Hari Selasa, 13 Mei, pukul masih pagi namun suhu politik sudah mendidih. Di antara riuh spekulasi yang selama ini mengambang di udara, satu nama akhirnya mendarat resmi di kertas pendaftaran: Eka Prasetya. Mahasantri Sanah 1 itu menjadi calon kedua yang mendaftarkan diri secara sah ke Panitia Pemilihan Santri (PPS), menyusul langkah lebih awal setelah Khazmi.

Namun yang mengejutkan bukan hanya siapa yang maju, melainkan siapa yang mengusungnya. Eka didorong ke garis depan oleh Partai PSG (Partai Smart Generation), partai yang baru dibentuk namun langsung tancap gas, menunjukkan bahwa usia muda bukan berarti tak punya nyali. Kekuatan PSG bukan datang dari sejarah, tapi dari kejutan.
Malam sebelum deklarasi, tepat pukul 23.00 hingga lewat tengah malam, digelar rapat rahasia penuh ketegangan di Kantor Keamanan Pondok Pusat. Hadir dalam forum itu para penggede PSG, wajah-wajah muda yang dikenal berani namun penuh perhitungan. Dipimpin langsung oleh Sekjen PSG, Adam Fatah, rapat itu menjadi penentu nasib: siapa yang bakal diusung.

“Kita bukan sekadar memilih calon. Kita sedang menyusun ulang peta kekuatan. Kami tahu medan, kami tahu lawan, dan kami tahu waktunya untuk muncul,” ujar Adam Fatah saat dikonfirmasi usai Eka resmi mendaftar.
“Langkah ini bukan emosional, ini hasil dari kerja aktivis bawah tanah, kalkulasi logistik, dan sinyal yang kami tangkap dari arus akar rumput.”
Menurut bocoran internal, rapat berjalan alot, namun solid. Beberapa nama sempat dipertimbangkan, tapi hanya Eka yang dianggap punya “watak lapangan” dan “sense of crowd” yang mumpuni. Keputusan pun diambil secara aklamasi, dan PSG langsung bergerak cepat menuju panggung utama.

Saat ditemui wartawan usai mendaftarkan diri, Eka tampil santai. Mengenakan peci miring dan senyum jenaka, ia melemparkan komentar khas ala politisi muda yang sadar kamera dan tahu momen:
“Ya gimana ya, kalau yang lain sibuk manuver, kita sibuk mendaftar. Katanya banyak calon, tapi ya yang daftar baru dua. Kita nggak pakai banyak drama, cukup satu malam rapat, satu pagi daftar. Namanya juga PSG: ‘Pasti Segera Gerak’.”
Pernyataan Eka langsung viral di kalangan pendukungnya, yang mulai menarasikan dirinya sebagai “Calon Santai, Tapi Taktis”. Ada yang menyebut gaya politik Eka sebagai humor elegan, yang bisa menetralkan panasnya kompetisi namun tetap menusuk tajam.
PSG bukan partai besar. Belum. Tapi manuver ini membuatnya tiba-tiba berada di tengah peta kekuasaan. Pengamat politik tanpa nama menyebut, “Kalau partai lain sibuk dengan konsolidasi nostalgia dan skenario lama, PSG muncul sebagai variabel baru yang tak bisa diabaikan.”

Muncul juga konspirasi bahwa PSG sebenarnya adalah pecahan dari gerakan santri non-blok yang sudah lama gerah dengan dominasi elite lama. Dan Eka dipilih bukan karena dia tokoh pusat, tapi karena dia dianggap “bisa mewakili lapisan yang selama ini diam.”
Dengan Khazmi dan Eka resmi mendaftar, panggung kini benar-benar mulai terisi. Tapi jika Khazmi datang dengan megah dan restu partai mapan, maka Eka datang seperti komet: tak disangka, tapi memecah langit.Apakah langkah PSG ini hanya percikan sesaat, atau awal dari babak baru politik santri? Yang jelas, malam itu kantor keamanan tak hanya jadi tempat patroli, tapi jadi tempat sejarah dirancang diam-diam.
Berita Terkini Seputar Ma’had Aly Andalusia Leler Banyumas !!!
Dapatkan update terbaru dan informasi menarik lainnya seputar Ma’had Aly Andalusia Leler Banyumas hanya di website resmi kami: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan berbagai artikel yang inspiratif dan bermanfaat tentang kehidupan akademik, program pendidikan, kegiatan santri, dan berbagai info penting lainnya. Segera kunjungi situs official Ma’had Aly Andalusia untuk memperluas wawasan dan mengikuti perkembangan terbaru yang kami sajikan khusus untuk Anda!
follow Media Sosial
#SANTRILELERMENDUNIA










Tinggalkan Balasan