Pernahkah kalian menonton video kisah para nabi, ternyata video itu dari perspektif agama “sebelah”? Ataupun pernah mendengar bahwa nabi-nabi kita juga disebutkan dalam Nasrani dan Yahudi? Sebagai contoh, kisah Nabi Adam ‘alaihis salam disebutkan dalam Taurat dan juga dalam Al-Qur’an di banyak tempat. Ataupun cerita Nabi Yusuf ‘alaihissalam juga terdapat di Injil. Kenapa bisa begitu? Karena semua kitab itu diturunkan kepada nabi-nabi terdahulu yang juga berisi kisah-kisah mereka. Begitu juga Al-Qur’an yang di dalam tafsirnya banyak sekalli cerita-cerita yang mengandung unsur dari Taurat dan Injil sebagai penyempurna keduanya. Adapun cerita-cerita itu disebut dengan Isra’iliyat.
Apa Itu Isra’iliyat?
Isra’iliyat adalah riwayat-riwayat orang Yahudi dan Nasrani yang berasal dari Injil dan Taurat, seperti (riwayat) Abdullah bin Salam al-Yahudi, Ka‘b al-Ahbar, Wahb bin Munabbih, dan Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij, yang mencerminkan budaya mereka. Sesungguhnya Taurat dan Injil memuat banyak hal yang juga dimuat dalam Al-Qur’an, khususnya yang berkaitan dengan kisah-kisah para nabi ‘alaihim assalam. Namun, Al-Qur’an membatasi diri pada bagian-bagian yang mengandung pelajaran dan tidak memaparkan rincian bagian-bagian kecil suatu permasalahan. Karena itu, Al-Qur’an tidak menyebutkan sejarah waktu kejadian, tidak pula nama-nama negeri tempat terjadinya peristiwa tersebut, dan umumnya juga tidak menyebutkan nama-nama orang yang melalui mereka sebagian peristiwa itu terjadi.
(Hasyiyatus Showi ‘ala Tafsir Jalalain, 1/22)
Sebagai contoh, kisah Nabi Adam ‘alaihis salam disebutkan dalam Taurat dan juga dalam Al-Qur’an di banyak tempat. Penyebutan terpanjangnya terdapat dalam Surah Al-Baqarah dan Surah Al-A‘raf. Dengan memperhatikan ayat-ayat tersebut, tampak bahwa Al-Qur’an tidak menyebutkan letak surga, tidak menjelaskan jenis pohon yang dilarang, tidak menerangkan hewan yang dipakai setan untuk masuk ke dalam surga, dan tidak menjelaskan tempat Adam dan istrinya diturunkan serta menetap setelah keluar dari surga.
(At-Tafsir wa al-Mufassirun, 1/122)
Apakah Sikap Para Sahabat terhadap Riwayat Itu?
Ibnu Hajar menjelaskan bahwa para sahabat رضي الله عنهم tidak keluar dari batas kebolehan yang telah ditentukan oleh Rasulullah ﷺ. Mereka memahami dari sabda Nabi ﷺ:
«بلِّغوا عني ولو آية، وحدِّثوا عن بني إسرائيل ولا حرج»
“Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat, dan ceritakanlah (riwayat) dari Bani Israil, dan tidak berdosa.”
Bahwa kebolehan meriwayatkan dari Bani Israil bukan kebolehan mutlak, melainkan terikat dengan syarat: tidak diketahui kebohongannya dan tidak bertentangan dengan syariat.Pada saat yang sama, para sahabat juga berpegang pada sabda Nabi ﷺ:
«لا تصدقوا أهل الكتاب ولا تكذبوهم»
“Jangan kalian membenarkan Ahlul Kitab dan jangan pula mendustakan mereka.”
Sehingga mereka tidak menyalahi salah satu dari dua hadis tersebut. Tidak ada pertentangan antara keduanya, karena hadis pertama memberi izin meriwayatkan dalam batas tertentu, sedangkan hadis kedua menetapkan kaidah sikap terhadap kebenaran riwayat tersebut.
(At-Tafsir wa al-Mufassirun, 1/125)
Apa Hukum Memercayai Kisah Tersebut?
Berdasarkan kaidah hadis dan penjelasan para ulama, Isra’iliyat terbagi menjadi tiga macam:
- Isra’iliyat yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah Maka boleh diterima dan dibenarkan, karena telah didukung oleh dalil syar‘i.
- Isra’iliyat yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah, Maka wajib ditolak dan didustakan, karena menyelisihi wahyu.
- Isra’iliyat yang tidak diketahui kebenaran dan kedustaannya. Inilah yang dimaksud dalam sabda Nabi ﷺ:
“لا تصدقوهم ولا تكذبوهم”
Sikap yang benar adalah tawaqquf, tidak membenarkan dan tidak mendustakan. (At-Tafsir wa al-Mufassirun, 1/130)
Dengan demikian, Isra’iliyat bukan untuk ditelan mentah-mentah dan juga bukan untuk ditolak secara mutlak. Sikap yang lurus adalah menempatkannya sesuai kaidah syariat, sebagaimana dipahami oleh para sahabat dan dijelaskan oleh para imam seperti Imam Syafi‘i dan Ibnu Hajar.
Sumber Rujukan:
- Tafsir Ashowi ‘ala Tafsir Jalalain (Imam Ashowi)
- At-Tafsir wa al-Mufassirun (Syekh Muhammad Sayyid Husain adz-Dzahabi)
Penulis:
Mujiburrohman, Mahasantri Andalusia











Tinggalkan Balasan