Disebutkan pada tafsir Qurthubiy: Wahab bin Munabbih berkata: “Zulqarnain adalah seorang lelaki dari bangsa Romawi، putra dari salah seorang wanita tua mereka yang tidak memiliki anak lain selain dirinya، dan namanya adalah Iskandar. Maka ketika ia mencapai kedewasaan ia pun menjadi hamba yang saleh.
Allah Ta’ala berfirman—yakni melalui lisan seorang Nabi yang ada saat itu، atau melalui ilham:
يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ؛ إِنِّي بَاعِثُكَ
“Wahai Zulqarnain، sesungguhnya Aku mengutusmu”
Yakni sebagai penguasa kepada umat-umat di bumi
Mereka adalah umat-umat yang berbeda bahasa-bahasanya، dan mereka meliputi seluruh bumi. Mereka terbagi menjadi beberapa kelompok: dua umat yang jarak di antara keduanya sepanjang bumi seluruhnya، dan dua umat yang jarak di antara keduanya selebar bumi seluruhnya. Serta umat-umat yang berada di tengah bumi yang terdiri dari jin، manusia، serta Ya’juj dan Ma’juj”
Nama umat-umat yang ada di bumi
- Umat yang berada di penjuru bumi bagian selatan disebut dengan nama Hawil
- Umat yang berada di penjuru bumi bagian kiri (utara/barat) disebut dengan nama Tawil
- Umat yang berada di tempat terbitnya matahari (ujung timur) disebut dengan nama Mansak
- Umat yang berada di tempat terbenamnya matahari (ujung barat) disebut dengan nama Nasak. (Hasyiyah Ashowi, 4/180)
Pertanyaan Zulqarnain kepada Allah
Zulqarnain berkata:
إِلَهِي؛ لَقَدْ نَدَبْتَنِي لِأَمْرٍ عَظِيمٍ لَا يَقْدُرُ قَدْرَهُ إِلَّا أَنْتَ.
فَأَخْبِرْنِي عَنْ هَذِهِ الْأُمَمِ بِأَيِّ قُوَّةٍ أُكَاثِرُهُمْ؟ وَبِأَيِّ صَبْرٍ أُقَاسِيهِمْ؟
وَبِأَيِّ لِسَانٍ أُنَاطِقُهُمْ؟ وَكَيْفَ لِي بِأَنْ أَفْقَهَ لُغَتَهُمْ وَلَيْسَ لِي قُوَّةٌ؟
“Wahai Tuhanku; sesungguhnya Engkau telah menugaskanku untuk urusan yang sangat besar, yang tidak ada yang mampu mengukur kadar (beratnya) kecuali Engkau.
Maka kabarkanlah kepadaku mengenai umat-umat ini! dengan kekuatan apa aku dapat menandingi jumlah mereka? Dan dengan kesabaran apa aku dapat menghadapi kesulitan (berurusan) dengan mereka? dengan bahasa apa aku dapat berbicara kepada mereka? Serta bagaimana caranya aku bisa memahami bahasa mereka, sedangkan aku tidak memiliki kekuatan untuk itu?
Maka Allah Ta’ala berfirman:
سَأُظْفِرُكَ بِمَا حَمَّلْتُكَ، أَشْرَحُ لَكَ صَدْرًا فَتَسْمَعُ كُلَّ شَيْءٍ
وَأُثَبِّتُ لَكَ فَهْمًا فَتَفْقَهُ كُلَّ شَيْءٍ، وَأُلْبِسُكَ الْهَيْبَةَ فَلَا يَرُوعُكَ شَيْءٌ
وَأُسَخِّرُ لَكَ النُّورَ وَالظُّلْمَةَ فَيَكُونَانِ جُنْدًا مِنْ جُنُودِكَ.
يَهْدِيكَ النُّورُ مِنْ أَمَامِكَ، وَتَحْفَظُكَ الظُّلْمَةُ مِنْ وَرَائِكَ.
Allah Ta’ala berfirman: “Aku akan memenangkanmu dalam tugas yang Aku bebankan kepadamu. Aku lapangkan dadamu sehingga engkau dapat mendengar (memahami) segala sesuatu.
Dan Aku kokohkan pemahaman bagimu sehingga engkau mengerti segala sesuatu, serta Aku pakaikan kepadamu kewibawaan sehingga tidak ada sesuatu pun yang dapat menakutimu.
