Ramadhan di pesantren bukan sekadar pergantian jadwal makan dan tidur, melainkan momentum pendidikan ruhani. Di bulan inilah para santri dilatih untuk tidak hanya memperbanyak amal, tetapi juga memperbaiki niat dan membersihkan hati. Kajian kitab Arba‘un fi at-Tasawwuf mengingatkan bahwa inti ibadah bukan pada aspek lahiriah semata, melainkan pada kehidupan batin yang menyertainya.
Tasawuf, sebagaimana dijelaskan dalam kitab ini, bukanlah jalan yang menjauh dari syariat. Sebaliknya, ia adalah upaya menjaga agar syariat tidak kehilangan ruhnya. Shalat, puasa, dzikir, dan amal-amal lain akan terasa hampa jika tidak disertai kehadiran hati dan kesadaran akan Allah. Karena itu, Ramadhan menjadi madrasah terbaik untuk menghidupkan kembali makna tasawuf dalam kehidupan sehari-hari santri.
Salah satu pelajaran penting adalah tentang ikhlas. Santri diajak menyadari bahwa amal yang diterima bukan diukur dari banyaknya, tetapi dari lurusnya niat. Ikhlas bukan perkara mudah, sebab hati sering kali tergelincir pada keinginan dipuji, dianggap alim, atau merasa lebih baik dari yang lain. Melalui puasa, seorang santri dilatih untuk beramal dalam sunyi, hanya antara dirinya dan Allah.
Kitab ini juga menekankan pentingnya muraqabah, yakni perasaan diawasi oleh Allah setiap saat. Kesadaran ini melahirkan adab, kehati-hatian dalam ucapan, dan tanggung jawab dalam perbuatan. Santri yang memiliki muraqabah tidak hanya tertib di hadapan guru, tetapi juga jujur ketika sendirian. Inilah fondasi akhlak pesantren yang sejati.
Dalam konteks Ramadhan, tasawuf juga berbicara tentang tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa. Puasa menjadi sarana untuk menundukkan hawa nafsu, menahan amarah, menjaga lisan, dan mengikis penyakit hati seperti hasad, sombong, serta cinta dunia berlebihan. Santri diajak memahami bahwa musuh terbesar bukan di luar dirinya, melainkan nafsu yang tidak terkendali.
Konsep zuhud yang diajarkan para ulama tasawuf juga diluruskan. Zuhud bukan berarti membenci dunia atau meninggalkan tanggung jawab, tetapi menempatkan dunia di tangan, bukan di hati. Santri tetap belajar dengan sungguh-sungguh, berkhidmah dengan ikhlas, dan bercita-cita tinggi, namun tidak menjadikan dunia sebagai tujuan akhir.
Buah dari seluruh pendidikan tasawuf adalah akhlak. Santri yang benar dalam tasawuf akan semakin tawadhu’, lembut dalam bersikap, dan lapang dalam menghadapi perbedaan. Jika ibadah justru melahirkan sikap keras dan mudah menghakimi, maka ada yang perlu dibenahi dalam perjalanan ruhani tersebut.
Ramadhan mengajarkan pesan penting bagi dunia pesantren: bahwa keberhasilan ibadah tidak hanya diukur dari banyaknya amalan, tetapi dari sejauh mana hati menjadi lebih bersih dan akhlak menjadi lebih baik. Tasawuf hadir sebagai jalan menjaga agar ilmu, ibadah, dan kehidupan santri tetap berada di rel yang lurus menuju ridha Allah.
Oleh: Idris ziee
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan