Kebersamaan dalam kehidupan santri

Kebersamaan dalam kehidupan santri

Di sebuah pondok pesantren bernama At Taujieh Al Islamy 2 atau yang kerap disebut dengan Andalusia, terdapat ribuan santri yang hidup bersama dalam suasana penuh suka dan duka. Kehidupan di pondok tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga menanamkan nilai kepedulian, kebersamaan, dan solidaritas yang tinggi antar santri. Di balik padatnya aktivitas sehari hari, tersimpan banyak cerita seru, pengalaman berharga, serta kenangan indah yang sulit untuk dilupakan. Setiap sudut pondok memiliki kisah tersendiri yang akan selalu terkenang di hati para santri.

Menurut sebagian orang awam, hidup di pondok mungkin terlihat membosankan karena jauh dari keluarga dan memiliki aturan yang cukup ketat. Namun bagi para santri, pondok justru menjadi tempat belajar sekaligus rumah kedua yang penuh kebersamaan. Setiap hari selalu ada cerita baru, mulai dari belajar bersama, bercanda dengan teman sekamar, hingga momen lucu yang terjadi di sela sela aktivitas pondok. Semua hal sederhana itu justru menjadi kenangan yang paling membekas dan sering dirindukan ketika sudah lulus nanti.

Kegiatan di pondok dimulai sejak sebelum subuh. Para santri dibangunkan untuk melaksanakan salat malam, kemudian membaca Al-Qur’an sambil menunggu jamaah subuh. Setelah salat berjamaah, santri putra biasanya melanjutkan dengan wirid, sedangkan santri putri melaksanakan tadarus bersama. Suasana pagi di pondok terasa begitu tenang dan menyejukkan. Setelah itu para santri mulai bersiap siap untuk berangkat sekolah atau kuliah. Walaupun jadwal kegiatan sangat padat, para santri tetap menikmati setiap prosesnya karena semua dilakukan bersama sama dengan tujuan yang sama, yaitu mencari ilmu dan memperbaiki diri.

Menurut Devi (19), salah satu mahasantri semester 2 Ma’had Aly Andalusia, hal paling seru di pondok adalah kebersamaan. “Di pondok itu seru karena banyak temannya, makan bareng, belajar bareng, berangkat kuliah bareng, pulang kuliah bareng, sehari-hari pun selalu bareng,” ujarnya sambil tertawa. Dari kebersamaan itulah tumbuh rasa persaudaraan yang sangat kuat. Teman di pondok sering kali menjadi sahabat yang selalu ada dalam suka maupun duka. Ketika ada yang sakit, teman teman lain akan membantu merawat. Ketika ada yang sedih atau rindu rumah, teman sekamar biasanya akan menghibur dan menemani agar tidak merasa sendiri.

Selain belajar, pondok juga memiliki banyak kegiatan menarik yang membuat kehidupan santri semakin berwarna. Ada mukhafadoh, lalaran, muhadatsah, munaqosoh, mauqufah, musyawarah, dan berbagai kegiatan lainnya yang melatih kemampuan serta kedisiplinan santri. Saat ada acara besar seperti haflah, seluruh santri biasanya sangat antusias mempersiapkan penampilan terbaik mereka. Ada yang berlatih tampilan akademik dan non akademik yang sangat memukau. Momen-momen seperti inilah yang membuat kehidupan pondok terasa hidup dan jauh dari kata membosankan.

Tidak hanya itu, kehidupan di pondok juga dipenuhi berbagai kejadian lucu yang sering menjadi bahan cerita. Misalnya ketika para santri ramai ramai belajar semalaman menjelang ujian. Ada juga momen ketika satu kamar kompak membersihkan kamar bersama sambil bercanda dan bernyanyi. Hal hal sederhana seperti makan bersama dengan lauk seadanya pun terasa nikmat karena dilakukan dengan penuh kebersamaan.

Di balik keseruannya, kehidupan pondok juga mengajarkan banyak pelajaran hidup. Santri belajar hidup mandiri, disiplin waktu, sederhana, dan saling membantu sesama teman. Mereka harus mencuci pakaian sendiri, mengatur waktu belajar, menjaga kebersihan kamar, dan menaati seluruh peraturan pondok. Walaupun awalnya terasa berat, lama kelamaan semua itu menjadi kebiasaan yang membentuk karakter santri menjadi lebih dewasa dan bertanggung jawab. Dari pondok, para santri belajar bahwa hidup tidak selalu tentang kekayaan dan kenyamanan, tetapi juga tentang perjuangan dan kesabaran.

Hubungan santri dengan kiai dan ustadz juga menjadi bagian penting dalam kehidupan pondok. Para santri sangat menghormati guru guru mereka karena sudah dianggap sebagai orang tua sendiri selama berada di pondok. Saat mengaji kitab, suasana biasanya terasa sangat khidmat. Semua santri duduk rapi sambil mendengarkan penjelasan kiai dengan penuh perhatian. Dari momen itu, santri tidak hanya belajar tentang ilmu agama, tetapi juga belajar tentang adab, kesabaran, dan akhlak yang baik. Nasihat nasihat dari para guru sering kali menjadi pegangan hidup bagi santri hingga dewasa nanti.

Menurut Anisa (19), salah satu mahasantri semester 2 Ma’had Aly Andalusia, kehidupan di pondok memang dirancang untuk membentuk pribadi yang kuat dan berakhlak baik. Ia mengatakan bahwa pondok bukan hanya tempat belajar ilmu agama, tetapi juga tempat belajar tentang kehidupan. “Santri diajarkan untuk hidup sederhana, hidup dengan kebersamaan, saling membantu, saling menghargai, dan menghormati satu sama lain. Di pondok santri juga belajar kalau kebahagiaan tidak selalu berasal dari kemewahan, melainkan dari kebersamaan dan pengalaman hidup yang penuh makna,” ujarnya.

Walaupun jauh dari keluarga, banyak santri yang merasa betah tinggal di pondok karena menemukan keluarga baru di sana. Teman teman yang selalu bersama setiap hari membuat suasana pondok terasa lebih hangat. Bahkan tidak sedikit santri yang merasa sedih ketika pulang liburan atau saat lulus dari pondok karena terlalu banyak kenangan yang telah mereka lalui bersama. Tangisan perpisahan sering menjadi bukti betapa eratnya hubungan persaudaraan yang terjalin selama berada di pondok.

Bagi para santri, pondok pesantren bukan sekadar tempat belajar, tetapi tempat tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Di sanalah mereka belajar arti perjuangan, kesabaran, dan pentingnya menjaga kebersamaan. Keseruan hidup di pondok akan selalu menjadi cerita indah yang sulit dilupakan, bahkan setelah mereka meninggalkan pondok suatu hari nanti. Semua pengalaman yang pernah dilalui akan menjadi bekal berharga dalam menjalani kehidupan di masa depan.

Oleh: Fauzia Prima Kartika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

JURNALISTIK MA’HAD ALY ANDALUSIA

Jurnalistik Ma’had Aly Andalusia telah mempublish Website “Kompas walimah”

Komunitas penerjemah, Syu’aro dan wadah literasi mahsantri

merupakan placement bagi karya digital Mahasantri Ma’had Aly Andalusia

dikelola Tim Jurnalistik Ma’had Aly Andalusia

MA’HAD ALY ANDALUSIA

Lembaga pendidikan tinggi  pesantren yang terletak di Jln. Ditowongso, Dsn. Leler, Randegan, Kebasen, Banyumas, Jawa Tengah, Indonesia, 53172

Didirikan Oleh Syaikuna KH. Zuhrul Anam Hisyam

الأخبار اليومية