Pondok Bukan Tempat Pelarian atau Lembaga Rehabilitasi, Orang Tua Wajib Paham!

Pondok Bukan Tempat Pelarian atau Lembaga Rehabilitasi, Orang Tua Wajib Paham!

Pondok pesantren merupakan tempat yang sangat mulia. Di dalamnya terdapat nilai-nilai pendidikan yang sangat penting. Lebih dari itu, pondok pesantren tidak hanya menjadi sarana untuk belajar agama, tetapi juga menjadi tempat pembentukan mental, karakter, dan kemandirian yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pondok pesantren adalah salah satu titik sentral peradaban di negeri ini. Tidak sedikit tokoh-tokoh besar yang pernah hidup dan menimba ilmu di balik dinding-dinding pesantren yang telah berdiri kokoh melintasi zaman. Bahkan, pesantren sering disebut sebagai paku bumi yang menjaga bangsa melalui doa-doa yang dipanjatkan para santri kepada Sang Pencipta.

Namun, pada kenyataannya, akhir-akhir ini pondok pesantren kerap dijadikan sebagai tempat untuk merehabilitasi anak-anak yang dianggap nakal, anak jalanan, ataupun sebagai tempat penitipan anak-anak yang berasal dari keluarga yang sedang mengalami masalah, seperti broken home. Bukan berarti pondok tidak menerima mereka, akan tetapi apabila seorang anak telah memiliki trauma psikologis akibat permasalahan yang dialaminya, hal tersebut dapat memengaruhi proses tafaqquh fid din (mendalami ilmu agama), baik terhadap dirinya sendiri maupun terhadap lingkungan sekitarnya.

Terlebih lagi apabila anak tersebut masuk ke pondok bukan atas kemauan dirinya sendiri, melainkan karena paksaan atau pelarian dari masalah keluarga. Kondisi semacam ini tentu berpotensi menimbulkan persoalan yang lebih kompleks dalam proses pendidikan yang sedang dijalani.

Hal inilah yang perlu menjadi perhatian bersama. Pondok pesantren pada hakikatnya adalah tempat menuntut ilmu dan membentuk karakter, bukan lembaga yang secara khusus menangani pemulihan kondisi psikologis. Dalam beberapa kasus, misalnya pada anak yang memiliki gangguan perilaku (conduct disorder), perilaku negatif yang dilakukan terkadang dapat memengaruhi teman-temannya sehingga mengganggu iklim pendidikan dan pembelajaran di lingkungan pesantren.

Dalam persoalan seperti ini, bukan hanya pondok pesantren yang memikul tanggung jawab. Orang tualah yang memiliki tanggung jawab utama terhadap pendidikan dan perkembangan anak. Bagaimanapun bentuk dan setinggi apa pun jenjang pendidikan yang ditempuh, orang tua tetap menjadi pihak yang bertanggung jawab secara penuh. Adapun pondok pesantren hanyalah mitra dan wasilah (perantara) dalam membantu mendidik anak.

Mengirimkan anak ke pondok pesantren seharusnya dilandasi niat untuk tafaqquh fid din, memperdalam ilmu agama, serta membentuk karakter Islami. Harapannya, anak dapat kembali ke tengah keluarga dan masyarakat dengan membawa nilai-nilai pesantren yang bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain, bukan sekadar menjadikan pondok sebagai tempat pelarian dari berbagai persoalan yang belum terselesaikan.

Oleh karena itu, perlu adanya dukungan lahir dan batin antara kedua belah pihak, yaitu orang tua dan pihak pondok pesantren. Sinergi yang baik antara keduanya akan membantu memaksimalkan proses pendidikan yang dijalani anak dan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan mereka di masa depan.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

JURNALISTIK MA’HAD ALY ANDALUSIA

Jurnalistik Ma’had Aly Andalusia telah mempublish Website “Kompas walimah”

Komunitas penerjemah, Syu’aro dan wadah literasi mahsantri

merupakan placement bagi karya digital Mahasantri Ma’had Aly Andalusia

dikelola Tim Jurnalistik Ma’had Aly Andalusia

MA’HAD ALY ANDALUSIA

Lembaga pendidikan tinggi  pesantren yang terletak di Jln. Ditowongso, Dsn. Leler, Randegan, Kebasen, Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia, 53172

Didirikan Oleh Syaikuna KH. Zuhrul Anam Hisyam

الأخبار اليومية