Al-Qur’an bukan hanya kitab suci, tapi adalah karya sastra. Setiap huruf, harakat, dan susunan kalimatnya tersusun dengan ketelitian maknawi yang tinggi. Di antara bentuk ketelitian tersebut adalah penggunaan satu huruf kecil, dalam firman Allah SWT pada QS. Al-Baqarah ayat 36 yang mengisahkan peristiwa monumental dalam sejarah manusia: turunnya Nabi Adam ‘alaihissalām dari surga ke bumi.
Allah SWT berfirman:
فَأَزَلَّهُمَا ٱلشَّیۡطَـٰنُ عَنۡهَا فَأَخۡرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِیهِۖ وَقُلۡنَا ٱهۡبِطُوا۟ بَعۡضُكُمۡ لِبَعۡضٍ عَدُوࣱّۖ وَلَكُمۡ فِی ٱلۡأَرۡضِ مُسۡتَقَرࣱّ وَمَتَـٰعٌ إِلَىٰ حِینࣲ
(QS. Al-Baqarah: 36)
Ayat ini menjelaskan bagaimana setan berhasil memperdaya Nabi Adam dan Siti Hawa sehingga keduanya tergelincir dari ketaatan dan dikeluarkan dari kenikmatan surga. Namun perhatian para ulama tafsir tidak berhenti pada aspek naratif peristiwa tersebut, melainkan juga tertuju pada redaksi perintah ilahi setelahnya, yakni lafaz:
اهبطوا
“Turunlah kalian”
1. Mengapa Menggunakan Kata “kalian”(Jama’)?
Titik krusial dalam ayat ini adalah kata perintah اهْبِطُوا (Ihbitu – Turunlah kalian). Dalam kaidah bahasa Arab, kata ini berbentuk Jama'(untuk 3 orang atau lebih), padahal pelakunya secara eksplisit adalah Adam dan Hawa (dua orang).
Perspektif Representasi Keturunan (Abu Hayyan):
Dalam Kitab Al-Bahr al-Muhith, Abu Hayyan menjelaskan bahwa perintah ini ditujukan kepada Adam dan Hawa bukan sebagai individu semata, melainkan sebagai asal-usul umat manusia. Perintah turun ke bumi mencakup seluruh keturunan mereka yang masih dalam tulang sulbi. Ini menunjukkan bahwa bumi disiapkan untuk manusia secara kolektif, bukan hanya untuk sepasang manusia pertama. Sebagian ulama, seperti Abu Shalih yang meriwayatkan dari Ibnu Abbas, menyatakan bahwa perintah tersebut ditujukan kepada Adam, Hawa, Iblis, dan ular yang akan dijelaskan di poin ke 3. (Al-Bahr al-Muhith fi al-Tafsir)
Estetika dan Keluwesan Bahasa (Ibnu Ashur):
Ibnu Ashur dalam Kitab At-Tahrir wa At-Tanwir melihat dari sisi Balaghah. Beliau berpendapat penggunaan bentuk jamak bertujuan untuk menghindari pengulangan bentuk Tasniyah (kata ganti dua orang) secara bertubi-tubi yang dapat memberatkan rima ayat (Karahiyah Tawali al-Mutsannayat). Hal ini menjaga kelenturan (I’jaz) saat ayat tersebut dilantunkan. (At-Tahrir wa At-Tanwir)
2. Kenapa memakai “وقلنا اهبطوا” dan bukan “فقلنا اهبطوا” ?
Ketelitian Al-Qur’an juga terlihat pada partikel terkecil, Penggunaan Huruf “Wawu” (Wa Qulna): Al-Qur’an menggunakan Wawu (Dan), bukan Fa (Maka). Ini mengisyaratkan bahwa turunnya Adam ke bumi bukanlah sekadar akibat teknis dari kesalahan memakan buah khuldi, melainkan bagian dari ketetapan Allah yang sudah direncanakan sejak awal (bahwa manusia memang diciptakan untuk menjadi khalifah di bumi).
Ketiadaan Huruf Panggilan (Nida’):
Berbeda dengan ayat-ayat kemuliaan, di sini Allah langsung berfirman tanpa menyebut “Wahai Adam”. Abu Hayyan mencatat ini sebagai tanda Inhithat al-Rutbah (penurunan derajat sementara) sebagai bentuk teguran halus agar Adam menyadari khilafnya.
(At-Tahrir wa At-Tanwir)
3. Konteks Riwayat dan Lokasi (Aspek Historis)
Sebagai pelengkap narasi global, para mufassir mengutip beberapa riwayat terkait detail turunnya mereka. Meski sebagian bersifat riwayat Israiliyat atau sejarah, hal ini membantu menggambarkan keterpisahan yang dialami sebagai bentuk ujian.
Pemisahan Lokasi:
1. Nabi Adam AS diriwayatkan turun di India (Gunung Sarandib)
2. Siti Hawa di Jeddah
3. Iblis di wilayah Irak (al-Ubullah)
4. ular di Isfahan.
Hikmah Perpisahan: Keterpisahan ini secara linguistik mendukung makna “permusuhan” (‘aduwwun) yang disebutkan dalam ayat, yang menuntut adanya perjuangan untuk kembali bersatu dalam ketaatan.
(Al-Bahr al-Muhith fi al-Tafsir)
Kesimpulan dari semua ini adalah Bahasa Al-Qur’an itu sempurna. Hanya dari satu kata perintah “Turunlah”, kita bisa melihat betapa tinggi tingkat Kalam kalam nya Allah. Al-Qur’an mampu menyatukan hukum, sejarah, perasaan (psikologi), dan keindahan rima dalam satu rangkaian kata pendek. Ini membuktikan bahwa Al-Qur’an bukanlah buatan manusia, melainkan wahyu dari Zat Yang Maha Mengetahui segalanya. Setiap hurufnya adalah mukjizat, dan setiap pilihannya adalah tanda kebesaran-Nya yang tak tertandingi.
Referensi Utama:
1.Abu Hayyan al-Andalusi, Al-Bahr al-Muhith fi al-Tafsir (Kajian Dialek dan Dhamir).
2.Ibnu Ashur, At-Tahrir wa At-Tanwir (Analisis Balaghah dan Struktur Huruf).
3.Syekh Muhyiddin ad-Darwisy, I’rabul Qur’anil Karim wa Bayanuhu (Analisis Sintaksis/I’rab).
Karya : Mujiburrohman
kuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan