Leler, Jawa Tengah (24/2/2026) – Dunia Islam kembali diselimuti awan duka yang mendalam seiring dengan beredarnya kabar mengenai wafatnya salah satu pilar utama ilmu syariat di era modern, Prof. Dr. Syaikh Muhammad Hasan Hitou. Ulama kharismatik asal Suriah yang dikenal sebagai “Syaikhul Ushuliyyin” atau guru besar para ahli metodologi hukum Islam ini, dilaporkan menghembuskan napas terakhirnya tepat pada saat adzan Maghrib berkumandang. Kepergian beliau tidak hanya menjadi kehilangan besar bagi keluarga dan murid-muridnya, tetapi juga menandai berakhirnya sebuah era keemasan bagi diskursus Fikih Syafii dan Ushul Fiqh yang beliau jaga dengan begitu ketat selama lebih dari enam dekade.
Kepergian Syaikh Hasan Hitou menyisakan ruang hampa dalam sanubari umat, terutama bagi komunitas akademik di Universitas Kuwait, para penggiat sertifikasi halal di Eropa, hingga para santri di pelosok Indonesia, khususnya di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Imam Syafii Cianjur, institusi yang beliau dirikan dan asuh dengan penuh kasih sayang. Laporan ini akan membedah secara mendalam perjalanan hidup, kontribusi intelektual, hingga detik-detik terakhir pengabdian beliau kepada ilmu pengetahuan.
Kabar mengenai wafatnya Syaikh Muhammad Hasan Hitou menyebar dengan cepat melalui saluran komunikasi resmi lembaga-lembaga yang beliau pimpin. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari pengumuman resmi, beliau wafat pada waktu adzan Maghrib, sebuah momentum yang dalam tradisi Islam sering kali dianggap sebagai pertanda kemuliaan bagi seorang mukmin. Kepergiannya terjadi di tengah kondisi kesehatan yang memang dilaporkan menurun seiring dengan bertambahnya usia, namun semangat beliau dalam memantau perkembangan ilmu pengetahuan tetap menyala hingga saat-saat terakhirnya.
Hingga akhir tahun 2025 dan awal 2026, Syaikh Hasan Hitou masih tercatat memberikan arahan-arahan strategis bagi institusi pendidikannya. Di STAI Imam Syafii Cianjur, misalnya, pesan-pesan beliau mengenai integritas akademik dan pentingnya menjaga sanad keilmuan tetap menjadi pedoman utama dalam pelaksanaan ujian semester dan pendaftaran mahasiswa baru tahun akademik 2026/2027. Wafatnya beliau pada Selasa, 24Februari 2026 ini seolah menjadi penutup yang khidmat bagi sebuah perjalanan panjang seorang pengembara ilmu yang tak kenal lelah.
| Kategori | Keterangan |
| Nama Lengkap | Prof. Dr. Muhammad Hasan Hitou |
| Tanggal Lahir | 10 Oktober 1943 (11 Dzulqa’dah 1362 H) |
| Tempat Lahir | Damaskus, Suriah |
| Keahlian Utama | Ushul Fiqh, Fikih Syafii, Aqidah, Mantiq |
| Pendidikan Terakhir | Doktor (PhD) dari Universitas Al-Azhar, Mesir |
| Jabatan Strategis | Guru Besar Universitas Kuwait, Direktur Halal Control Jerman |
| Pendirian Lembaga | STAI Imam Syafii (Indonesia), Pusat Internasional Ilmu Islam (Jerman) |
| Waktu Wafat | Waktu Adzan Maghrib, Selasa, 24 Februari 2026 |
Memahami sosok Syaikh Hasan Hitou mengharuskan kita untuk menoleh jauh ke belakang, pada akar silsilah dan lingkungan yang membentuk karakter beliau. Beliau lahir di Damaskus, sebuah kota yang dalam sejarah Islam dikenal sebagai salah satu pusat peradaban dan keilmuan terbesar. Beliau merupakan keturunan dari kabilah Syaihan, sebuah kelompok masyarakat yang secara etnis berasal dari suku Kurdi namun telah menetap di lingkungan Ruknuddin, Damaskus, selama lebih dari 600 tahun.
Yang menarik adalah identitas beliau yang merupakan perpaduan harmonis antara tradisi Kurdi dan Arab. Kabilah Syaihan sendiri memiliki silsilah yang tersambung kepada Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, ulama dan sufi agung, yang garis keturunannya bermuara pada Sayyidina Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Kesadaran akan silsilah ini tidak membuat beliau eksklusif, melainkan justru menjadi pemicu tanggung jawab moral yang besar untuk menjaga warisan kakek moyangnya dalam bentuk ilmu pengetahuan yang murni.
Lingkungan Pertumbuhan
Tumbuh di Damaskus memberikan Syaikh Hasan Hitou akses langsung kepada ulama-ulama besar Suriah yang dikenal dengan ketelitian dan keteguhan dalam memegang madzhab. Beliau belajar di lingkungan yang mementingkan penguasaan bahasa Arab secara mendalam sebagai kunci utama memahami wahyu. Pendidikan dasar dan menengah beliau lalui dengan penuh ketekunan sebelum akhirnya beliau memutuskan untuk melintasi batas negara demi mengejar cahaya ilmu di negeri piramida, Mesir.
Langkah beliau menuju Universitas Al-Azhar di Kairo sekitar setengah abad yang lalu menjadi titik balik krusial. Al-Azhar pada masa itu masih menjadi kiblat utama bagi studi syariah tradisional yang mulai bersentuhan dengan metodologi modern. Di sana, Syaikh Hasan Hitou tidak hanya belajar untuk mendapatkan gelar, tetapi beliau benar-benar menenggelamkan diri dalam samudra teks-teks klasik.
Beliau sering mengenang masa-masa studinya dengan kedisiplinan yang mungkin sulit dibayangkan oleh mahasiswa zaman sekarang. Dari jam delapan pagi hingga tengah malam, waktu beliau habiskan untuk mutala’ah (mengkaji) dan berdiskusi. Beliau memegang teguh prinsip bahwa “Ilmu hanya akan memberikan sebagian dirinya jika Anda memberikan seluruh diri Anda kepadanya; jika Anda hanya memberikan sebagian, ilmu tidak akan memberikan apa-apa”.
Di Al-Azhar, beliau memilih fokus pada Ushul Fiqh, sebuah disiplin ilmu yang dianggap sebagai “logika hukum Islam”. Ketertarikan beliau pada bidang ini didorong oleh kegelisahannya melihat banyak orang yang berani mengeluarkan fatwa tanpa memahami mekanisme pengambilan hukum yang benar. Gelar doktor yang beliau raih dari Al-Azhar bukan sekadar pengakuan formal, melainkan bukti atas kemampuannya membedah struktur berpikir para imam madzhab, khususnya Imam Syafii.
Selama di Mesir, beliau juga mendalami ilmu-ilmu penunjang seperti Mantiq (logika), Aqidah, Hadis, dan Tafsir. Penguasaan yang komprehensif ini membuat beliau memiliki cara pandang yang sistematis dalam menyelesaikan setiap persoalan hukum. Beliau tidak pernah melihat fikih sebagai kumpulan hukum yang kaku, melainkan sebagai sebuah bangunan ilmu yang memiliki dasar metodologis yang sangat kuat.
Karier Akademik dan Pengaruh Global
Setelah menyelesaikan studinya, Syaikh Hasan Hitou memulai pengabdiannya di berbagai institusi pendidikan tinggi. Karier beliau membawa beliau berpindah-pindah antar negara, namun dengan satu misi yang tetap: membumikan metodologi hukum Islam yang moderat namun kokoh.
Kuwait menjadi saksi bisu produktivitas beliau selama dua dekade. Beliau memulai perannya sebagai pengajar di Institut Keguruan (Fakultas Pendidikan Dasar) pada tahun 1975 hingga 1979. Pengalaman ini mengasah kemampuan beliau dalam mentransfer ilmu kepada calon-calon pendidik, sebuah keterampilan yang kelak sangat berguna dalam mendirikan perguruan tinggi sendiri.
Selanjutnya, beliau dipercaya menjadi dosen di Fakultas Hukum Universitas Kuwait (1979–1981), di mana beliau mengintegrasikan perspektif syariah ke dalam studi hukum formal. Puncak karier akademisnya di Kuwait terjadi saat beliau mengajar di Fakultas Syariah Universitas Kuwait dari tahun 1981 hingga 1995 [Image 1]. Selama masa ini, beliau tidak hanya mengajar tetapi juga menyusun kurikulum dan menulis karya-karya monumental yang hingga kini masih digunakan sebagai referensi utama di sana.
Kiprah di Jerman dan Eropa
Visi Syaikh Hasan Hitou melampaui dunia Arab. Beliau melihat tantangan besar bagi umat Muslim yang hidup di tengah masyarakat sekuler di Barat. Untuk menjawab tantangan tersebut, beliau mendirikan Pusat Internasional untuk Ilmu-Ilmu Islam di Jerman. Lembaga ini bertujuan menyediakan pendidikan syariah yang kredibel bagi warga Muslim di Eropa agar mereka tidak kehilangan identitas keagamaannya.
Salah satu kontribusi praktis yang sangat dirasakan manfaatnya adalah kepemimpinan beliau dalam organisasi Halal Control di Jerman. Sebagai seorang ahli fikih, beliau memahami bahwa masalah halal bukan sekadar label, melainkan menyangkut integritas ibadah seorang Muslim. Beliau meletakkan standar yang ketat namun rasional berdasarkan prinsip syariah, sehingga produk halal yang beredar di Eropa memiliki sandaran hukum yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
Bagi masyarakat Indonesia, sosok Syaikh Hasan Hitou memiliki tempat yang sangat istimewa. Meskipun beliau berasal dari Damaskus dan berkarier di Kuwait dan Jerman, perhatiannya terhadap Indonesia sangatlah besar. Beliau melihat Indonesia sebagai “raksasa tidur” yang memiliki potensi luar biasa untuk memimpin dunia Islam jika dibekali dengan ilmu pengetahuan yang benar.
STAI Imam Syafii Cianjur: Mercusuar Ilmu dari Jawa Barat
Sebagai manifestasi nyata dari cintanya kepada Indonesia, beliau mendirikan Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Imam Syafii di Cianjur, Jawa Barat. Beliau tidak hanya bertindak sebagai pendiri, tetapi juga sebagai Direktur yang mengawasi langsung kualitas akademik dan moral para mahasiswanya [Image 1].
Pilihan nama “Imam Syafii” bukan tanpa alasan. Beliau ingin mengembalikan kejayaan madzhab Syafii di Indonesia melalui jalur ilmiah, bukan sekadar mengikuti tradisi tanpa dasar. Di kampus ini, mahasiswa dididik dengan standar yang menyerupai Al-Azhar pada masa kejayaannya: penguasaan bahasa Arab yang aktif, pendalaman kitab-kitab turats (klasik), dan pengasahan daya kritis melalui ilmu Ushul Fiqh.
Dalam beberapa tahun terakhir, pesan-pesan yang beliau sampaikan kepada para mahasiswa dan alumni di Indonesia sering kali bernada reflektif, seolah beliau sedang mempersiapkan mereka untuk meneruskan tongkat estafet kepemimpinan ilmu. Pada acara Wisuda V STAIIS di tahun 2022, beliau menyampaikan sebuah nasihat yang sangat mendalam tentang hubungan antara guru dan murid:
“Seorang guru akan pergi meninggalkan kita setelah menyampaikan amanahnya, dan seorang murid yang sudah mampu mengajar akan membawa benderanya untuk diserahkan kepada generasi setelahnya. Begitulah sunnah kehidupan”.
Beliau juga menekankan pentingnya mengamalkan ilmu. Bagi beliau, posisi manusia di mata orang lain dan di mata Tuhan sangat bergantung pada bagaimana manusia tersebut memosisikan dirinya dalam berkhidmat kepada ilmu dan masyarakat. Beliau sangat mewanti-wanti agar para lulusan tidak menjadi bagian dari orang-orang yang “pertama kali dinyalakan api neraka” karena memiliki ilmu namun tidak mengamalkannya atau menggunakannya untuk kesombongan.
Syaikh Hasan Hitou adalah seorang penulis yang sangat produktif. Karya-karyanya mencakup berbagai tingkatan, mulai dari buku saku yang simpel hingga ensiklopedia yang terdiri dari puluhan jilid. Kekuatan tulisan beliau terletak pada kemampuannya menyederhanakan konsep Ushul Fiqh yang rumit tanpa mengurangi kedalaman maknanya.

Karya-Karya Utama
| Nama Kitab | Fokus Utama | Signifikansi Intelektual |
| Al-Wajiz fi Ushul At-Tasyri | Dasar-dasar metodologi hukum. | Menjadi buku standar di universitas-universitas Islam untuk memperkenalkan cara berpikir yuridis. |
| Fiqh Shiyam | Hukum puasa secara komprehensif. | Menjadi karya monumental yang membedah detail ibadah puasa dengan membandingkan berbagai argumen ulama. |
| Al-Hadits al-Mursal | Ilmu Hadis dan Ushul Fiqh. | Membahas kedudukan hadis yang terputus sanadnya dalam pengambilan hukum fikih. |
| As-Syamilah (Ensiklopedia) | Fikih Syafii dan Perbandingan. | Proyek raksasa yang direncanakan mencapai 160 jilid, mencakup seluruh bab fikih secara detail. |
| Al-Mutafayhiqun | Kritik Sosial-Intelektual. | Membahas tentang fenomena orang-orang yang berlagak ahli fikih namun tanpa dasar ilmu yang memadai |
Proyek Hidup: Ensiklopedia Fikih 160 Jilid
Salah satu sumbangsih terbesar beliau yang paling ambisius adalah penyusunan sebuah ensiklopedia fikih Islam komprehensif yang beliau beri nama As-Syamilah. Proyek ini dimulai sejak tahun 1989. Syaikh Hasan Hitou mendedikasikan waktu puluhan tahun untuk mengumpulkan, memverifikasi, dan menyusun kembali hukum-hukum fikih dengan perbandingan madzhab yang luas.
Hingga saat-saat terakhirnya, beliau dilaporkan telah menyelesaikan sekitar 40 jilid yang khusus membahas bab ibadah. Meskipun jumlah 160 jilid adalah target yang sangat besar, apa yang telah beliau hasilkan sudah cukup untuk menjadi rujukan bagi para peneliti selama berabad-abad ke depan. Beliau menyadari bahwa waktu manusia terbatas, namun beliau terus menulis dengan keyakinan bahwa setiap huruf yang beliau goreskan adalah bagian dari pengabdiannya kepada Allah SWT.
Filosofi Pendidikan: Melawan Fenomena “Autodidak”
Satu hal yang paling sering ditekankan oleh Syaikh Hasan Hitou adalah bahaya belajar agama tanpa bimbingan guru (autodidak). Beliau sering menceritakan anekdot tentang seorang murid yang salah memahami sebuah teks hanya karena ketiadaan titik pada huruf Arab.
Teks aslinya berbunyi: “Yundab saddu furj fii as-saff” (Disunnahkan menutup celah di dalam barisan salat). Namun, karena titik pada kata furja tidak ada atau salah baca, sang murid membacanya menjadi “Yundab saddu farjihi fii as-saff” (Disunnahkan menutup kemaluannya di dalam barisan salat). Akibatnya, sang murid menyarankan penggunaan tisu di dalam pakaian dalam saat salat untuk memastikan tidak ada air kencing yang keluar.
Kisah ini digunakan Syaikh Hasan Hitou untuk menunjukkan bahwa teks tertulis hanyalah benda mati yang membutuhkan “ruh” dari seorang guru agar maknanya tidak menyimpang. Beliau menegaskan bahwa para ulama terdahulu sangat menekankan pentingnya talaqqi (belajar langsung) agar kesalahpahaman semacam itu tidak terjadi. Bagi beliau, keberanian mengeluarkan fatwa tanpa guru bukan hanya bentuk kebodohan, tetapi juga sebuah kejahatan intelektual yang dapat menyesatkan umat.
Syaikh Hasan Hitou di Mata Rekan Sejawat
Kepribadian Syaikh Hasan Hitou yang rendah hati (tawadhu) dan berakhlak mulia membuatnya dihormati oleh banyak ulama besar lainnya. Beliau sering kali terlihat menjalin ukhuwah dengan para tokoh internasional. Di Indonesia, kedekatannya dengan almarhum Prof. Dr. KH Ali Mustafa Yaqub menunjukkan betapa beliau sangat menghargai para ulama Nusantara yang gigih menjaga tradisi hadis dan fikih.
Beliau juga sering berinteraksi dengan Syaikh Wahbah az-Zuhayli, Syaikh Taufiq Ramadhan al-Buthi, dan ulama Suriah lainnya. Dalam forum-forum ilmiah, Syaikh Hasan Hitou dikenal sebagai sosok yang cerdas namun sangat menghormati perbedaan pendapat. Beliau mencerminkan profil ulama yang “mumpuni secara keilmuan, benderang wajahnya, dan lembut hatinya”.
| Nama Ulama | Kaitan dengan Syaikh Hasan Hitou |
| Prof. Dr. KH Ali Mustafa Yaqub | Rekan diskusi dan sesama penjaga tradisi syariah di forum internasional. |
| Dr. Wahbah al-Zuhayli | Sesama ulama Suriah dan penulis produktif dalam bidang fikih perbandingan. |
| Syaikh Taufiq Ramadhan al-Buthi | Rekan sejawat dari tradisi keilmuan Damaskus. |
| KH Abdur Rouf Maimun Zubair | Salah satu tokoh Indonesia yang terus menjalin komunikasi dengan lembaga beliau di Cianjur. |
Wafatnya Syaikh Hasan Hitou tentu membawa tantangan tersendiri bagi lembaga-lembaga yang beliau tinggalkan, khususnya STAI Imam Syafii Cianjur. Namun, beliau telah meletakkan pondasi yang sangat kuat sehingga sistem akademik di sana tetap berjalan dengan stabil. Kabar terbaru menunjukkan bahwa kampus tersebut tetap konsisten melaksanakan evaluasi pembelajaran yang ketat, seperti ujian semester yang dilaksanakan pada Januari 2026, yang menekankan pada nilai integritas dan ketajaman berpikir kritis.
Pihak manajemen STAIIS juga telah membuka pendaftaran mahasiswa baru untuk tahun akademik 2026/2027 dengan tetap merujuk pada visi dan misi yang telah digariskan oleh almarhum. Kurikulum yang beliau rancang, yang memadukan kedalaman turats dengan metodologi akademik modern, dipastikan akan terus menjadi identitas utama kampus tersebut. Kunjungan tokoh-tokoh seperti KH Abdur Rouf Maimun Zubair pada Februari 2026 ke kampus Cianjur juga menegaskan bahwa jaringan dukungan bagi institusi ini tetap kuat meskipun sang pendiri telah tiada.
Syaikh Hasan Hitou pernah berpesan bahwa setiap generasi adalah jembatan bagi generasi berikutnya. Beliau ingin melihat para mahasiswa di Asia Tenggara tidak hanya menjadi konsumen ilmu, tetapi juga produsen pemikiran yang mencerahkan. Beliau berharap STAIIS dapat menjadi “sumber cahaya ilmu di Asia Tenggara dan seluruh dunia”.
Para asatidzah dan masyayikh yang berada di lingkungan STAIIS terus memberikan motivasi kepada para mahasiswa agar tidak larut dalam kesedihan, melainkan justru semakin gigih belajar untuk membuktikan bahwa warisan Syaikh Hasan Hitou tidak akan padam. Program-program penguatan seperti I’adah (pengulangan pelajaran) dan majelis ilmu selama bulan Ramadhan terus digalakkan untuk menjaga api semangat keilmuan tersebut tetap menyala.
