Di dalam sunyi perpustakaan itu, tersusun rapi kitab-kitab berdebu yang jarang disentuh. Sebagian halaman menguning, sebagian lain seperti menangis karena dilupakan. Mereka menunggu, bukan sekadar untuk dibaca, tapi untuk diperjuangkan kembali dalam bentuk tulisan. Bukan hanya dikutip untuk membuat kesan alim, tapi diolah dan ditulis ulang agar menjadi hidup, bukan sekadar hafalan.
Dulu, pena adalah senjata. Bahkan sebelum pedang. Ulama menulis bukan karena lomba, bukan karena deadline, apalagi sekadar kewajiban. Tapi karena kegelisahan. Karena tidak ingin ilmu mati di kepalanya sendiri. Karena sadar: menghafal itu menyelamatkan diri sendiri, tapi menulis bisa menyelamatkan banyak generasi. Lalu, zaman berubah. Pena tak lagi setajam nurani. Ia diganti kamera, diganti konten, diganti ‘caption’. Mahasantri pun mulai berpikir: “Kalau bisa bicara, kenapa harus menulis?”

Maka lahirlah santri yang fasih berbicara, tapi gagap menulis. Yang bisa berbusa-busa dalam presentasi, tapi lumpuh di hadapan halaman kosong. Ilmu pun akhirnya hanya jadi parade kata-kata indah—tanpa jejak, tanpa warisan, tanpa tanggung jawab. Apakah ini kesalahan siapa-siapa? Tidak. Mungkin ini kesalahan kita semua. Kita yang lebih bangga dipanggil “dai” daripada “penulis”. Kita yang lebih suka “mengutip” daripada “menafsirkan”. Kita yang mengira bahwa menulis itu pekerjaan ahli bahasa, padahal menulis adalah ekspresi dari jiwa yang penuh.
Padahal sejarah kita disusun oleh para penulis. Tafsir tidak turun dari langit begitu saja. Fiqih tidak muncul dari mimpi. Semua adalah hasil pikir yang ditulis, direvisi, diperdebatkan, lalu diwariskan. Kita hanya perlu sedikit keberanian. Menulis bukan tentang pintar, tapi tentang bertanggung jawab. Jangan takut salah, karena pembaca hari ini lebih cerdas dari yang kita kira. Mereka tak butuh kebenaran mutlak, mereka butuh kejujuran. Tulisan yang jujur, datang dari hati, meskipun sederhana, akan bertahan lebih lama dari ceramah yang viral.
Mungkin kita tidak akan seterkenal penulis buku bestseller. Tapi kita bisa jadi pemantik kesadaran: bahwa menulis adalah bentuk jihad. Bukan jihad memukul yang berbeda, tapi jihad menyambung mata rantai ilmu. Karena jika pena tak lagi bercerita, maka ilmu hanya akan menjadi hiasan. Seperti pigura cantik yang digantung di dinding, tapi tak pernah diresapi maknanya. Ia indah, tapi sunyi. Kaya, tapi dingin. Terlihat agamis, tapi kehilangan ruh.
Maka, mari kembali pada pena. Bukan untuk menjadi sastrawan. Bukan untuk menjadi ulama. Tapi untuk menjadi mahasantri sejati: yang tak hanya mengaji, tapi juga menulis apa yang ia hayati. Sebab ilmu yang tidak ditulis, adalah ilmu yang pelan-pelan akan mati. Dan kita tak ingin jadi pembunuh yang tak sadar membunuh warisan para pendahulu.
Kabar Terkini dari Ma’had Aly Andalusia Leler Banyumas
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan