Ma’had Aly Andalusia — Sabtu malam, 16 Mei 2026, yang awalnya hanya tampak seperti malam minggu biasa selepas kegiatan muhadasah, mendadak berubah menjadi panggung politik paling panas di lingkungan Mahad Aly Andalusia. Lorong-lorong mulai dipenuhi bisik-bisik strategi, kelompok-kelompok kecil tampak berkumpul membicarakan arah dukungan, sementara beberapa mahasantri terlihat sibuk merekam dan mengabarkan suasana secara langsung ke berbagai media sosial internal.
Semua bermuara pada satu agenda, pengumuman resmi calon Presiden Mahasantri 2026 dan pembagian nomor urut oleh KPU Mahad Aly Andalusia.
Di tengah suasana yang mulai tegang, Ketua KPU Mahad Aly, Fauzan Alfatikh, maju ke depan membawa map penetapan calon. Suasana yang sebelumnya riuh perlahan sunyi. Bahkan beberapa mahasantri menyebut malam itu sebagai “malam pembuka perang panjang.”
Dengan nada formal namun penuh tekanan politis, Fauzan membuka pengumuman.
“Hari ini bukan hanya tentang nomor urut atau administrasi pemilu. Ini adalah awal dari pertarungan gagasan, strategi, dan arah masa depan Mahad Aly Andalusia. KPU berharap seluruh proses berjalan sehat, terbuka, dan tetap menjunjung adab demokrasi mahasantri.”
Namun publik tahu, pemilu kali ini sulit disebut sekadar demokrasi biasa. Karena jauh sebelum malam pengumuman, aroma konsolidasi elite, manuver diam-diam, hingga perang pengaruh antarpartai sudah lebih dulu bergerak di bawah permukaan.
Dan benar saja. Dua nama besar resmi diumumkan maju sebagai calon Presiden Mahasantri 2026.
Nama pertama adalah Eka Prasetya, yang maju melalui poros besar bernama Koalisi Stabilitas, gabungan antara PSG (Partai Smart Generation) dan COMPAS. Koalisi ini dikenal sebagai poros yang mengandalkan pengalaman, jaringan lama, serta kekuatan komunikasi politik yang sudah terbangun sejak beberapa periode terakhir.
Sedangkan nama kedua adalah Rafif Erol Zain, yang maju melalui Koalisi Perubahan, gabungan tiga kekuatan politik: FKM, API, dan ALTER. Koalisi ini dalam beberapa minggu terakhir memang terus menjadi sorotan karena dianggap berhasil menyatukan kelompok-kelompok yang sebelumnya berjalan sendiri-sendiri.
Dan justru di situlah teori-teori politik mulai berkembang liar.
Banyak pihak menilai terbentuknya Koalisi Perubahan bukan sekadar koalisi biasa, melainkan bentuk konsolidasi besar untuk menghentikan dominasi poros lama yang selama ini dianggap terlalu kuat menguasai arah politik Mahad Aly.
“Ini bukan lagi sekadar pertarungan calon. Ini pertarungan sistem lama melawan gelombang baru,” ujar salah satu pengamat mahasantri.
Setelah penetapan calon selesai, acara memasuki sesi yang tidak kalah menegangkan: pembagian nomor urut.
Dari kubu Koalisi Stabilitas, maju Raihan Agustian, salah satu figur strategis PSG yang dikenal aktif menjaga komunikasi antarpartai. Sedangkan dari Koalisi Perubahan, hadir Sanip, tokoh yang disebut-sebut sebagai operator konsolidasi akar rumput kubu Rafif.
Ketika Fauzan membuka hasil nomor urut, suasana langsung pecah.
Eka Prasetya resmi mendapatkan nomor urut 1.
Sedangkan Rafif Erol Zain memperoleh nomor urut 2.
Sorakan langsung menggema dari dua kubu yang sejak awal memang sudah memanaskan atmosfer Mahad Aly. Pendukung Eka mengangkat satu jari sambil meneriakkan jargon stabilitas, sementara kubu Rafif justru terlihat lebih agresif menyambut angka dua yang mereka anggap sebagai simbol “gelombang kedua perubahan.”
Menariknya, pembagian nomor urut ini langsung memunculkan narasi-narasi politis baru.
Sebagian pihak menganggap angka satu adalah simbol kekuasaan, kemapanan, dan posisi terdepan. Sangat cocok dengan citra Koalisi Stabilitas yang membawa pesan keberlanjutan arah lama. Namun kubu lain justru percaya angka dua lebih berbahaya secara politik.
“Dalam sejarah politik, penantang sering datang dari nomor dua. Mereka bergerak lebih bebas karena tidak dibebani mempertahankan kekuasaan,” ujar seorang mahasantri senior.
Bahkan mulai muncul teori bahwa pertarungan ini sesungguhnya bukan soal siapa paling populer, melainkan siapa paling kuat menguasai jaringan bawah tanah mahasantri.
Koalisi Stabilitas dianggap unggul di pengalaman, elite organisasi, dan kekuatan narasi media. Sedangkan Koalisi Perubahan disebut mulai menguasai emosi akar rumput, terutama mahasantri muda yang ingin wajah baru dalam kepemimpinan DEMA.
Dan sejak malam itu, Mahad Aly mulai terasa berbeda.
Diskusi kecil di kamar berubah jadi forum politik. Nongkrong selepas kegiatan berubah jadi arena analisis strategi. Bahkan sebagian mahasantri mulai terang-terangan membaca arah dukungan dosen, senior, hingga jaringan pengabdian pondok.
Karena semua sadar, pemilu kali ini bukan lagi sekadar memilih ketua DEMA. Ini tentang siapa yang berhasil menguasai arah cerita besar Mahad Aly Andalusia untuk satu periode ke depan.
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial









Tinggalkan Balasan