Ulama Wafat Meninggalkan Kitab
Wafatnya Syaikh Muhammad Hasan Hitou adalah pengingat bagi kita semua bahwa ilmu adalah milik Allah yang dititipkan melalui hamba-hamba pilihan-Nya. Ketika seorang ulama wafat, satu bab besar dalam buku sejarah umat manusia tertutup, namun pintu-pintu pemikiran yang beliau buka melalui kitab-kitabnya akan tetap terbuka bagi siapa saja yang ingin mencari kebenaran.
Beliau adalah model ideal seorang ulama modern: memiliki akar tradisi yang kuat namun tidak buta terhadap perkembangan zaman; tegas dalam prinsip namun lembut dalam penyampaian; dan yang terpenting, beliau adalah sosok yang mengamalkan apa yang beliau ajarkan. Setiap bait dalam kitab Al-Wajiz atau setiap jilid dalam ensiklopedia As-Syamilah adalah bukti bisu dari dedikasi tanpa batas seorang manusia terhadap Tuhannya melalui jalur ilmu pengetahuan.
Di Indonesia, peran beliau turut tercatat dalam penguatan pendidikan tinggi Islam, termasuk kontribusinya dalam proses pendirian dan pembinaan akademik STAI Imam Syafi’i. Keterlibatan tersebut menunjukkan komitmennya dalam mencetak generasi ulama dan akademisi yang kokoh dalam metodologi usul fikih serta berpegang pada manhaj Ahlussunnah wal Jamaah berakidah Asy‘ariyyah.
Secara khusus, pengaruh keilmuan beliau juga sangat terasa di lingkungan Ma’had Aly Andalusia. Sebagian besar dosen Ma’had Aly Andalusia merupakan murid langsung Prof. Dr. Syaikh Muhammad Hasan Hitou. Bahkan, dalam mata kuliah usul fikih yang dikaji secara resmi di Ma’had Aly Andalusia, digunakan karya beliau yang berjudul Al-Wajiz fi Ushul at-Tasyri’ al-Islami sebagai rujukan utama. Dengan demikian, sanad keilmuan para mahasantri Ma’had Aly Andalusia dalam bidang usul fikih tersambung secara akademik kepada beliau, memperkuat kesinambungan tradisi ilmiah yang otoritatif dan berakar pada manhaj yang kokoh.
Wafatnya beliau pada Selasa, 24 Februari 2026, menjadi kehilangan besar bagi dunia Islam. Warisan intelektualnya berupa karya tulis, institusi pendidikan, serta ribuan murid yang tersebar di berbagai negara akan terus menjadi bagian dari denyut tradisi keilmuan Islam lintas generasi. Semoga Allah Swt. menerima seluruh amal baktinya, melapangkan kuburnya, dan menempatkannya bersama para ulama dan orang-orang saleh.
Kita berdoa semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah beliau, mengampuni segala kekhilafannya, dan menempatkan beliau di tempat yang paling mulia di surga-Nya bersama para Nabi dan orang-orang shalih. Semoga pula muncul generasi-generasi baru yang mampu meneruskan kegigihan beliau dalam membentengi syariat Islam dari segala penyimpangan. Sebagaimana pepatah yang sering beliau kutip, “Kebaikan setiap insan akan tetap terjaga di tangan Allah dan diingat oleh umat manusia”. Syaikh Muhammad Hasan Hitou telah menyelesaikan tugasnya dengan sangat baik, dan kini gilirannya bagi kita untuk menjaga apa yang telah beliau wariskan.
Selamat jalan, wahai Syaikhul Ushuliyyin. Doa kami menyertai kepulanganmu ke haribaan Sang Pencipta.
Ditulis oleh Ramah Tegar Pambudi, Mahasantri S1 Ma’had Aly Andalusia leler










Tinggalkan Balasan