BANYUMAS – Di tengah derasnya arus otomasi digital, Ma’had Aly Andalusia Randegan, Kebasen, menjadi saksi diskusi krusial mengenai masa depan literasi dan jurnalisme. Pada Sabtu (11/4/2026), institusi ini menggelar seminar bertajuk “Memanfaatkan, Bukan Dimanfaatkan Artificial Intelligence (AI)”. Acara yang dimulai pukul 10.00 WIB tersebut membedah fenomena teknologi kecerdasan buatan yang kini mulai merambah ke “bilik-bilik” pesantren dan dunia akademik secara masif.
Direktur Mediamorphosis sekaligus jurnalis senior, Bapak Rujito, M.Sos, hadir sebagai pemateri utama dengan membawa keresahan mendalam mengenai pola interaksi mahasiswa saat ini terhadap teknologi. Ia melabeli ketergantungan berlebih pada AI sebagai “Musibah Luar Biasa.” Menurut Bapak Rujito sendiri, jika penggunaan teknologi ini tidak dibatasi oleh kesadaran intelektual, daya kritis mahasiswa terancam tumpul karena terbiasa mendapatkan jawaban instan tanpa melalui proses dialektika pemikiran yang mendalam.
Dalam pemaparannya, Bapak Rujito menekankan bahwa kendali utama tetap berada di tangan manusia melalui aspek teknis dan kontrol kualitas. Ia mengingatkan bahwa AI seringkali mengalami fenomena hallucination atau memberikan informasi yang tampak meyakinkan namun sebenarnya salah secara faktual. Oleh karena itu, pengguna wajib memiliki Back of Knowledge yang kuat serta kemampuan menyusun prompt atau perintah yang detail menggunakan prinsip 5W+1H agar output yang dihasilkan tetap akurat.
Sektor penyuntingan juga menjadi sorotan penting dalam diskusi tersebut. Bapak Rujito menjelaskan bahwa produk tulisan yang sepenuhnya diserahkan kepada AI seringkali kehilangan “ruh” dan rasa bahasa. Ia mencontohkan bagaimana judul-judul berita buatan AI cenderung terasa kaku atau dalam istilah lokal disebut “wagu.” Penyuntingan manual oleh manusia tetap menjadi syarat mutlak untuk memastikan tulisan memiliki estetika dan kedekatan emosional dengan pembaca.
Lebih lanjut, seminar ini menyentuh filosofi mendasar dalam dunia literasi. Peserta diingatkan bahwa menulis sejatinya adalah upaya memenuhi kebutuhan pembaca, bukan sekadar menggugurkan kewajiban. Bapak Rujito menegaskan sebuah premis klasik yang tetap relevan di era digital: menjadi pembaca yang baik adalah syarat mutlak dan tidak bisa ditawar jika seseorang ingin menjadi penulis yang berkualitas, meski dibantu oleh teknologi secanggih apa pun.
Sesi tanya jawab berkembang dinamis ketika membahas disrupsi jurnalistik. AI diakui telah mendisrupsi otoritas informasi secara global, di mana kecepatan sering kali mengabaikan kedalaman. Di masa depan, diprediksi hanya mereka yang memiliki kedalaman ilmu dan integritas datalah yang mampu bertahan di tengah kepungan konten hasil generatif mesin yang semakin seragam.
Bagi ekosistem pesantren seperti Ma’had Aly, strategi untuk tetap relevan (stay relevant) adalah dengan memahami standar dunia luar tanpa menanggalkan tradisi keilmuan klasik. Mahasantri didorong untuk melihat perbandingan antara kurikulum Ma’had Aly dengan kampus luar sebagai pemacu kualitas. Selain itu, terkait privasi, audiens diberikan peringatan tegas untuk tetap waspada dengan tidak membagikan data sensitif yang tidak ingin dipublikasikan secara luas kepada sistem AI.
Sebagai penutup yang reflektif, sebuah pesan kuat ditinggalkan untuk para peserta:
“Hal-hal baik tidak akan jadi apa-apa kalau tidak diapa-apain. Jika kita tidak mengupayakan kebaikan, maka saat itu kita sedang mengupayakan keburukan.”
Pesan ini menjadi pengingat bahwa kehadiran AI adalah momentum bagi manusia untuk lebih aktif mengelola potensi diri, bukan justru menjadi pasif dan tergilas oleh kemajuan zaman.
Penulis: Mujiburrohman
DOKUMENTASI








Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan