Suara riuh rendah tawa santri pecah di sela kesibukan merangkai bambu dan mengecat ornamen di sudut Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy 2 Andalusia. Menjelang hari besar pada 18 Juni 2026, suasana pondok berubah .
Tempat yang biasanya sunyi dengan suara lalaran hafalan dari para santri,kini berubah menjadi tempat berkreatifitas nya para santri Andalusia. Para santri sedang sibuk-sibuknya menyiapkan diri menyambut Karnaval Haflah Akhirussanah ke-13, sebuah agenda tahunan yang selalu dinanti bukan hanya oleh warga pondok, tapi juga masyarakat Leler dan sekitarnya.
Di sudut ruang SAPRAS (Sarana dan Prasarana) yang baru saja dibersihkan, terlihat Hana L sedang sibuk mengecek berbagai Kardus dan logistik dekorasi. Wajahnya tampak serius namun tetap santai. Sebagai bagian dari seksi Perlengkapan, Hana memikul tanggung jawab besar untuk memastikan semua kebutuhan teknis terpenuhi.
“Jujur, karena aku baru pertama kali jadi tim perlengkapan, kita lagi coba cari metode baru supaya kerjanya lebih rapi dan enak dijalani. Soalnya tugas perlengkapan ini kan lumayan berat, jadi butuh alur yang lebih kondusif dan biar lebih tertata lagi,” ujar Hana sambil menata kardus didepanya.
Baginya, mengurus logistik bukan sekadar angkat-angkat barang, tapi soal manajemen waktu dan ketelitian agar tidak ada satu paku pun yang terlewat saat hari-H nanti.
Inovasi di Balik Tema Besar
Tahun ini, Karnaval Andalusia tidak main-main dalam menentukan arah geraknya.dari panitia mereka mengambil tema:
“Menebar Akhlak, Menguatkan Ilmu, Membangun Generasi Bangsa Mandiri di Era Digital untuk Ketahanan Pangan, Energi, dan Kedaulatan Bangsa.”
Bella Rahayu, sang Ketua Panitia Karnaval, menjelaskan bahwa persiapan tahun ini jauh lebih kompleks dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Tantangannya adalah bagaimana menerjemahkan isu nasional yang berat seperti kedaulatan energi ke dalam sebuah tampilan karnaval yang estetik dan mudah dipahami masyarakat awam.
“Kita mengambil tema tersebut agar masyarakat melihat bahwa santri bukan hanya soal mengaji atau urusan ukhrawi saja. Kita juga peduli pada masa depan energi dan kemandirian bangsa di era digital,” tegas Bella .
Menurutnya, santri masa kini harus mengetahui teknologi tanpa kehilangan jati diri akhlaknya. Inilah yang ingin ditunjukkan melalui 32 barisan santri yang masing-masing membawa konsep unik.
Gotong Royong: Dari Data hingga Replika
Sebanyak 32 barisan tersebut kini sedang berlomba memberikan performa terbaik. Mereka tidak hanya sekadar berjalan, tapi membawa pesan. Ada kelompok yang fokus membedah isu global, menyulapnya menjadi tampilan visual yang menarik. Mulai dari menyiapkan data riset sederhana hingga membangun replika inovasi pangan yang digarap secara gotong royong.
Semangat kemandirian begitu terasa di setiap sudut pesantren. Para santri belajar menyelesaikan masalah bersama, mulai dari kekurangan bahan hingga teknis perakitan properti yang rumit. Di sini, ego pribadi dikesampingkan demi kesempurnaan penampilan barisan. Mereka membuktikan bahwa kerja tim adalah kunci utama untuk mewujudkan visi besar tema tahun ini.
Di tengah hiruk-pikuk itu, terlihat Nabila, salah satu santri yang nampak sangat telaten. Tangannya lincah merangkai kerangka untuk sebuah kostum megah. Kostum itu bukan kostum biasa, melainkan ikon utama yang akan mencuri perhatian di sepanjang rute karnaval nanti.
