Zaman sekarang, banyak pemimpin yang tidak mencermikan karakter kepemimpinan sejati. Sebagian terburu-buru dalam mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang yang bisa merugikan masyarakat. Tidak sedikit pula yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi, kelompok, atau golongan dibanding kepentingan orang banyak. Kurangnya integritas moral, etika, serta kemampuan manajerial yang jujur menjadi penyebab utama.
Apa dampaknya? Masyarakatlah yang sering merasakan akibat buruknya, sementara mereka yang memiliki kuasa justru tetap nyaman diatas penderitaan orang. Lalu, bagaimana cara menjadi pemimpin yang baik dan mulia?
Sejak awal, kita memahami bahwa seorang pemimpin harus mempunyai sifat-sifat tertentu agar bisa menuntun pengikutnya ke jalan yang benar. Para nabi adalah contoh pemimpin yang mulia. Perjalan mereka tidaklah mudah, banyak rintangan yang harus dilewati dengan penuh kesabaran dan ketabahan. Salah satu cara yang mereka lalui sebelum menjadi pemimpin umat adalah menggembala kambing.
Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah RA, dari Baginda Rasulullah SAW:
ما بعث الله نبيا إلّا رعى الغنم…(رواه البخاري)
Artinya:
“Tidaklah Allah mengutus seorang nabi kecuali dia(nabi) pernah menggembala kambing …(HR Bukhari).
Dari hadist tersebut kita ketahui, bahwa setiap nabi pernah menjadi seorang penggembala. Mengapa demikian?
Menggembala kambing bukan sekedar pekerjaan sederhana. Di dalamnya terdapat pendidikan karakter. Kambing dikenal memiliki sifat yang sulit diatur, suka menyebar, dan lemah. Sehingga membutuh perhatian dan pengawasan penuh. Seorang penggembala harus sabar, teliti, tegas, dan penuh kasih sayang. Ia juga harus mampu menjaga, mengarahkan, dan melindungi dari bahaya.
Secara psikologis dan pedagogis, proses menggembala melatih kesabaran, kepedulian, tanggung jawab, serta kemampuan memimpin. Pengalaman ini menjadi latihan nyata sebelum memimpin manusia yang tentu memiliki karakter lebih kompleks dibandingkan hewan ternak.
Dari sini kita dapat mengambil hikmah bahwa menjadi pemimpin dimulai dari hal-hal kecil yang membentuk karakter. Pekerjaan yang tampak sederhana dan rendah dimata manusia, bisa menjadi saran pembentukan jiwa kepemimpinan yang luar biasa. Dan para nabi telah membuktikannya.
Karena itu, jangan hanya berambisi menjadi pemimpin tanpa mempersiapkan diri. Kepemimpinan adalah amanah yang berat. Menuntun dan mengayomi banyak orang bukanlah tugas yang ringan. Dibutuhkan kesabaran, integritas, keteladanan, dan kesiapan untuk mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.
Menggembala mengajarkan kita bahwa kepemimpinan sejati bukan tentang kekuasaan, melainkan tentang tanggung jawab dan pengabdian.
Oleh: ibnu malik
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan