Fajar baru saja menyingsing di ufuk timur, menyisakan semburat jingga yang membelah kabut tipis di lereng barat maqam leler. Miftah, salah satu santri Andalusia sudah sibuk dengan perlengkapan ngaritnya. Dalam sakunya masih membawa buku wirid seusai sholat jama’ah shubuh dan dluha, kini berganti dengan dinas perternakan dengan arit yang digenggamnya.
Tujuannya bukan ke kelas, melainkan ke sebuah bangunan kayu yang berada di tepi barat maqam leler. Wangi aroma rumput hijau dan aroma khas anomia seketika menyambutnya. