Shalat atau Puasa: Manakah yang Lebih Utama?(Ringkasan Kajian Bersama Syaikh Mahmud Abdul Hamid Ali Yasin Al-Azhari, Dosen Ma’had Aly Andalusia, dalam Kitab Madarikul Maram fi Masaliki Shiyam)

Shalat atau Puasa: Manakah yang Lebih Utama?(Ringkasan Kajian Bersama Syaikh Mahmud Abdul Hamid Ali Yasin Al-Azhari, Dosen Ma’had Aly Andalusia, dalam Kitab Madarikul Maram fi Masaliki Shiyam)

Dalam tradisi keilmuan Islam, pembahasan mengenai keutamaan suatu ibadah merupakan bagian dari khazanah intelektual yang kaya dan mendalam. Salah satu pertanyaan yang sering mengemuka adalah: manakah yang lebih utama antara shalat dan puasa?

Pertanyaan ini dibahas dalam kajian bersama Syaikh Mahmud Abdul Hamid Ali Yasin Al-Azhari, dosen Ma’had Aly Andalusia, yang merujuk pada kitab Madarikul Maram fi Masaliki Shiyam. Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa para ulama memiliki perbedaan pandangan terkait keutamaan dua ibadah agung ini.

Secara umum, terdapat tiga pendapat utama yang berkembang di kalangan ulama.

Pendapat Pertama: Shalat Lebih Utama
Mayoritas ulama berpendapat bahwa shalat lebih utama dibandingkan puasa. Argumentasi mereka didasarkan pada keluasan makna dan kandungan ibadah dalam shalat.

Di dalam shalat terkumpul berbagai bentuk ibadah, seperti:

  • Membaca Al-Qur’an
  • Dzikir dan doa
  • Ketundukan fisik melalui rukuk dan sujud
  • Kewajiban bersuci (thaharah)
  • Menahan diri dari makan, minum, dan berbicara selama pelaksanaannya

Dengan demikian, shalat dinilai menghimpun unsur-unsur ibadah yang beragam dalam satu rangkaian yang utuh. Bahkan terdapat unsur “menahan diri” sebagaimana dalam puasa. Sementara dalam puasa, tidak seluruh unsur shalat terkandung di dalamnya.

Selain itu, shalat memiliki kedudukan fundamental sebagai tiang agama dan menjadi amalan pertama yang akan dihisab pada hari kiamat. Hal ini semakin menguatkan pandangan bahwa shalat memiliki keutamaan yang sangat besar.,

Pendapat Kedua: Puasa Lebih Utama
Sebagian ulama berpendapat bahwa puasa lebih utama. Mereka merujuk pada hadist qudsi yang menyatakan bahwa Allah berfirman:
قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
Artinya:
“Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya ia untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”(HR. Bukhari dan Muslim)
Penyandaran ibadah puasa secara khusus kepada Allah menunjukkan kemuliaan dan keistimewaan yang tidak disebutkan secara serupa pada ibadah lainnya.
Dalam hadis lain disebutkan:
عَلَيْكُمْ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَا مِثْلَ لَهُ
Artinya:
“Hendaklah kalian berpuasa, karena tidak ada yang sebanding dengannya.”(HR. An-Nasa’I )
Puasa memiliki dimensi spiritual yang sangat kuat. Ia melemahkan syahwat, mengendalikan hawa nafsu, serta membentuk jiwa agar lebih tunduk dan taat kepada Allah. Karena sifatnya yang lebih tersembunyi, puasa juga sangat berkaitan dengan keikhlasan dan kejujuran seorang hamba.

Pendapat Ketiga: Keutamaan Bersifat Kontekstual
Pendapat ketiga menyatakan bahwa keutamaan antara shalat dan puasa dapat bersifat kontekstual. Sebagian ulama menyebutkan bahwa shalat lebih utama di Makkah, sedangkan puasa lebih utama di Madinah. Hal ini dikaitkan dengan beberapa pertimbangan, di antaranya:

  • Perintah shalat turun saat Nabi Muhammad saw. berada di Makkah.
  • Perintah puasa Ramadan turun ketika beliau telah berada di Madinah.
  • Shalat di Masjidil Haram memiliki keutamaan yang sangat besar, bahkan dilipatgandakan dibandingkan shalat di tempat lain.
    Hal ini sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
    صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ
    Artinya:
    “Shalat di masjidku ini (Masjid Nabawi) lebih utama daripada seribu shalat di masjid lainnya, kecuali Masjidil Haram.”(HR. Bukhari dan Muslim)
    Dalam riwayat lain disebutkan:
    وَصَلَاةٌ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ
    Artinya:
    “Dan shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada seratus ribu shalat di tempat lainnya.”(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Pendekatan ini menunjukkan bahwa konteks sejarah dan tempat juga menjadi bagian dari pertimbangan dalam memahami keutamaan ibadah.
Perbedaan pendapat tentang keutamaan shalat dan puasa sejatinya tidak dimaksudkan untuk mempertentangkan dua ibadah agung tersebut. Sebaliknya, hal itu menunjukkan keluasan pandangan ulama dalam memahami dalil dan merumuskan hukum. Perbedaan adalah bagian dari tradisi intelektual Islam yang kaya dan argumentatif.
Shalat dan puasa memiliki karakteristik yang berbeda. Shalat menjaga hubungan vertikal secara langsung dan rutin dengan Allah, sementara puasa melatih pengendalian diri serta keteguhan hati dalam rentang waktu yang panjang. Keduanya saling melengkapi dalam membentuk pribadi yang bertakwa.
Sebagaimana diringkas dalam Madarikul Maram fi Masaliki Shiyam, kedua ibadah ini merupakan jalan menuju kedekatan kepada Allah. Maka yang terpenting bukan memperdebatkan keutamaannya, melainkan menjaga kualitas dan keikhlasan dalam mengamalkannya.

oleh: syifa sabrina

Tags

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

JURNALISTIK MA’HAD ALY ANDALUSIA

Jurnalistik Ma’had Aly Andalusia telah mempublish Website “Kompas walimah”

Komunitas penerjemah, Syu’aro dan wadah literasi mahsantri

merupakan placement bagi karya digital Mahasantri Ma’had Aly Andalusia

dikelola Tim Jurnalistik Ma’had Aly Andalusia

MA’HAD ALY ANDALUSIA

Lembaga pendidikan tinggi  pesantren yang terletak di Jln. Ditowongso, Dsn. Leler, Randegan, Kebasen, Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia, 53172

Didirikan Oleh Syaikuna KH. Zuhrul Anam Hisyam

الأخبار اليومية