Dan Aku tundukkan bagimu cahaya serta kegelapan, sehingga keduanya menjadi tentara di antara tentara-tentaramu.
Cahaya akan menuntunmu dari arah depanmu, dan kegelapan akan menjagamu dari arah belakangmu.” (Hasyiyah Ashowi, 4/180-181)
Permulaan perjalanan Zulqarnain
Allah berfirman QS. Al-Kahf: Ayat 86
حَتّٰىٓ اِذَا بَلَغَ مَغْرِبَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَغْرُبُ فِيْ عَيْنٍ حَمِئَةٍ وَّوَجَدَ عِنْدَهَا قَوْمًا ەۗ قُلْنَا يٰذَا الْقَرْنَيْنِ اِمَّآ اَنْ تُعَذِّبَ وَاِمَّآ اَنْ تَتَّخِذَ فِيْهِمْ حُسْنًا
Hingga ketika telah sampai ke tempat terbenamnya matahari, dia mendapatinya terbenam di dalam mata air panas lagi berlumpur hitam. Di sana dia menemukan suatu kaum (yang tidak mengenal agama). Kami berfirman, “Wahai Zulqarnain, engkau boleh menghukum atau berbuat kebaikan kepada mereka (dengan mengajak mereka beriman).”
Ayat ini menjelaskan: setelah Allah mengutus Zulqarnain… ia pun berangkat bersama para pengikutnya menuju umat yang berada di tempat terbenamnya matahari (barat); karena mereka adalah umat yang paling dekat, yaitu umat Nasak.
ia telah sampai di penghujung daratan yang berpenghuni (batas pemukiman) di bumi, dan tiba di pesisir Samudra yang Melingkar (Al-Bahr al-Muhit).
Maka ketika tidak ada lagi pantai di hadapannya, melainkan hamparan air yang seolah tak berujung.. ia melihat matahari seakan-akan terbenam di dalamnya, dan Allah menyebutnya sebagai “mata air” (‘aynan); karena jika dibandingkan dengan sesuatu yang jauh lebih besar dalam ilmu Allah, samudra itu hanyalah seperti sebuah lubang mata air, meskipun dalam pandangan manusia ia terlihat sangat besar. (Hasyiyah Ashowi, 4/182)
Ciri ciri kaum “Nasak”
Di sana Zulqarnain mendapati sekelompok pasukan yang jumlahnya tidak ada yang tahu kecuali Allah, serta kekuatan dan keberanian yang tidak ada yang sanggup menandinginya kecuali Allah Ta’ala. Mereka memiliki bahasa yang berbeda-beda dan keinginan (ideologi) yang terpecah-belah.
Mereka kafir, dan mereka tinggal di sebuah kota yang memiliki dua belas ribu pintu, yang terletak di pesisir Samudra yang Melingkar (Al-Bahr al-Muhit).
Makanan pokok mereka adalah ikan-ikan yang terdampar oleh laut, dan pakaian mereka terbuat dari kulit binatang buas. (Hasyiyah Ashowi, 4/182-183)
Pengepungan Zulqarnain terhadap Kaum Nasak
Zulqarnain menundukkan mereka dengan kegelapan; ia mengepung mereka dengan tiga lapis pasukan kegelapan hingga meliputi mereka dari segala penjuru dan mengumpulkan mereka di satu tempat.
Kemudian ia mendatangi mereka dengan membawa cahaya, lalu menyeru mereka kepada Allah Ta’ala dan untuk menyembah-Nya. Di antara mereka ada yang beriman, dan ada pula yang berpaling darinya.
Maka ia menimpakan kegelapan kepada mereka yang berpaling hingga kegelapan itu menyelimuti mereka dari segala arah; masuk ke mulut, hidung, mata, dan rumah-rumah mereka. Mereka pun menjadi bingung, gelisah, dan takut akan binasa, hingga akhirnya mereka berseru kepada Allah dengan satu suara: “Sesungguhnya kami telah beriman!”
Ketika mereka telah beriman… Maka Zulqarnain menghilangkan kegelapan itu dari mereka dan menguasai mereka dengan kekuatan. Mereka pun menerima dakwahnya, lalu ia merekrut umat-umat yang besar dari penduduk Barat tersebut untuk dijadikan pasukannya.
Penulis: Mujiburrohman
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan