Di artikel sebelum nya kita sudah membahas cerita Para pemuda penentang penguasa dzolim yaitu Ashabul kahfi . Di artikel tersebut menjelaskan secara lengkap siapa mereka, darimana mereka berasal, Bagaimana mereka menentang penguasa pada dzolim pada zaman itu.
Akan tetapi Bagaimana bisa cerita itu bisa sampai kepada kita? Apakah mereka masih hidup? Jika masih hidup maka dimana mereka sekarang? Dan hikmah dari kisah tersebut
Maka di artikel ke-4 ini kita akan membahas Rahasia-rahasia Ashabul kahfi yang masih jarang di ketahui hal layak umum.
Pertanyaan penduduk mekkah kepada nabi ﷺ
Penduduk Mekkah bertanya kepada beliau Nabi Muhammad ﷺ. Yakni atas instruksi orang-orang Yahudi kepada mereka; di mana orang-orang Yahudi berkata kepada kafir Quraisy: “Tanyakanlah kepadanya tentang Ruh, Ashabul Kahfi, dan tentang Dzulkarnain.” Maka mereka pun menanyakan hal-hal tersebut kepada beliau.
Maka Nabi ﷺ bersabda:
أبقوني غداً أخبركم
“Tunggulah aku sampai besok, aku akan mengabarkannya kepada kalian,”
dan beliau tidak mengucapkan: “Insya Allah”. Maka wahyu pun terlambat turun kepada beliau selama belasan hari atau (ada yang mengatakan) empat puluh hari. Hingga hal itu terasa sangat berat bagi beliau. Kaum Quraisy pun mulai meragukan (dan memperolok) hal tersebut.
Maka turun lah ayat QS. Al-Kahf: Ayat 23 (Juz 15)
وَلَا تَقُوْلَنَّ لِشَا۟يْءٍ اِنِّيْ فَاعِلٌ ذٰلِكَ غَدًاۙ
Jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, “Aku pasti melakukan hal itu besok.”
Wahyu itu turun setelah berlalunya kurun waktu tersebut sebagai bentuk pengajaran adab bagi umatnya dan agar senantiasa menyerahkan segala urusan kepada Allah Ta’ala.
Karena sesungguhnya manusia tidak mengetahui apa yang akan terjadi pada dirinya. Jika teguran (khitab) ini ditujukan kepada Rasulullah ﷺ—padahal beliau adalah pemimpin para makhluk—maka bagaimana lagi dengan selain beliau?!
Maka ayat diatas berlanjut
QS. Al-Kahf: Ayat 24 (Juz 15)
اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُۖ
kecuali (dengan mengatakan), “Insyaallah.”
Ayat ini menjadi jawab dari ayat sebelum nya yaitu: Jangan sekali-kali engkau mengatakan terhadap sesuatu, “Aku pasti melakukan hal itu besok.” Yakni: ingatlah kehendak-Nya dengan menggantungkan urusan tersebut kepada-Nya, (apabila kamu lupa) untuk menyangkutkannya (dengan ucapan Insya Allah saat berbicara).
(hasyiyah Ashowi, 4/136)
Lanjutan ayat tersebut
وَاذْكُرْ رَّبَّكَ اِذَا نَسِيْتَ وَقُلْ عَسٰٓى اَنْ يَّهْدِيَنِ رَبِّيْ لِاَقْرَبَ مِنْ هٰذَا رَشَدًا
Ingatlah kepada Tuhanmu apabila engkau lupa dan katakanlah, “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada ini.”
yakni: daripada kabar tentang Ashabul Kahfi dalam hal pembuktian atas kenabianku, dan kata (رُشْدًا) Yakni hidayah (petunjuk/jalan yang lurus). Sungguh Allah Ta’ala telah mewujudkan hal tersebut bagi Nabi .
(hasyiyah Ashowi, 4/137)
Ashabul kahfi masih hidup?
Ketahuilah bahwa terdapat perbedaan pendapat mengenai Ashabul Kahfi; apakah mereka telah wafat dan dikuburkan, ataukah mereka (masih) dalam keadaan tidur dan jasad mereka terjaga oleh Allah?
Pendapat yang dianggap sahih adalah bahwa mereka sedang tidur dan akan terbangun saat turunnya Nabi Isa alaihissalam, lalu mereka akan menunaikan ibadah haji bersamanya, dan mereka akan wafat sebelum hari kiamat tiba ketika datangnya angin yang lembut.
Sebagaimana disebutkan dalam hadist:
ليحجنّ عيسى بن مريم ومعه أصحاب الكهف؛ فإنهم لم يحجوا بعد
ذكره ابن عيينة.
“Sungguh Isa bin Maryam akan berhaji dan bersamanya Ashabul Kahfi; karena sesungguhnya mereka belum pernah berhaji sebelumnya.” Hal ini disebutkan oleh Ibnu Uyainah.
Dalam sebuah riwayat yang lain:
مكتوب في التوراة والإنجيل: أن عيسى بن مريم عبد الله ورسوله، وأنه يمر بالروحاء حاجا ومعتمراً ويجمع الله له ذلك
Tertulis di dalam Taurat dan Injil bahwa Isa bin Maryam adalah hamba Allah dan Rasul-Nya, dan sesungguhnya ia akan melewati (lembah) Ar-Rauha’ untuk menunaikan haji dan umrah, dan Allah mengumpulkan keduanya (haji dan umrah) bagi beliau.
Maka Allah menjadikan Ashabul Kahfi dan Ar-Raqim sebagai pengikut setianya (hawariyun), lalu mereka lewat sebagai jamaah haji; karena sesungguhnya mereka belum pernah berhaji dan belum (benar-benar) mati. Selesai.
(hasyiyah Ashowi, 4/138)
Penulis : Mujiburrohman
Sumber rujukan:
حاشية العلامة الصاوي على تفسير الجلالين
الشيخ أحمد بن محمد الصاوي الخلوتي (١١٧٥ ١٢٤١٠هـ)
(دار تحقيق الكتاب)
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial









Tinggalkan Balasan