Malam Selasa di Andalusia merupakan waktu yang istimewa. Di saat kebanyakan orang mulai menarik selimut untuk beristirahat, ratusan santri justru memilih berkumpul dan membentuk lingkaran. Bukan untuk demonstrasi, melainkan menjaga tradisi turun-temurun pesantren, lalaran (mukhafadhah).
Secara harfiah, lalaran berasal dari bahasa Jawa yang berarti mengulang-ulang. Dalam tradisi pesantren, kegiatan ini dilakukan untuk memperkuat ingatan terhadap kitab-kitab yang telah dihafalkan, seperti Al-Jurumiyyah, Al-Imrithi, Alfiyah Ibnu Malik, dan kitab-kitab lainnya.
Malam Selasa dipilih bukan tanpa alasan. Pada malam itu, tidak dilangsungkan kajian rutin. Oleh karena itu, mukhafadhah menjadi kegiatan mingguan yang wajib diikuti oleh para santri.
Mukhafadhah pertama kali digagas oleh Ustadz Agus Hilmy Mubarok.
“Alhamdulillah, sebelum Andalusia berdiri, saya ditakdirkan untuk bersama Abah. Saya juga diberi amanah untuk mengonsep seluruh kurikulum madin, termasuk kegiatan-kegiatan dan peraturan yang ada di pondok,” tuturnya.
Mukhafadhah dilaksanakan di aula. Usai menunaikan salat Isya, para santri segera berkumpul dan membentuk lingkaran yang terdiri dari sekitar 200 orang. Kegiatan ini berlangsung selama satu jam. Namun, berkat tekad dan semangat yang kuat dalam menjaga hafalan, para santri tidak merasakan beban dalam menjalaninya.
Tingginya semangat para santri dalam mengikuti mukhafadhah mendorong mereka untuk berinisiatif menjadikan kegiatan ini lebih hidup. Salah satunya dengan mengiringi lalaran menggunakan berbagai benda yang dapat menghasilkan bunyi.
“Sebenarnya, setiap barang yang bisa menghasilkan bunyi dapat digunakan,” ujar Thoriq (23), seorang santri senior.
“Tidak harus ada iringan. Itu murni inisiatif para santri untuk meramaikan suasana,” tambah Ustadz Fadhil (25), wali kelas 3 aliyah.
Selain iringan, para santri juga dilatih membaca nadham (bait-bait kitab) dengan tempo cepat.
“Instrumen cepat ini bertujuan untuk menguji kemampuan hafalan santri,” jelas Ustadz Muchammad Alawi (25), penanggung jawab mukhafadhah.
Lampu-lampu aula yang diredupkan menghadirkan suasana hening yang membantu meningkatkan konsentrasi dan daya ingat. Tradisi meredupkan lampu ini diadaptasi dari Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang.
Ketika jarum jam menunjukkan pukul 22.30, suasana riuh perlahan mereda. Para santri kembali ke kamar masing-masing, membawa bekal hafalan baru atau sekadar menguatkan yang telah ada.
Di Pondok Pesantren Andalusia, malam Selasa bukan sekadar pergantian waktu, melainkan sebuah ritual merawat ilmu. Sebab, adab tertinggi bagi seorang penuntut ilmu adalah senantiasa mendengarkan nasihat dan ilmu seakan-akan ia baru pertama kali mendengarnya.
Oleh: Akhil
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial









Tinggalkan Balasan