Jam empat pagi menjadi awal dari kehidupan seorang abdi ndalem. Saat sebagian besar orang masih terlelap dalam tidurnya, Eti Asrini salah satu santri yang mengabdi, dirinya mulai bangun dan mempersiapkan aktivitas. Suasana dini hari yang tenang, udara yang dingin, serta langkah kaki kecil yang mulai berjalan menuju berbagai pekerjaan perlahan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Menjadi abdi ndalem bukan hanya tentang membantu pekerjaan di ndalem, tetapi juga belajar menjalani hidup dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Kehidupan seorang abdi ndalem sangat berbeda dengan mahasantri lain pada umumnya. Waktu yang lebih banyak digunakan untuk membantu kebutuhan ndalem, dengan diimbangi menjalani kegiatan sebagai mahasantri yang harus melaksanakan berbagai tanggung jawabnya di setiap harinya.
Meski aktivitas yang dijalani cukup padat, banyak abdi ndalem tetap merasa bahagia menjalani pengabdian tersebut. Sebab di balik kesibukan itu ada banyak pelajaran hidup yang perlahan tumbuh dalam diri. Pengabdian mengajarkan arti disiplin, tanggung jawab, kesederhanaan, serta rasa hormat kepada guru.
Salah satu sosok yang menjadi inspirasi dalam kehidupan pengabdian adalah Eti Asrini, mantan abdi ndalem asal Palembang. Selama menjalani pengabdian dan menjadi mahasantri, beliau sangat jarang pulang ke kampung halamannya karena fokus menjalani khidmah di ndalem. Jarak yang jauh antara Palembang dan tempat pengabdian tidak membuat beliau menyerah atau meninggalkan tanggung jawabnya sebagai seorang pengabdi.
Kehidupan Eti Asrini dipenuhi dengan berbagai kesibukan setiap harinya. Namun semua itu dijalani dengan penuh ketulusan dan kesabaran. Dari pengabdian tersebut beliau belajar tentang arti mahabbah kepada guru, tentang bagaimana menjalani kehidupan dengan penuh adab, dan tentang keberkahan yang hadir melalui pengabdian.
Banyak orang menganggap kehidupan abdi ndalem terasa berat karena harus bangun pagi, menjalani banyak aktivitas, dan mengorbankan waktu pribadi. Akan tetapi, para pengabdi justru menemukan banyak kebahagiaan di dalamnya. Ada ketenangan hati ketika bisa membantu guru, ada rasa nyaman ketika berada di lingkungan ndalem, dan ada kebersamaan hangat yang tumbuh di antara para pengabdi.
Di tengah kesibukan sehari-hari, para abdi ndalem juga belajar saling membantu satu sama lain. Canda sederhana saat bekerja, makan bersama setelah aktivitas panjang, hingga berbagi cerita ketika malam hari menjadi bagian kecil yang justru paling membekas dalam ingatan. Kehidupan seperti itu membuat hubungan antar pengabdi terasa seperti keluarga sendiri.
Kisah Eti Asrini kemudian menjadi cerita yang banyak dikenal di lingkungan ndalem. Setelah menyelesaikan masa pengabdiannya dan menjadi mahasantri, Eti Asrini kemudian di nikahi oleh seorang gus dari Purworejo yang merupakan salah satu santri sarang Rembang Jawa Tengah. Kisah tersebut membuat banyak orang percaya bahwa pengabdian yang dijalani dengan tulus akan membawa keberkahan hidup yang indah pada waktunya.
Setelah Eti Asrini menikah dan menyelesaikan pengabdiannya, posisinya kemudian digantikan olehku. Awalnya aku merasa takut dan khawatir tidak bisa menjalani semuanya dengan baik seperti Eti Asrini. Aku berpikir bahwa menjadi abdi ndalem membutuhkan kesabaran dan kekuatan yang besar. Namun perlahan aku mulai belajar memahami kehidupan pengabdian sedikit demi sedikit.
Hari-hariku mulai dipenuhi rutinitas yang berbeda dari sebelumnya. Bangun sebelum subuh, membantu berbagai pekerjaan, lalu menjalani kegiatan sebagai mahasantri menjadi bagian dari keseharianku. Meski terkadang tubuh merasa lelah, aku justru merasa bahagia karena bisa berada dekat dengan guru dan lingkungan ndalem setiap hari.
Sedikit demi sedikit aku mulai memahami mengapa banyak orang bertahan dalam pengabdian. Ternyata kebahagiaan seorang abdi ndalem bukan berasal dari hidup yang mudah, tetapi dari hati yang merasa cukup dan penuh syukur. Ada rasa tenang yang sulit dijelaskan ketika bisa menjalani khidmah dengan ikhlas.
Menjadi abdi ndalem juga membuat rasa mahabbah kepada guru tumbuh semakin dalam. Dari pengabdian itu aku belajar bahwa menghormati guru bukan hanya melalui ucapan, tetapi juga melalui tindakan dan kesungguhan dalam membantu. Kedekatan dengan guru menghadirkan banyak pelajaran hidup yang tidak selalu bisa ditemukan di dalam kelas.
Aku juga merasa bahwa kehidupan pengabdian membawa banyak keberkahan dalam hidupku. Waktu terasa lebih bermanfaat, hati menjadi lebih tenang, dan aku belajar menjalani hidup dengan lebih sederhana. Hal-hal kecil yang dulu sering ku abaikan kini justru terasa sangat berarti. Meskipun terkadang ada rasa lelah karena aktivitas yang cukup padat, semua itu terasa ringan ketika dijalani dengan hati yang ikhlas. Aku percaya bahwa setiap langkah kecil dalam pengabdian selalu memiliki nilai di sisi Allah.
Kini aku mulai memahami bahwa menjadi abdi ndalem bukan sekadar menjalani rutinitas harian. Pengabdian adalah perjalanan untuk belajar menjadi pribadi yang lebih baik. Belajar sabar ketika lelah datang, belajar ikhlas tanpa mengharap pujian, dan belajar mencintai guru dengan penuh hormat.
Dari Eti Asrini aku belajar bahwa setiap pengabdian selalu memiliki cerita baik dan keberkahan yang tidak disangka, sangka. Semua proses yang dijalani dengan tulus pada akhirnya akan menghadirkan kebaikan pada waktunya.
Jika boleh berharap, aku ingin selalu diberi kesempatan untuk terus mengabdi kepada guru. Sebab di jalan pengabdian inilah aku menemukan banyak pelajaran hidup, ketenangan hati, dan kebahagiaan yang sederhana. Di balik pagi yang sunyi dan kesibukan setiap hari, ternyata ada begitu banyak keberkahan yang perlahan tumbuh tanpa disadari.
Oleh : Elok Nailun Nihayati
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial









Tinggalkan Balasan