri, dan jiwa yang tenang.
Sungguh Allah telah menjaga tubuh, ketampanan, serta penampilan mereka sehingga tidak ada sesuatu pun yang berubah. Keadaan mereka saat terbangun sama persis dengan keadaan mereka saat mulai tertidur.
(Hasyiyah ashowi , 4/123)
Penulis: Mujiburrohman
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial









Tinggalkan Balasan