Masih ingatkah kita pada salah satu program televisi yang menyinggung pondok pesantren?
Program tersebut jelas tidak menyampaikan pendapat melalui proses ilmiah, melainkan cenderung
bertujuan menyudutkan pesantren. Sebelum masuk ke pembahasan inti, mari terlebih dahulu
memahami pengertian perbudakan dan adab.
Dalam KBBI, perbudakan adalah sistem segolongan manusia yang dirampas kebebasan
hidupnya untuk bekerja demi kepentingan golongan manusia lain. Dari pengertian ini dapat
disimpulkan bahwa perbudakan merupakan sistem di mana manusia dirampas hak-haknya dan dipaksa
melakukan pekerjaan untuk kepentingan orang lain.
Adapun adab dalam KBBI diartikan sebagai kehalusan dan kebaikan budi pekerti, kesopanan,
serta akhlak. Dalam konsep adab, tidak terdapat unsur paksaan maupun perampasan hak. Dengan
demikian, antara perbudakan dan adab merupakan dua hal yang secara mendasar sangat berbeda.
Judul ini tentu berkaitan erat dengan hubungan antara santri dan kiai. Dalam kehidupan
pondok pesantren, bukan hal asing jika masyarakat melihat betapa sopannya para santri kepada kiai
mereka. Namun, oleh sebagian oknum, sikap tersebut dianggap sebagai bentuk perbudakan yang
harus dihilangkan. Pandangan semacam ini lahir dari penilaian sepihak, hanya melihat dari luar tanpa
pernah benar-benar terjun dan memahami kehidupan pesantren. Sungguh miris ketika potonganpotongan video dijadikan dasar untuk menjustifikasi santri dan kiai dengan framing yang negatif.
Mereka tidak melihat ketulusan para kiai pengasuh pondok pesantren yang rela meninggalkan
hiruk-pikuk dunia demi mengabdikan diri dalam menyampaikan ilmu kepada para santri. Dari pagi
hingga tengah malam, mereka terus mengajar tanpa lelah. Berdasarkan pengalaman pribadi, kiai saya
sering kali tetap mengaji secara daring melalui telepon ketika sedang dalam perjalanan jauh. Selama
masih memungkinkan, pengajian tetap diusahakan berjalan.
Banyak pula video yang memperlihatkan bagaimana para kiai pesantren menyalurkan ilmunya
dengan penuh keikhlasan. Salah satu yang pernah viral adalah potongan video Yai War (KH. Anwar
Mansur) yang mengajar santrinya hingga lupa waktu karena begitu menikmati proses berbagi ilmu.
Masih banyak contoh kiai lainnya yang dengan tulus mendedikasikan jiwa dan raga mereka untuk para
santri, sekaligus memberikan teladan tentang tata krama terhadap para ahli ilmu.
Lalu, bagaimana para santri membalas ketulusan para kiai dalam menyalurkan ilmunya? Salah
satunya dengan sikap taat dan patuh kepada kiai sebagai bentuk ungkapan terima kasih yang tidak
terucap. Contohnya adalah sebagian santri yang mengambil sisa minum atau makanan kiai dengan niat
mengambil keberkahan. Hal ini oleh sebagian oknum dianggap sebagai bentuk perbudakan. Padahal,
jika kembali pada definisi sebelumnya, tindakan tersebut jelas bukan perbudakan, karena dilakukan
tanpa paksaan dan dilandasi keyakinan akan keberkahan dari guru.
Praktik semacam ini juga pernah dicontohkan oleh para sahabat kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Salah
satunya adalah kisah Ummu Sulaim, ibu dari sahabat Anas bin Malik. Dalam kisah tersebut, Ummu
Sulaim mengambil sisa makanan Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Ketika Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengetahuinya dan bertanya
tentang tujuannya, Ummu Sulaim menjawab bahwa sisa makanan tersebut akan diberikan kepada
anak-anaknya dengan harapan memperoleh keberkahan dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Rasulullah صلى الله عليه وسلم tidak
melarang perbuatan tersebut, bahkan menyampaikan bahwa anak-anak Ummu Sulaim akan
mendapatkan keberkahan beliau.
Selain itu, tuduhan lain yang kerap diarahkan kepada santri pesantren adalah kebiasaan mencium
tangan kiai, yang dianggap sebagai bentuk perbudakan atau bahkan penyembahan, karena dilakukan
dengan menunduk atau berjalan sambil merendah. Untuk menanggapi hal ini, perlu dikemukakan
terjemahan hadis Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang diriwayatkan oleh Abu Dawud:
“Dari Zari’, ketika ia menjadi salah satu delegasi suku ‘Abd al-Qais, ia berkata: Ketika kami sampai di
Madinah, kami segera turun dari kendaraan kami, lalu kami mengecup tangan dan kaki Nabi صلى الله عليه وسلم.) “HR.
Abu Dawud)
Hadis ini menunjukkan bahwa mencium tangan merupakan praktik yang pernah dilakukan
para sahabat kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم sebagai bentuk penghormatan dan upaya memperoleh keberkahan.
Oleh karena itu, santri meneladani hal tersebut sebagai wujud adab yang tinggi kepada guru.
Adapun sikap menunduk atau berjalan dengan penuh kerendahan hati di hadapan kiai, pada
hakikatnya bukanlah paksaan. Banyak santri melakukannya atas inisiatif pribadi karena rasa malu dan
hormat, merasa belum mampu meneladani akhlak dan keilmuan gurunya. Sikap tersebut merupakan
ekspresi penghormatan terhadap ilmu yang dimiliki oleh sang guru, bukan bentuk perbudakan
sebagaimana yang dituduhkan.
Oleh: pencari ilmu
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan