Di zaman modern ini, sikap psikologis seseorang mulai berubah drastis. Entah Karena perkembangan digital yang begitu pesat atau minimnya kegiatan sosial sejak dini. Salah satunya contohnya adalah hilangnya sikap tanggung jawab pada diri seseorang. Di berbagai organisasi atau lembaga, entah itu lembaga keagamaan sosial, ekonomi, ataupun yang lainnya. Kita sering mendapati beberapa anggota tidak melaksanakan tugas dan tanggung jawab dengan sepenuhnya. Namun dirinya tetap melaksanakan tugas individunya dengan baik.
Contoh saja ada seorang bernama Zaid. Dia adalah salah satu anggota sub kema’rifan di salah satu Pondok pesantren, yang mana memiliki tanggung jawab untuk mengoprak para santri di setiap kegiatan. Akan tetapi ia jarang melaksanakan tanggung jawab tersebut, dikarenakan anggota kema’rifan yang lain telah mengoprak para santri. Sehingga Zaid merasa tidak perlu melaksanakan tugasnya karena telah dikerjakan oleh sejawatnya. Fenomena tersebut dikenal dengan istilah social loafing. Yaitu kecenderungan seseorang untuk mengurangi usaha ketika bekerja dalam kelompok, dibandingkan ketika bekerja sendiri. Dengan arti sederhana orang jadi lebih santai saat kerja tim karena merasa tanggung jawabnya telah dilaksanakan oleh anggota yang lainnya.
Fenomena ini pertama kali diteliti oleh insinyur pertanian Prancis Maximilien Ringelmann (1861–1931) pada akhir abad ke-19 melalui eksperimen tarik tambang. Ia menemukan bahwa semakin banyak anggota tim usaha rata-rata tiap orang justru menurun teori ini dikenal sebagai ringelman effect. Sedangkan istilah social loafing baru dipopulerkan oleh psikolog sosial asal Amerika Serikat Bip Latane pada tahun 1979 melalui artikel ilmiah berjudul “Many Hands Make Light the Work: The Causes and Consequences of Social Loafing” Sikap social loafing inilah yang nantinya menimbulkan keirian di antara anggota dan ketidakmajuaan suatu organisasi
Lalu mengapa hal tersebut bisa terjadi? Ada beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya social loafing, diantaranya:
- Pertama, difusi tanggung jawab. Yaitu beberapa individu merasa kontribusinya tidak terlalu terlihat secara spesifik di tengah kelompok besar, hal ini menimbulkan rasa ketidak dihargai.
- Kedua, persepsi ketidakadilan. Bagi beberapa orang merasa iri atas orang lain yang tidak melaksanakan tugasnya, tetapi tetap mendapatkan hal yang sama sehingga orang tersebut akan malas untuk melaksanakan tanggung jawabnya.
- Ketiga, kurangnya motivasi dan kohesivitas ketidak adanya motivasi akan menimbulkan sesorang merasa tidak dihargai. Begitu juga ketidak adanya kohesivitas dapat menjadikan hubungan antara pemimpin dan anggota dalam suatu kelompok akan terganggu.
Social loafing sangat mempengaruhi kinerja suatu kelompok dan keharmonisan diantara anggota. Untuk mengatasi social loafing itu sendiri dr.Gracia Fensythia menyarankan untuk:
- membatasi jumlah anggota agar ukuran kelompok tidak terlalu besar,
- memberikan pembagian tugas dan tanggung jawab yang jelas untuk setiap anggota kelompok.
- memberi pengertian kepada pelaku sosial untuk memberikan kontribusi yang sama seperti anggota lain.
- Melakukan evaluasi terhadap kinerja individu setiap anggota kelompok.
- Memberikan apresiasi bagi anggota kelompok yang telah memberikan kontribusi dan memenuhi tanggung jawabnya
Maka dari itu, mulailah bangun kedekatan antar anggota kelompok, saling memotivasi dan menghargai, bukan saling berjauhan apalagi sampai menjatuhkan.
Oleh : Labibul Af’al
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan