Banyumas, 25 Mei 2026 — Salah satu momen yang paling menyentuh dalam rangkaian Pengajian Akbar dan Haul Al-Maghfurlah K.H. Maimoen Zubair di Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy 2 Andalusia adalah saat dilantunkannya qasidah Sa’duna Fiddunya. Lantunan syi’ir yang menggema di tengah majelis tersebut sukses menghadirkan suasana haru, khidmat, dan penuh ketenangan spiritual di antara para jamaah yang hadir.
Qasidah Sa’duna Fiddunya memang bukan syi’ir yang asing di kalangan santri dan pecinta selawat. Syair yang berisi tawasul dan pujian kepada Sayyidah Khadijah Al-Kubra serta Sayyidah Fatimah Az-Zahra itu dikenal luas sebagai salah satu qasidah yang sangat dicintai Al-Maghfurlah K.H. Maimoen Zubair atau Mbah Moen semasa hidupnya.
Dalam berbagai kesempatan pengajian di Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, qasidah tersebut bahkan kerap dilantunkan sebelum maupun sesudah pengajian beliau. Bagi Mbah Moen, Sa’duna Fiddunya bukan sekadar syair biasa, melainkan bentuk mahabbah kepada Ahlul Bait serta ungkapan cinta kepada perjuangan Sayyidah Khadijah dalam mendampingi dakwah Rasulullah SAW.
Lantunan bait: “Sa’duna fiddunya fauzuna fil ukhro, bi Khodijatal kubro wa Fathimatiz zahro…” yang berarti “Kebahagiaan kami di dunia, keberuntungan kami di akhirat, sebab Khadijah Al-Kubra dan Fatimah Az-Zahra” terdengar menggema memenuhi area majelis haul. Tidak sedikit jamaah yang tampak larut dalam kekhusyukan saat syi’ir tersebut dibacakan.
Kecintaan Mbah Moen terhadap qasidah ini memang dikenal begitu mendalam. Beliau kerap meminta para santri melantunkannya dalam berbagai majelis ilmu. Bahkan, dalam beberapa kesempatan, Mbah Moen disebut sering memejamkan mata dan meneteskan air mata ketika mendengarkan syi’ir tersebut dilantunkan dengan penuh penghayatan.
Bagi banyak santri, qasidah Sa’duna Fiddunya seakan telah menjadi bagian dari identitas spiritual Mbah Moen. Terlebih setelah wafatnya beliau di Makkah Al-Mukarramah pada 6 Agustus 2019 dan dimakamkan di Pemakaman Ma’la, lokasi yang sama dengan makam Sayyidah Khadijah Al-Kubra. Peristiwa tersebut sering dianggap sebagai bentuk kemuliaan dan jawaban atas mahabbah serta tawasul yang selalu beliau panjatkan semasa hidup.
Momentum pembacaan syi’ir dalam haul di Andalusia ini bukan hanya menjadi bagian hiburan religi semata, melainkan juga media refleksi bagi para santri untuk mengenang keteladanan Mbah Moen dalam mencintai ilmu, ulama, dan keluarga Rasulullah SAW. Suasana majelis terasa semakin syahdu ketika lantunan qasidah berpadu dengan doa dan dzikir yang mengiringi acara haul.
Melalui pembacaan qasidah Sa’duna Fiddunya tersebut, para jamaah seolah kembali diingatkan bahwa warisan terbesar Mbah Moen bukan hanya ilmu dan perjuangan dakwahnya, tetapi juga teladan mahabbah kepada Rasulullah SAW dan Ahlul Bait. Nilai-nilai spiritual itulah yang hingga kini terus hidup di tengah masyarakat, pesantren, dan generasi santri Indonesia.
Oleh : Akhil Akhila
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial









Tinggalkan Balasan