Zulqarnain “menaklukan” daerah barat yaitu tempat nya umat yang bernama Nasak,. Mereka pun menerima dakwahnya, lalu ia merekrut umat-umat yang besar dari penduduk Barat tersebut untuk dijadikan pasukannya.
Maka setelah itu Zulqarnain melanjutkan perjalanannya ke arah selatan, yaitu wilayah kaum Hawil.
Perjalanan menuju selatan
Zulqarnain berangkat bersama pasukannya. ia memimpin mereka di depan, sementara kegelapan menggiring mereka dan menjaganya dari arah belakang, sedangkan cahaya berada di depannya untuk menuntun dan menunjukkan jalan baginya.
Ia pun berjalan menuju bagian bumi sebelah kanan (selatan), yaitu wilayah kaum Hawil.
Allah telah “mengalirkan kekuatan” (mensinkronkan) pada tangan, hati, akal, dan penglihatannya; sehingga ia tidak pernah melakukan kesalahan setiap kali melakukan suatu tindakan. Maka apabila mereka mendatangi tempat penyeberangan sungai yang dangkal atau lautan… Ia membangun sebuah dek/platform dari papan-papan kecil seukuran sandal. Ia menyatukannya dalam sekejap, lalu mengangkut seluruh orang yang bersamanya dari berbagai umat tersebut di atasnya.
Maka apabila ia telah menyeberangi lautan dan sungai-sungai, ia membongkar susunan papan itu kembali dan menyerahkan satu papan kepada setiap orang; sehingga masing-masing orang tidak merasa berat membawanya. (Hasyiyah Ashowi, 4/181)
Perjalanan menuju timur
Lalu Zulqarnain berangkat menuju penjuru bumi lainnya hingga sampai di wilayah Mansak di tempat terbitnya matahari (Timur). Ia pun melakukan tindakan yang sama di sana dan merekrut pasukan sebagaimana yang ia lakukan pada yang pertama.
Allah berfirman tentang perjalanan ini pada QS. Al-Kahf: Ayat 90
حَتّٰىٓ اِذَا بَلَغَ مَطْلِعَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَطْلُعُ عَلٰى قَوْمٍ لَّمْ نَجْعَلْ لَّهُمْ مِّنْ دُوْنِهَا سِتْرًاۙ
Hingga ketika sampai di posisi terbitnya matahari (arah timur), dia mendapatinya terbit pada suatu kaum yang tidak Kami buatkan suatu pelindung bagi mereka dari cahaya matahari itu.
Ciri-ciri Kaum Mansak
Imam Ashowi menjelaskan: Mereka adalah bangsa zanj
Zanj adalah sebuah istilah historis yang digunakan oleh para geograf Muslim pada Abad Pertengahan untuk menyebut bangsa-bangsa berkulit hitam di Afrika Timur. Khususnya di wilayah Swahili dan Bantu. Istilah ini secara geografis dikaitkan dengan kawasan “Bilad al-Zanj” (pesisir Tanzania dan Mozambik saat ini.
Adapun penggalan ayat :
لَّمْ نَجْعَلْ لَّهُمْ مِّنْ دُوْنِهَا سِتْرًاۙ
tidak Kami buatkan suatu pelindung bagi mereka dari (cahaya) matahari itu.
Yakni: dari sengatan matahari (suatu pelindung) baik berupa pakaian maupun atap bangunan. Karena tanah mereka tidak bisa menyangga bangunan, dan mereka memiliki liang-liang tanah (lubang bawah tanah) tempat mereka bersembunyi saat matahari baru terbit, lalu mereka keluar kembali setelah matahari telah tinggi. (Hasyiyah Ashowi, 4/184).
Kemudian ia berbelok menuju wilayah yang berada di tengah-tengah bumi, yang dihuni oleh manusia, jin, serta Ya’juj dan Ma’juj.
Penulis: Mujiburrohman
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan