Waktu menuju pemungutan suara di Mahad Aly Andalusia semakin menyempit. Di koridor-koridor pesantren, atmosfer politik mahasiswa mulai menghangat. Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, ada satu sosok yang auranya terasa berbeda, Eka Prasetya. Ia membawa narasi yang tidak biasa sebuah perpaduan antara ketangguhan mental pasca-kekalahan dan ambisi besar untuk merombak tatanan.
Setahun yang lalu, Eka berada di titik defeat.
Menjadi kontestan dalam pemilihan Presiden Mahad Aly bukanlah perkara mudah, apalagi ketika arus oposisi menyerang bukan pada gagasan, melainkan pada personal. Eka ingat betul bagaimana rasanya berjalan di antara tatapan sinis dan bisik-bisik yang meragukan kapasitasnya di lorong-lorong asrama.
“Tahun kemarin saya dihujat-hujat, dihina-hina, saya juga diam,” kenang Eka saat ditemui di sela-sela kesibukannya. Ia mengatakannya dengan nada seperti telah mengalami lose streak 10x di mobile legends, seolah luka itu sudah menjadi pengalaman yang mengeras dan membuatnya lebih tangguh. Diamnya Eka saat itu sering disalahpahami sebagai bentuk kekalahan atau ketidakberdayaan. Padahal, bagi seorang santri yang terbiasa dengan laku tirakat dan kesabaran, diam adalah laboratorium untuk membedah diri dan menyusun strategi.
Kini, kalender politik kampus kembali berputar ke titik awal. Eka Prasetya muncul lagi di permukaan. Namun, ada yang berbeda dari sorot matanya. Kali ini, ia tidak lagi datang dengan kepala tertunduk atau senyum yang ragu. Ada semacam api kecil yang menyala di sana api perlawanan yang exclusive.
“Tapi kali ini saya katakan: saya akan lawan,” tegasnya. Kalimat ini bukan sekadar luapan emosi atau dendam pribadi terhadap mereka yang pernah menjatuhkannya. Bagi Eka, perlawanan ini adalah bentuk tanggung jawab moral kepada konstituen dan almamaternya. Ia ingin menunjukkan bahwa integritas seorang santri tidak boleh hancur hanya karena serangan lisan (cangkem elek) atau pembunuhan karakter. Ia ingin membuktikan bahwa kebenaran, segetir apa pun itu, harus tetap disuarakan meski sulit untuk diterapkan dalam realitas yang penuh kepentingan.
Ia tidak membalas hinaan dengan hinaan serupa, melainkan dengan sebuah cetak biru (blueprint) perubahan yang lebih ambisius bagi Mahad Aly Andalusia.
“Menjadikan Mahad Aly Lebih Mahad Aly”
Salah satu kalimat yang paling sering ia lontarkan dan menjadi magnet bagi para pendukungnya adalah visinya untuk “menjadikan Mahad Aly lebih Mahad Aly.” Sekilas, kalimat ini terdengar janggal, namun di dalamnya terkandung kegelisahan filosofis yang sangat dalam tentang jati diri lembaga.
Eka melihat ada pergeseran identitas yang pelan-pelan terjadi di lingkungan akademis pesantren. Ia ingin mengembalikan marwah Mahad Aly sebagai institusi pendidikan tinggi yang murni, di mana tradisi intelektual Islam tidak kalah dengan standar manajemen modern. Menjadikan Mahad Aly “lebih Mahad Aly” berarti memperkuat kembali 3N yaitu : Ngaji, Ngabdi, Nganut dawuh Kyai. juga tetap responsif terhadap tantangan zaman yang serba digital.
“Kita punya akar yang kuat, tapi kalau sistem geraknya rapuh, akar itu tidak akan bisa menopang pohon yang besar,” jelasnya sambil memperbaiki letak pecinya yang khas dan bergaya ala Charlie Van Houten.
Visi filosofis itu kemudian ia turunkan dalam langkah taktis yang sangat berani. Eka menyadari bahwa selama ini organisasi mahasiswa yang disebut DEMA, sering kali terjebak dalam rutinitas seremonial yang minim dampak nyata. Karena itulah, ia membawa agenda besar: merombak konsep gerak organisasi.
“Saya ingin mengubah konsep gerak Mahad Aly ke arah yang lebih bergerak dalam sistem tatanan dan jajarannya,” ungkap Eka dengan penuh keyakinan. Bagi Eka, kepemimpinan bukan soal siapa yang paling vokal di depan mikrofon saat rapat paripurna, melainkan siapa yang mampu mengorkestrasi seluruh elemen organisasi agar bergerak seirama. Ia ingin setiap departemen dan setiap jajaran pengurus memiliki pemahaman yang presisi tentang tugas dan fungsinya. Penataan struktur ini dianggap krusial agar organisasi tidak hanya besar secara nama, tapi juga solid secara kerja-kerja administratif dan lapangan.
Eksklusif: Tanya Jawab Bersama Eka Prasetya

Untuk mendalami motif dan langkah besarnya, kami melakukan sesi tanya jawab singkat dengan sang calon presiden di tengah persiapannya menuju hari pemilihan:
Apa yang sebenarnya membuat Anda yakin untuk maju kembali setelah kegagalan dan tekanan mental tahun lalu ?
Eka: “Kegagalan tahun lalu adalah membuang apesnya saya serta menjadikannya guru terbaik bagi saya. Saya belajar bahwa kepemimpinan bukan tentang penerimaan semua orang terhadap kita, tapi tentang konsistensi kita pada nilai. Hinaan itu justru menjadi bahan bakar walaupun menjadikan saya down juga tapi tetap stand up. Kalau saya menyerah, saya membenarkan semua hinaan itu. Dengan maju lagi, saya sedang melawan stigma bahwa kegagalan adalah titik henti.”
Apa maksud konkret dari ‘mengubah konsep gerak ke tatanan yang sistemik ?
Eka: “Seringkali kita bergerak tanpa arah yang jelas secara birokrasi. Saya ingin memperjelas jajaran dan fungsi. Tidak boleh ada tumpang tindih. Semua harus bergerak dalam satu tatanan yang rapi, sehingga siapapun yang memimpin nanti, sistemnya sudah jalan. Kita ingin organisasi yang profesional tanpa kehilangan identitas pesantren.”
Bagaimana Anda menanggapi pihak-pihak yang mungkin masih meragukan Anda ?
Eka: “Kebenaran memang seringkali sulit untuk diterapkan dan diterima. Toh saya tidak meminta mereka langsung percaya, tapi saya meminta mereka melihat kerja dan tatanan yang saya tawarkan. Biarkan sistem yang saya bangun nanti yang menjawab keraguan itu. Tak perlu kata kata yang penting bukti nyata boyss. ” imbuhan kata dari Eka disertai ekspresi tengilnya.
Kini, dengan waktu yang semakin sempit, Eka Prasetya terus bergerak. Ia mendatangi bilik-bilik santri, berdiskusi di bawah pohon rindang, hingga beradu argumen di forum-forum terbuka. Narasi “kebangkitan” yang ia bawa terbukti mampu menggerakkan hati banyak santri yang merindukan sosok pemimpin yang tangguh secara mental dan visioner secara organisasi.
Dinamika di Mahad Aly Andalusia kini berada di persimpangan jalan. Akankah para santri memilih untuk tetap berjalan di tempat, ataukah mereka akan menyambut tangan Eka Prasetya untuk menata kembali tatanan yang lebih sistemik? Sejarah akan mencatat langkahnya. Dari seorang santri yang memilih diam saat dihina, menjadi seorang pemimpin yang lantang berkata: “Saya akan lawan, demi menjadikan Mahad Aly lebih Mahad Aly.”
Oleh: Abdullah Alkaf
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial









Tinggalkan Balasan