Dalam kajian ilmu nahwu khususnya pada Bab الاستثناء, tepatnya dalam pembahasan تكرار إلا. Konteks ini membahas dimana pengulangan lafal illā (تكرار إلا) memiliki tujuan tertentu dalam susunan kalimat bahasa Arab, dan pastinya dalam pengulangan tersebut tidak selalu memiliki fungsi yang sama.
Secara umum, tujuan pengulangan illā terbagi menjadi dua:
- untuk penegasan (للتوكيد )
- bukan untuk penegasan (لغير التوكيد)
Masing-masing pembagian tersebut memiliki pembahasan tersendiri dalam kaidah istisna’.
- Penegasan (للتوكيد )
Faedah tersebut terjadi pada إلا yang kedua ketika berkedudukan badal dan ‘athof . Jadi إلا tersebut tidak beramal menashobkan atau yang dikatakan di alfiyyah mulgho’ (وألغ إلخ… )
Contoh:
مَا رَأَيْتُ أَحَدًا إِلَّا زَيْدًا إِلَّا أَخَاكَ (badal)
Pada kalimat ini أخاك menjadi بدل dari زيدًا.
مَا رَأَيْتُ أَحَدًا إِلَّا زَيْدًا وَإِلَّا أَخَاكَ (athof)
Pada kalimat ini أخاك di athofkan kepada زيدًا dengan huruf و.
Pada contoh tersebut, illā yang pertama berfungsi sebagai alat istisna’ yang menashabkan mustatsnā yaitu زَيْدًا. Sementara pengulangan illā setelahnya tidak lagi beramal, melainkan berkedudukan sebagai badal atau ‘athaf bayan dari lafaz sebelumnya, sehingga tujuannya adalah memperkuat makna dari pengecualian yang telah disebutkan.
2. berbeda dengan ( لغير اللتوكيد ) yang terdapat dalam dua keadaan:
- Istisna’ Mufarragh (الاستثناء المفرغ)
Dalam keadaan ini, إلّا memberikan kedudukan i‘rab kepada salah satu lafaz setelahnya sesuai dengan tuntutan ‘amil sebelumnya. Kedudukan tersebut tidak harus selalu pada lafaz yang paling dekat dengan ‘amil. Artinya, salah satu kata setelah إلّا dapat menempati posisi yang diminta oleh ‘amil, seperti menjadi fa‘il atau maf‘ul bih. Adapun lafaz-lafaz setelah إلّا yang tidak menempati kedudukan tersebut maka dinashabkan sebagai mustatsnā.
Contohnya
مَا نَجَحَ إِلَّا زَيْدٌ إِلَّا عَمْرًا إِلَّا عَلِيًّا Pada kalimat ini, kata زَيْدٌ berkedudukan sebagai fa‘il marfu‘ karena mengikuti tuntutan fi‘il نَجَحَ. Sementara itu, عَمْرًا dan عَلِيًّا dinashabkan sebagai mustatsna karena adanya pengulangan lafal إلّا setelahnya. Hal inilah yang dimaksud dengan salah satu lafaz setelah إلّا dapat menempati kedudukan yang dituntut oleh ‘amil, sedangkan lafaz lainnya dinashabkan sebagai mustatsna. - Istitsna ghair mufarrogh (الاستثناء غير المفرغ) atau kalam tam yang terbagi manjadi dua keadaan:
- Jika mustatsna dikedepankan dan mustatsna minhu diakhirkan,baik kalam mujab ataupun manfi. Maka seluruh mustatsna dinashobkan.
contoh
مَا نَجَحَ أَوْ نَجَحَ إِلَّا زَيْدًا إِلَّا عَمْرًا إِلَّا عَلِيًّا الطُّلَّابُ
Dalam contoh ini hukum i‘rabnya sama, yaitu seluruh lafaz mustatsna dinashabkan. Hal ini karena posisi mustatsnā yang didahulukan menyebabkan semuanya tetap mengikuti hukum nasab sebagai bagian dari istisna’. - Jika mustatsna diakhirkan dari mustatsna minhu maka adakalanya:
•Kalam Mujab:
Atau tidak mengandung penafian, maka seluruh mustatsnā dinashabkan.
Contoh:
نَجَحَ الطُّلَّابُ إِلَّا زَيْدًا إِلَّا عَمْرًا إِلَّا عَلِيًّا
•Kalam Ghair Mujab (Kalam Manfī):
Dalam hal ini diperbolehkan menjadikan salah satu mustatsna sebagai badal dari mustatsnā minhu, sedangkan lafaz-lafaz lainnya tetap dinashabkan sebagai mustatsna.
Contoh:
مَا نَجَحَ الطُّلَّابُ إِلَّا زَيْدٌ إِلَّا عَمْرًا إِلَّا عَلِيًّا
Dari penjelasan ini dapat dipahami bahwa pengulangan lafal illā dalam bahasa Arab tidak selalu sekadar pengulangan biasa, melainkan memiliki fungsi gramatikal yang jelas dalam ilmu nahwu. Pemahaman terhadap perbedaan fungsi penegasan dan selain penegasan membantu pelajar bahasa Arab membaca serta menganalisis struktur kalimat dengan lebih tepat.
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan