Andalusia kini tak hanya dikenal sebagai pusat pendidikan dan spiritualitas, tetapi juga sebagai surganya kuliner bagi para santri dan masyarakat sekitar. Suasana kawasan kuliner di sekitar pondok biasanya mulai ramai saat jam pulang sekolah dan setelah kegiatan diniyah selesai. Para santri berbondong-bondong mendatangi lapak dan ruko jajanan untuk membeli makanan favorit mereka, mulai dari seblak, gorengan, minuman segar, hingga mie ayam. Aroma jajanan yang baru dimasak bercampur dengan suara para pembeli menciptakan suasana hangat yang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di Andalusia.
Di sepanjang jalan sekitar pondok, terlihat para pedagang sibuk melayani pembeli yang datang silih berganti. Ada yang sibuk mengaduk seblak di atas wajan panas, membungkus gorengan, hingga menyiapkan minuman dingin untuk para santri yang baru selesai beraktivitas. Meski sederhana, suasana itu selalu menghadirkan keramaian tersendiri bagi siapa saja yang melewatinya.
Sejak sekitar tahun 2019, geliat kuliner di kawasan Andalusia mulai tumbuh pesat. Berkat izin dan bimbingan langsung dari Abah, para pedagang makanan, baik yang membuka lapak sederhana maupun menyewa ruko di sekitar pondok, mendapat tempat yang layak untuk mengembangkan usahanya. Lapak-lapak jajanan itu perlahan menjadi tempat yang akrab bagi para santri.
Salah satu pedagang mengatakan bahwa para penjual di sekitar Andalusia juga tergabung dalam Paguyuban Pedagang Andalusia yang rutin berkumpul setiap hari Jumat bersama Abah. Dalam pertemuan tersebut, mereka membahas berbagai hal terkait makanan yang dijual kepada santri.
“Biasanya kami kumpul hari Jumat sama Abah. Dibahas soal jualan juga, termasuk makanan yang boleh dijual buat santri,” ujar salah satu pedagang. Dari pertemuan tersebut, tumbuh kesadaran bersama akan pentingnya menjaga kualitas, kebersihan, dan keberkahan dalam setiap makanan yang dijual.
Dulu, jumlah pedagang di sekitar Andalusia tidak sebanyak sekarang. Pilihan makanan pun masih terbatas. Namun, seiring berjalannya waktu, jumlah pedagang terus bertambah dan variasi makanan semakin beragam. Kondisi ini membuat kawasan Andalusia terasa seperti pusat kuliner kecil yang selalu ramai dengan berbagai pilihan makanan.
Bagi para pedagang, keberadaan santri menjadi sumber utama ramainya pembeli. Aktivitas usaha mereka pun sangat bergantung pada kegiatan pondok. Saat santri aktif belajar dan menjalani kegiatan sehari-hari, kawasan kuliner selalu ramai. Sebaliknya, ketika masa libur tiba, sebagian pedagang memilih ikut berhenti sementara karena pembeli jauh berkurang.
“Kalau nggak ada santri, kan sepi, paling cuma ada beberapa. Jadi, kalau santri libur, ya saya libur juga, hehe,” ujar salah satu penjual jajanan saat ditanya mengapa ia memilih tidak berdagang saat libur santri.
Meski begitu, para pedagang tetap merasa bersyukur karena kehadiran Andalusia membawa dampak ekonomi yang besar bagi masyarakat sekitar.
“Daripada nggak ngapa-ngapain di rumah, ya coba jualan. Alhamdulillah ternyata ramai dan bisa bantu ekonomi keluarga,” ujar salah satu pedagang lainnya.
Semakin berkembangnya kuliner di Andalusia juga membuat para pedagang terus berinovasi. Berbagai jenis makanan baru bermunculan untuk menarik perhatian para santri. Tak sedikit santri yang justru bingung menentukan pilihan karena begitu banyak jajanan yang tersedia.
Beberapa jajanan bahkan telah menjadi legenda tersendiri di kalangan santri dan alumni. Nama-nama seperti Soyam Ambon, Seblak Sebelah Pondok, dan Mie Ayam Bu Sari bukan lagi sekadar tempat membeli makanan, tetapi juga bagian dari kenangan masa mondok mereka. Banyak alumni yang kembali datang ke Andalusia hanya untuk mencicipi kembali makanan favorit yang dulu sering mereka beli.
Tak jarang, para alumni yang berkunjung melontarkan pertanyaan penuh rindu seperti, “Pengin Soyam Ambon, kangeen!! Masih ada gasii? Masih jualan gasii?” Kalimat sederhana itu menunjukkan bahwa jajanan di Andalusia telah menjadi bagian dari memori dan nostalgia yang sulit dilupakan.
Bagi para santri, tempat-tempat jajanan itu bukan hanya lokasi membeli makanan. Di sana, mereka bercengkerama dengan teman dan melepas penat setelah belajar. Kehangatan suasana itulah yang membuat kawasan kuliner Andalusia terasa istimewa.
Dengan suasana kuliner yang hidup dan penuh kebersamaan, Andalusia tak hanya menjadi tempat mencari ilmu, tetapi juga tempat tumbuhnya usaha dan kenangan bagi para santri maupun masyarakat sekitar.
Oleh: Syifa Sabrina Amalia
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial









Tinggalkan Balasan