Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Washalatu wassalamu ‘ala Sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in.
Pesantren Leler ini sudah cukup lama berdiri. Kalau di wilayah Kabupaten Banyumas dan Cilacap, mungkin termasuk pondok yang tua. Didirikan pada tahun 1914 oleh kakek saya, Kiai Zuhdi Abdul Manan, setelah beliau menuntut ilmu di berbagai pesantren. Di antaranya:
- pesantren Jampes di bawah asuhan Mbah Kiai Dahlan (ayah Kiai Ihsan).
- Pesantren Bendopare yang diasuh Kiai Khazin (juga dikenal sebagai Kiai Haji Muhajir).
- Pesantren Bogangin, pesantren tertua di Banyumas, yang diasuh Kiai Haji Suyuti Bogangin, yang kemudian menjadi mertua kakek saya (Kiai Zudi Abdul Manan)
Awalnya, pondok ini tidak memiliki nama resmi dan hanya dikenal sebagai Pondok Pesantren Leler. Dalam sebuah buku sejarah cetakan lama yang saya baca, memang disebutkan ada “Pondok Leler”. Namun, perjalanan kakek saya tidak panjang. Beliau wafat pada usia 54 tahun, saat putra-putranya masih kecil. Ayah saya (KH. Hisyam Zuhdie) misalnya, baru berusia 13 tahun. Karena keadaan, ayah saya (KH. Hisyam Zuhdie) kemudian mondok ke berbagai pesantren, di antaranya:
1. Pesantren Rembang, di bawah asuhan Kiai Kholil bin Harun, cicitnya ketua PBNU sekarang. Kemudian diteruskan kepada putra menantunya, Kiai Bisri Mustofa yaitu kakeknya ketua PBNU sekarang.
2. Pesantren Bendo.
3. Pesantren Tebuireng, di bawah asuhan Mbah Hasyim Asy’ari.
Setelah menyelesaikan pendidikatnnya, ayah saya pulang pada usia 23 atau 24 tahun untuk menghidupkan kembali Pondok Leler yang sempat vakum selama delapan tahun setelah wafatnya kakek saya. Ketika itu, pondok hampir mati total, meskipun sebelumnya sempat memiliki sekitar 1.000 santri, bahkan ada yang berasal dari Malaysia.
Setelah dihidupkan kembali, alhamdulillah, pondok mulai berjalan. Ayah saya mengasuhnya dalam waktu yang cukup panjang, melahirkan banyak generasi santri. Ciri khas pengajaran pondok saat itu adalah ilmu-ilmu agama seperti Nahwu, Balaghah, Fikih, Tasawuf, dan Tauhid.
Ketika ayah saya wafat, saya sedang menuntut ilmu di Makkah. Pengasuhan pondok kemudian diteruskan oleh kakak sulung saya, KH. Athourrahman Hisyam. Kakak saya melanjutkan tradisi pengajaran salaf, meskipun pondok ini kemudian berganti nama beberapa kali:
- Tarbiyah Nahwiyah, nama yang diberikan oleh pengurus pondok.
- Syamsul Huda, yang juga diusulkan oleh para pengurus.
- At-Taujieh Al-Islami, nama yang dipilih oleh kakak saya setelah terinspirasi dari lembaga pendidikan sangat maju di Suriah dengan nama yang sama, salah satu muridnya adalah Prod Dr. Romdhon Al-Buthi.
Sebenarnya ayah saya (KH. Hisyam Zuhdie) tidak peduli dengan nama, jadi yang mengganti nama ya pengurus-pengurus pondok, seperti tradisinya ulama dulu.
Pada tahun 2013, dengan dorongan guru saya, Mbah Maimun Zubair, pondok ini mulai mengembangkan pendidikan formal. Kami memulai dengan mendirikan SMP, meskipun saat itu belum ada santri atau gedung khusus. Dengan modal nol dan menumpang di rumah-rumah penduduk, kami perlahan membangun sarana dan prasarana. Alhamdulillah, sekarang pondok ini memiliki berbagai jenjang pendidikan formal, mulai dari SMP, SMA, MA,PDF, hingga Ma’had Aly, dengan jumlah santri mencapai 3.700 santri.
Nama “Andalusia” untuk pondok ini muncul saat saya ingin meminta saran dari Mbah Maimun. Sebelum bertemu beliau, saya terinspirasi oleh nama Andalusia, sebuah peradaban Islam yang pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan. Saat bertemu Mbah Maimun Zubair (Mbah Moen Sarang), ternyata di meja beliau terdapat tulisan besar berjudul Al-Ulama’ Al-Andalusiyyun. Ketika saya mengusulkan nama tersebut, beliau langsung menyetujuinya dan bahkan meresmikannya sendiri.
Kini, Pondok Andalusia terus berusaha melestarikan semangat keilmuan Islam. Kami fokus pada penguatan ilmu alat seperti Nahwu, Balaghah, dan lain-lain. Sebagai syarat kenaikan kelas, santri wajib menghafal kitab-kitab Nahwu seperti Jurumiyah, Imriti, dan Alfiyah Ibn Malik.
Pondok ini juga memiliki hubungan erat dengan ulama dari Al-Azhar Mesir. Beberapa guru besar seperti Prof. Dr. Fathi Abdurrahman Hijazi, seorang guru besar sastra bahasa arab pernah diundang untuk berbagi ilmu dan memperkuat hubungan akademik. Alhamdulillah, Madrasah Aliyah kami telah diakui setara dengan Tsanawiyah Al-Azhar di Mesir.
Prof. Dr. Fathi Abdurrahman Hijazi ketika menyaksikan santri Andalusia menampilkan hafalan kitab Jurumiyah, Imriti, dan Alfiyah Ibn Malik berkata :
هذا سر حضوري في هذا المجلس
“inilah rahasiya saya sampai datang ke sini, ya Alfiyyah ini”
Akhirnya terus berkelanjutan, sampai saya berkeinginan untuk bertemu dengan grand syeikh Al- Azhar yaitu Prof. Dr. Ahmad Thoyyib. Pada saat itu saya meminta bantuan kepada guru saya di Dubai, Prof. Dr. Ahmad Muhammad Nur Saif Hilal untuk mempermudah bertemu beliau, yang akhirnya surat permintaan saya sampai ke Syaikhul Al-Azhar Alhamdulillah, Madrasah Aliyah kami telah disetarakan dengan Sanawiyah Al-Azhar, sehingga alumni bisa melanjutkan studi ke Al-Azhar tanpa tes.
Dan yang terakhir ini saya mendatangkan penasihat Grand Syaikh Al-Azhar Prof. Dr. Nahlah Ash-Sha’idi dan bersedia menjadi penasihat di pondok kami At-Taujieh Al-islamy 2 Andalusia dan saya langsung buatkan surat Resminya.
Selain itu, saya juga mendapat amanat untuk mengembangkan Tarekat Naqsyabandiyah, yang saya terima dari Mbah Maimun Zubair dan ulama-ulama lainnya di Mesir seperti Prof. Dr. Fathi Abdurrahman Hijazi (Guru Besar Sastra Arab, Al-Azhar), Syekh Safiuddin (ulama tarekat dari Mesir), Dr. Muhammad Rajab Dib (ulama dari Suriah). Saya masih ingat betul, dipanggil Mbah Maimun Zubair di atas, beliau mem-baiat saya sambil menangis, beliau berkata :
إذا مت فأنت خليفتي
“kalau saya mati, maka kamu penggantiku”
Namun, saya lebih memprioritaskan pengajaran tafaqquh fiddin (mendalami ilmu agama) sebagai prioritas bagi para santri sebelum mereka menekuni tarekat.
Amalan dan Ijazah
Ada amalan-amalan yang jika dilakukan secara istiqamah, insyaAllah dapat mendatangkan keberkahan hidup di dunia dan akhirat. Amalan tersebut meliputi:
- Rajin Salat Berjamaah
- Beliau menekankan pentingnya salat berjamaah, terutama Salat Subuh.
- Setelah Salat Subuh, beliau menyarankan untuk tidak tergesa-gesa meninggalkan tempat salat dan mengisi waktu dengan membaca wirid, Al-Qur’an, atau zikir hingga matahari terbit.
- Salat Isyraq dan Salat Dhuha
- Setelah matahari terbit sekitar 15-20 menit (naik sepenggalah), dianjurkan untuk melaksanakan Salat Isyraq sebanyak dua rakaat.
- Kemudian dilanjutkan dengan Salat Dhuha sebanyak dua rakaat atau lebih sesuai kemampuan.
- Nabi Muhammad SAW menyebutkan bahwa siapa yang melaksanakan amalan ini akan mendapatkan pahala setara dengan umrah yang sempurna. Rasulullah mengulanginya hingga tiga kali:
“Umratun tammah, umratun tammah, umratun tammah.”
- Keutamaan Amalan
- Secara spiritual (akhirat): Pahalanya sangat besar, sebagaimana yang dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW.
- Secara duniawi: InsyaAllah, orang yang istiqamah menjalankan amalan ini akan mendapatkan jaminan kehidupan yang penuh keberkahan dan kemudahan dari Allah SWT.
Dengan menekuni amalan-amalan tersebut, beliau berharap para santri dan umat Islam dapat memperoleh keberkahan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.
Semoga pondok ini terus berkembang dan mampu melahirkan generasi ulama yang bermanfaat bagi umat.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Disampaikan oleh Syaikhuna KH. Zuhrul Anam Hisyam dalam kesempatan wawancara eklusif dengan Nu Online
saksikan selengkapnya :
Artikel Terkait :
Pentranskip : Ramah
#pondokleler #santrilelermendunia
Berita Terkini Seputar Ma’had Aly Andalusia Leler Banyumas !!!
Dapatkan update terbaru dan informasi menarik lainnya seputar Ma’had Aly Andalusia Leler Banyumas hanya di website official kami: maalyandalusia.ac.id.
Temukan berbagai artikel yang inspiratif dan bermanfaat tentang kehidupan akademik, program pendidikan, kegiatan santri, dan berbagai info penting lainnya. Segera kunjungi situs official Ma’had Aly Andalusia untuk memperluas wawasan dan mengikuti perkembangan terbaru yang kami sajikan khusus untuk Anda!










Tinggalkan Balasan