“Kita sedang menyelesaikan sayap untuk icon karnavalnya. Memang terlihat berat dan prosesnya cukup rumit, tapi demi merayakan karnaval ini, kita harus lebih semangat. Kita ingin tampil megah supaya penonton dan terutama Abah serta Ibu ikut senang melihat hasil kerja keras kita,” ucap Nabila sambil menata helai demi helai hiasan pada sayap besar di hadapannya.
Kreativitas individu seperti yang ditunjukkan Nabila inilah yang nantinya akan menyatukan kepingan-kepingan cerita di sepanjang jalanan menuju panggung kehormatan.
Kehadiran Tokoh dan Restu Pengasuh
Karnaval ini menjadi semakin istimewa karena rencana kehadiran para tokoh besar dan keluarga pengasuh yang sangat dihormati. Pengasuh Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy 2 Andalusia, KH. Zuhrul Anam Hisyam (Gus Anam) dan Ibu Nyai Rodliyah Ghorro Maemoen Zubair, dijadwalkan akan menyaksikan langsung buah karya para santrinya dari panggung kehormatan.
Bagi para santri, kehadiran beliau bukan sekadar formalitas. Restu dan senyum dari pengasuh adalah “bahan bakar” utama yang membuat mereka rela lembur dan bekerja keras. Ada ambisi positif untuk memberikan penampilan yang spektakuler sebagai bentuk pengabdian dan rasa terima kasih kepada guru-guru mereka.
Tak ketinggalan, tamu kehormatan dari keluarga ndalem seperti Ibu Nyai Tsumanah Hisyam beserta keluarganya, serta Syekhh Mahmud Abdul Hamid ‘Ali yasin, juga dijadwalkan hadir. Kehadiran para tamu undangan ini memberikan nilai spiritual dan emosional yang kental di tengah riuhnya kemeriahan karnaval. Bagi panitia, bisa mempersembahkan karya terbaik di depan para guru adalah puncak pencapaian yang tak ternilai harganya, jauh melampaui rasa lelah yang mereka rasakan selama berminggu-minggu persiapan.
Syiar Melalui Estetika
Karnaval yang digelar sebagai rangkaian menuju puncak Haflah Akhirussanah ini memang selalu menjadi magnet. Masyarakat sekitar biasanya sudah memadati rute perjalanan sejak pagi, merindukan kejutan estetika yang selalu berbeda tiap tahunnya. Namun lebih dari itu, acara ini adalah bentuk syiar.
Pesantren Andalusia ingin mengirimkan pesan kuat kepada dunia: bahwa nilai-nilai agama bisa berjalan beriringan dengan penguasaan teknologi. Melalui langkah kaki para santri, penonton diajak melihat masa depan Indonesia yang cerah masa depan di mana generasi mudanya mandiri, menguasai digital, peduli pada ketahanan pangan, namun tetap teguh memegang etika dan akhlakul karimah.
Menanti 18 Juni 2026
Pada akhirnya, tanggal 18 Juni 2026 nanti para santri menampilkan semua karya dan jeri payahnya yang menjadi pembuktian selama berminggu-minggu kepada penonton sekalian. Dari sayap megah yang dibuat Nabila dan kawan-kawan, manajemen logistik yang rapi dari Hana, hingga Koordinasi hebat dari sang ketua panitia, Bella Rahayu, semuanya adalah bagian dari satu tubuh bernama Andalusia.
Persiapan hari ini bukan sekadar simulasi , melainkan cerminan dari masa depan generasi santri yang siap menghadapi dunia. Mereka bukan hanya penjaga tradisi, tapi juga pelopor inovasi. Semangat “Sayap Kreativitas Santri” ini diharapkan terus terbang tinggi, melampaui rute karnaval, dan membawa manfaat bagi kedaulatan bangsa di masa depan.
Penulis: Nurul Khabibah
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial









Tinggalkan Balasan