Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, masyarakat Jawa memiliki tradisi yang telah berlangsung turun temurun, yaitu nyekar. Nyekar merupakan sebuah kata yang sudah menjadi istilah dalam masyarakat jawa, kata ini berakar dari kata “sekar” yang berarti bunga, karena pada umumnya kegiatan yang dilakukan, yaitu dengan menaburkan bunga pada saat berziarah kubur.
Kegiatan ini tidak hanya sekedar menjadi ritual budaya. Nyekar dilakukan dengan kegiatan berdoa, membaca tahlil, dan membersihkan area makam. Nyekar juga dimaknai sebagai momentum untuk melakukan refleksi diri mengingatkan bahwa kehidupan di dunia bersifat sementara. Dengan itu muncul lah dorongan untuk memperbaiki diri, meningkatkan kualitas ibadah, serta memperkuat niat dalam menjalani Ramadan.
Di berbagai daerah khususnya di Jawa Tengah, kegiatan ini masih terjaga. Selain mendoakan keluarga yang telah wafat, nyekar juga menjadi ajang mempererat silaturahmi antar anggota keluarga yang jarang bertemu.
Dengan demikian, nyekar tidak hanya mencerminkan kekayaan budaya dan keagamaan, melainkan membaur manjadi satu menghadirkan nilai yang tak tergantikan, serta dapat menjadi sarana pembinaan spiritual. Melalui tradisi ini, masyarakat diharapkan mampu menyambut Ramadan dengan hati yang lebih bersih, penuh kesadaran, dan kesiapan untuk meningkatkan ketaatan kepada Allah SWT.
Tradisi nyekar pada hakikatnya merupakan pertemuan antara dimensi budaya dan nilai-nilai religius yang hidup dalam masyarakat. Ia bukan sekadar kebiasaan turun-temurun tanpa makna, melainkan bagian dari kearifan lokal yang selaras dengan ajaran Islam tentang mengingat kematian (dzikrul maut). Ziarah kubur sendiri dalam Islam dianjurkan sebagai sarana untuk melembutkan hati dan mengingatkan manusia akan akhir kehidupan.
Secara spiritual, momentum nyekar sebelum Ramadan menjadi ruang persiapan batin. Ketika seseorang berdiri di hadapan makam orang tua atau leluhurnya, ia dihadapkan pada kenyataan kefanaan. Kesadaran ini menumbuhkan kerendahan hati, mengikis kesombongan, dan menghadirkan keinginan untuk memperbaiki hubungan dengan Allah maupun sesama manusia sebelum memasuki bulan penuh ampunan.
Pada akhirnya, nyekar menjadi simbol kesiapan lahir dan batin dalam menyongsong Ramadan. Ia mengajarkan bahwa menyambut bulan suci tidak cukup dengan persiapan fisik semata, tetapi juga dengan membersihkan hati, meluruskan niat, dan memperbaiki diri. Dengan tradisi ini, Ramadan diharapkan hadir bukan hanya sebagai rutinitas tahunan, melainkan sebagai momentum transformasi spiritual yang lebih mendalam.
Oleh : walid arbai
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan