Menegaskan bahwa Islam peduli dan terlibat dalam dunia politik.
Pendahuluan
Nabi Muhammad SAW adalah sosok yang dipilih oleh Tuhan untuk menyampaikan firman-Nya kepada umat manusia. Agama, sebagai bingkai besar dari pesan Tuhan, disampaikan oleh para Nabi dan Rasul. Mereka membawa pesan kebajikan serta aturan hidup yang menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan dan beribadah. Namun, muncul pertanyaan: Apakah Nabi Muhammad juga terlibat dalam dunia politik?
Pengertian Politik
Berbicara tema itu tentunya kita harus mengetahua apa itu politik. Politik menurut Kartini Kartono, dapat didefinisikan sebagai aktivitas atau proses yang menggunakan kekuasaan untuk menegakkan peraturan-peraturan dan keputusan-keputusan yang sah dalam masyarakat. Secara umum, politik mencakup segala upaya untuk menggunakan atau menjalankan kekuasaan, serta mengatur kebijakan pemerintah terhadap rakyat.
Sejarah Awal Islam di Madinah
Ketika Nabi Muhammad SAW hijrah dari Makkah ke Madinah, Islam masih berada dalam fase awal pendirian pemerintahan. Saat itu, di sekitar Madinah terdapat dua kerajaan besar yang mendominasi: Kekaisaran Romawi Timur (Bizantium) di barat dan Imperium Persia (Sasaniyah) di timur. Kedua kekuatan ini sangat berpengaruh dalam dinamika politik dunia.
Di tengah fase dakwah di Makkah, terjadi peristiwa penting ketika Persia melancarkan perang terhadap Konstantinopel. Pada tahun 614 M, Persia berhasil menguasai wilayah Syam dan Baitul Makdis. Dalam situasi genting ini, sahabat Nabi SAW bertanya tentang siapa yang akan menang dalam peperangan tersebut. Allah SWT menurunkan firmannya:
غُلِبَتِ الرُّوْمُۙ
Bangsa Romawi telah dikalahkan
فِيْٓ اَدْنَى الْاَرْضِ وَهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُوْنَۙ
di negeri yang terdekat dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang
(Q.S Ar-Rum/30/2-3)
Nyatalah bahwa Romawi Timur kalah. Begitu mendengar kabar tersebut, Nabi SAW dan kaum Muslimin bersedih. Sebab, orang-orang Romawi termasuk kalangan Ahli Kitab, sedangkan Persia adalah pihak paganis atau majusi. Berbalikan dengan keadaan umat Rasul SAW, kaum musyrik di Makkah bersuka cita. Mereka mengelu-elukan kemenangan Persia sebagai kejayaan penyembah berhala.
Kemenangan Romawi dan Respons Nabi
Pada tahun itu, turunlah awal dari surah ar-Ruum. Isi ayat Alquran itu, Allah menegaskan bahwa Bizantium akan kembali mengungguli musuhnya dalam beberapa tahun ke depan. Kondisi ketika itu Persia sedang jaya-jayanya sehingga wahyu Allah itu diremehkan oleh orang-orang kafir Makkah. “Bagaimana mungkin Alquran memastikan kemenangan itu?” demikian pikir mereka.
Firman-Nya terbukti menjadi kenyataan. Sekitar tujuh tahun setelah diturunkannya ayat pertama surah ar-Ruum tersebut, pada Desember 627 M, perang terjadi antara Bizantium dan Persia di Nineveh. Kali ini, pasukan Konstantinopel sukses mengalahkan musuhnya. Bahkan, beberapa bulan kemudian Persia terpaksa membuat perjanjian dengan Bizantium. Kaisar yang pro-Majusi itu mesti mengembalikan wilayah yang sebelumnya dirampas dari Bizantium.
Dalam Q.S Ar-Rum ayat 4 Alloh SWT berfirman ;
فِيْ بِضْعِ سِنِيْنَ ەۗ لِلّٰهِ الْاَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْۢ بَعْدُ ۗوَيَوْمَىِٕذٍ يَّفْرَحُ الْمُؤْمِنُوْنَۙ
dalam beberapa tahun (lagi). Milik Allahlah urusan sebelum dan setelah (mereka menang). Pada hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang mukmin.
Kaum Muslimin merayakan kemenangan Romawi sebagai penggenapan janji Allah. Lantas, apakah Nabi Muhammad tinggal diam saat politik dunia bergejolak?
Diplomasi Nabi Muhammad
Ternyata Rasulullah SAW mengirim surat kepada sejumlah penguasa non-Arab, termasuk Bizantium dan Persia. Dalam suratnya, beliau mengajak para raja untuk memeluk Islam. Elite Bizantium, Heraklius, menerima surat tersebut dengan penghormatan meskipun dirinya enggan memeluk Islam.
- Isi surat Rasulullah kepada Heraklius, Kaisar Bizantium, adalah ajakan untuk masuk Islam. Berikut isi surat tersebut:
من محمد بن عبد الله إلى هرقل عظيم الروم: سلام على من اتبع الهدى، أما بعد فإنى أدعوك بدعوة الإسلام . أسلم تسلم ويؤتك الله أجرك مرتين ، فإن توليت فإن عليك إثم الأريسيِّين.
{قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِن تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ}
Salam sejahtera bagi orang-orang yang mengikuti petunjuk
Rasulullah mengajak Heraklius untuk menyerahkan keinginannya kepada Tuhan
Jika Heraklius memeluk Islam, Allah akan memberikan pahala yang berlipat ganda
Jika Heraklius menolak, maka dosa orang-orang Arisiyin menjadi tanggung jawabnya
Surat tersebut disampaikan oleh Dihyat bin Khalifah AI-Kalbi kepada Heraklius saat sang kaisar berada di Iliya (Baitul Maqdis, Palestina). Heraklius menerima surat tersebut dengan baik, namun tidak masuk Islam sampai akhir hidupnya.
- Isi surat Nabi Muhammad SAW kepada Kisra Abrawaiz adalah ajakan untuk memeluk agama Islam. Surat ini dikirimkan oleh Nabi Muhammad SAW kepada Kaisar Persia yang bergelar Kisra, dan dibawa oleh sahabat Nabi Muhammad SAW, Abdullah bin Huzafah as-Sahm
بسم الله الرحمن الرحيم من محمد رسول الله إلى كشري عاليم فارس سلام على من اتبع الهدى وأمن بالله ورسوله وشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأن محمدا عبده ورسوله، وأدعوك بدعاية الله عز وجل فإنى أنا رسول الله إلى الناس كافة لأنذر من كان حيا ويحق القول على الكافرين، أسلم تسلم، فإن توليث فإنما عليك إثم المجوسDengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang,
Dari Muhammad Rasulullah kepada Kisra Raja Persia,
Keselamatan bagi yang mengikıuti petunjuk, yang beriman,
kepada Alah dan Rasul-Nya, dan bersaksi bawa tidak ada Tuhan selain Allah,
Dan aku adalah utusan Allah kepada umat seluruh manusia, untuk memberi peringatan bagi siapa yang hidup dan supaya pastilah azab terhadap orang-orang kafir,
Masuklah Islam maka kau akan selamat, dan jika kau mengabaikannya naka atasmu dosa orang-orang Majusi.”
Visi seorang Nabi
Dalam diskusi saya tadi mengenai respons Nabi Muhammad terhadap pertanyaan para sahabat terkait konflik antara dua imperium besar, yaitu Romawi dan Persia, terdapat suatu prinsip mendasar dalam misi kenabian. Penting untuk ditegaskan bahwa Allah SWT mengutus para rasul dan nabi dengan membawa dua tujuan utama, yaitu hifẓ ad-dīn (menjaga agama) dan siyāsah ad-dunyā (mengatur kehidupan dunia).
Konsep siyāsah ad-dunyā berkaitan dengan pengelolaan dan tata kelola dunia, yang dalam terminologi kontemporer sering diterjemahkan sebagai politik. Hal ini sejalan dengan esensi politik yang menitikberatkan pada pengelolaan dan pengaturan suatu tatanan sosial. Jauh sebelum munculnya konsep politik modern, Nabi Muhammad telah membawa prinsip-prinsip tersebut dan menyebarkannya ke berbagai penjuru dunia.
Kesimpulan
Bahwasanya Nabi Muhammad SAW sangat perhatian dalam dunia politik bahkan sampai politik dunia. Nabi SAW juga sangat lihai dalam menjalankan pemerintahan islam dan melakukan diplomasi dengan para penguasa dunia di zaman itu. Bahkan Nabi Muhammad SAW ketika ditanya oleh shohabat mengenai gocangan politik yang sedang terjadi antara Roma dan Persia kala itu, langsung diberi firman Alloh SWT dalam surat Ar-Rum
الۤمّۤۚ
غُلِبَتِ الرُّوْمُۙ ٢
Bangsa Romawi telah dikalahkan,
فِيْٓ اَدْنَى الْاَرْضِ وَهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ غَلَبِهِمْ سَيَغْلِبُوْنَۙ
Di negeri yang terdekatdan mereka setelah kekalahannya itu akan menang
فِيْ بِضْعِ سِنِيْنَ ەۗ لِلّٰهِ الْاَمْرُ مِنْ قَبْلُ وَمِنْۢ بَعْدُۗ وَيَوْمَىِٕذٍ يَّفْرَحُ الْمُؤْمِنُوْنَۙ
beberapa tahun (lagi). Milik Allahlah urusan sebelum dan setelah (mereka menang). Pada hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang mukmin
بِنَصْرِ اللّٰهِۗ يَنْصُرُ مَنْ يَّشَاۤءُۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الرَّحِيْمُ
karena pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki. Dia Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.
وَعْدَ اللّٰهِۗ لَا يُخْلِفُ اللّٰهُ وَعْدَهٗ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ ٦
(Itulah) janji Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
Oleh karena itu, keterlibatan Nabi Muhammad dalam politik merupakan bagian integral dari risalah yang beliau bawa untuk umat manusia.
Penulis : Ramah Tegar Pambudi










Tinggalkan Balasan