Analisis linguistik ayat Al-Qur’an pada QS. Al-Kahfi: Ayat 72 dan 75
Al-Qur’an adalah mu’jizat paling agung nya Nabi Muhammad ﷺ. Semakin mendalami Al-Qur’an maka akan semakin terungkap juga rahasia rahasia kalimat yang terkandung didalamnya. Walaupun hanya satu-dua huruf pun sudah cukup membuat kita terkagum-kagum dengan makna yang terkandung di dalam nya
Seperti Perbedaan dua ayat dibawah ini:
QS. Al-Kahf: Ayat 72
قَالَ اَلَمْ اَقُلْ اِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيْعَ مَعِيَ صَبْرًا
Dia berkata, “Bukankah sudah aku katakan bahwa sesungguhnya engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku?”
QS. Al-Kahf: Ayat 75
۞ قَالَ اَلَمْ اَقُلْ لَّكَ اِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيْعَ مَعِيَ صَبْرًا
Dia berkata, “Bukankah sudah kukatakan kepadamu bahwa sesungguhnya engkau tidak akan mampu bersabar bersamaku?”
Imam Ibnu ‘Asyur menerangkan: Perbedaan dua ayat tersebut hanyalah tambahan 2 huruf yaitu “لَّكَ” (kepadamu) pada ayat 75. Yaitu jawaban Nabi Khidir ini mengikuti pola jawabannya yang terdahulu, hanya saja dalam ayat ini ia menambahkan kata (لَّكَ) “kepadamu”, yang merupakan penyebutan eksplisit terhadap objek (pihak yang diajak bicara yaitu Nabi Musa) dari kata kerja (أقل) “Aku berkata”.
Mengingat pihak yang diajak bicara (Nabi Musa) sebenarnya sudah diketahui dari konteks pembicaraan, maka penyebutan secara eksplisit tersebut berfungsi untuk mengukuhkan terjadinya perkataan tersebut, menetapkannya, serta memperkuat penekanannya ,dan faktor yang mendorong penekanan tersebut adalah karena Musa telah mengabaikan komitmen dari peringatan sebelumnya. Yaitu pada ayat:
QS. Al-Kahf: Ayat 73
قَالَ لَا تُؤَاخِذْنِيْ بِمَا نَسِيْتُ وَلَا تُرْهِقْنِيْ مِنْ اَمْرِيْ عُسْرًا
Dia (Musa) berkata, “Janganlah engkau menghukumku karena kelupaanku dan janganlah engkau membebaniku dengan kesulitan dalam urusanku.”
Maka huruf Lam (لك) ayat 75 tersebut adalah Lam At-Tabligh (Lam penyampaian). Yaitu huruf Lam yang menyertai nama atau kata ganti pendengar dalam sebuah ucapan atau yang semakna dengannya.
Hal itu dilakukan ketika pihak yang diajak bicara sebenarnya sudah diketahui dari konteksnya, sehingga penyebutan Lam tersebut berfungsi untuk menambah kekuatan perkataan dan meyakinkan sampainya pesan kepada pendengar. Itulah sebabnya ia dinamakan Lam At-Tabligh.
Tidakkah kalian perhatikan bahwa Lam tersebut tidak perlu disebutkan pada jawabannya yang pertama kali pada ayat 72:
قَالَ اَلَمْ اَقُلْ اِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيْعَ مَعِيَ صَبْرًا
Dia berkata, “Bukankah sudah aku katakan bahwa sesungguhnya engkau tidak akan sanggup bersabar bersamaku?”
Maka, penegasan (taqrir) dan pengingkaran (inkar) yang disertai penyebutan Lam pada ayat 75 (sebagai penghubung ucapan) terasa lebih kuat dan lebih tegas.
Alasan Nabi Musa mengingkari perbuatan Nabi Khidir
Di sini, Nabi Musa tidak lagi beruzur (beralasan) dengan lupa: Bisa jadi karena beliau memang tidak lupa، akan tetapi beliau lebih mengutamakan kewajiban mengingkari kemungkaran yang besar yaitu pembunuhan jiwa tanpa alasan yang benar di atas kewajiban memenuhi janji untuk diam atau bisa jadi beliau memang lupa، namun beliau enggan menggunakan alasan lupa lagi karena merasa tidak enak (merasa malu/canggung) jika harus mengulang-ulang alasan yang sama.
Apapun dari kedua kemungkinan tersebut (sengaja atau lupa)، Nabi Musa kemudian beralih mengambil inisiatif untuk menetapkan syarat yang dapat menenangkan hati Nabi Khidir; yaitu jika ia kembali bertanya tentang sesuatu yang tidak disukai oleh Nabi Khidir، maka ia sendiri yang memberikan hak kepada Khidir untuk tidak menemaninya lagi.
Penjelasan Nabi Muhammad ﷺ terhadap pengingkaran Nabi Musa
Dalam sebuah hadis dari Nabi ﷺ
كَانَتِ الأُولَى مِنْ مُوسَى نِسْيَانًا، وَالثَّانِيَةُ شَرْطًا
“Yang (pengingkaran) pertama dari Musa adalah karena lupa, sedangkan yang kedua adalah karena syarat (kesepakatan).” : Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya: dikutip dari kitab Al-Aiman wan Nudzur nomor hadis: 6672 .
Maka perkataan Nabi ﷺ tersebut mencakup kedua kemungkinan yang telah disebutkan sebelumnya, baik karena sengaja demi syariat atau karena malu mengulang uzur ,dan Nabi Musa bersikap adil ketika ia memberikan uzur bagi sahabatnya (Khidir) untuk tidak lagi menemaninya pada kali ketiga, demi menghindari situasi yang memalukan atau menyulitkan Nabi Khidir. (At-Tahrir Wat-Tanwir, 16/5-6)
Penulis: Mujiburrohman
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan