Sembilan puluh dua tahun yang lalu, tepatnya pada 1 Januari 1934 di Padang, sebuah manuskrip penting lahir dari buah pikiran seorang intelektual muda muslim yang kelak dikenal sebagai salah satu dari Trimurti pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor. Beliau adalah KH. Zainuddin Fananie.

Buku yang awalnya bertajuk asli Pengetahoean tentang Karang-Mengarang dan Jurnalistik ini kini diterjemahkan kembali menggunakan bahasa yang kekinian dan sesuai dengan KBBI dengan judul: Jurnalistik ala Kiai Gontor.

Membaca ulang karya legendaris ini bukan sekadar romantisasi sejarah, melainkan sebuah upaya merefleksikan kembali visi besar seorang ulama yang melampaui zamannya dalam meletakkan batu pertama kesadaran media di kalangan umat Islam Indonesia.
Literasi dari Nol: Mudah, Taktis, dan Membumi
Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada pendekatan metodologisnya yang sangat membumi. Kiai Zainuddin tidak terjebak pada diktum teori komunikasi modern yang rumit. Beliau mengenalkan dasar-dasar menulis dan literasi dengan formula yang sangat gampang dipahami.
Buku ini menuntun pembaca secara runtut:
• Membangun Fondasi: Menanamkan kesadaran bahwa tradisi menulis dan literasi adalah indikator utama maju-mundurnya suatu bangsa.
• Praktik Langsung: Memberikan panduan praktis tata cara menulis dari nol.
Bagi Kiai Zainuddin, menulis adalah pekerjaan ruhani yang tampak dalam wujud jasmani. Yang dimaksud ruhani yaitu beberapa pikiran/pandangan. Sedangkan yang dimaksud jasmani adalah perkataan-perkataan dan tulisan.
Kegelisahan Zaman dan Visi Memajukan Bangsa
Untuk memahami urgensi buku ini, kita harus menarik mesin waktu ke tahun 1934—masa di mana Indonesia masih berada di bawah cengkeraman kolonialisme. Secara faktual, bangsa kita saat itu tertinggal jauh dari bangsa-bangsa lain, terutama dalam hal akses informasi dan tingkat melek huruf. Masyarakat belum sadar betapa vitalnya peran literasi sebagai motor penggerak kemajuan.
Melihat realitas pahit tersebut, Kiai Zainuddin Fananie menulis buku ini dengan misi yang jelas: memajukan bangsa Indonesia, terkhusus kaum muslimin. Beliau sadar betul bahwa perjuangan fisik harus diimbangi dengan perjuangan intelektual. Melalui media cetak dan keterampilan jurnalistik, umat Islam bisa disadarkan akan hak-haknya, meluruskan propaganda, dan merajut persatuan nasional.
Jurnalistik sebagai “Nutrisi Otak” dan Tanggung Jawab Moral
Salah satu analogi paling memikat yang digagas oleh Kiai Zainuddin dalam buku ini adalah perumpamaan tentang fungsi baca-tulis:
“Tradisi baca-tulis dan jurnalistik merupakan profesor yang memberi nutrisi gizi bagi otak dengan berbagai macam hal, yakni pengetahuan, kecerdasan, etika, moral, mental, dan seterusnya. Karena itu, tugas dan tanggung jawab para penulis dan jurnalis ini sangat berat dan butuh dedikasi yang tinggi. Kenapa demikian? Karena mereka harus memikirkan cara, metode, dan strategi untuk membawa dan membimbing masyarakat menuju kemajuan, kesadaran, keinsafan, dan kebahagiaan.”
Dari metafora tersebut, ada dua poin reflektif yang bisa kita bedah:
1. Memberi “makan” Otak Melalui Literasi
Manusia sering kali hanya fokus memberi makan fisiknya, tetapi lupa bahwa akal dan jiwanya juga bisa kelaparan. Jika tubuh membutuhkan karbohidrat dan protein, maka otak membutuhkan “nutrisi” berupa tradisi baca-tulis dan jurnalistik yang sehat. Nutrisi inilah yang membentuk kecerdasan, ketajaman mental, serta kematangan etika sebuah bangsa.
2. Seni Memahamkan Orang Lain
Menulis jurnalistik melatih otak kita bekerja dua kali lebih keras. Mengapa? Karena memahami sebuah kebenaran untuk diri sendiri itu mudah, tetapi memikirkan metode, strategi, dan menyusun kalimat untuk memahamkan masyarakat jauh lebih sulit. Di sinilah letak dedikasi tinggi seorang jurnalis; mereka adalah jembatan yang membawa masyarakat dari kegelapan menuju cahaya terang benderang
Kesimpulan
Buku Jurnalistik ala Kiai Gontor (atau Pengetahoean tentang Karang-Mengarang dan Jurnalistik) adalah sebuah warisan intelektual yang tidak lekang oleh waktu. KH. Zainuddin Fananie telah mencontohkan bahwa seorang kiai tidak hanya piawai mengajar kitab kuning di atas karpet pesantren, tetapi juga harus tajam menggoreskan pena di atas mesin tik jurnalistik.
Buku ini wajib dibaca oleh para santri, aktivis, jurnalis, dan siapa saja yang percaya bahwa kata-kata memiliki kekuatan untuk mengubah dunia. Di era digital saat ini, ketika “nutrisi otak” kita sering kali tercemar oleh hoaks dan informasi sampah. Maka prinsip-prinsip dasar jurnalistik yang diwariskan oleh Kiai Zainuddin Fananie justru menjadi semakin relevan untuk kita pegang teguh.
Lampiran Manuskrip






Penulis: Mujiburrohman
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial









Tinggalkan Balasan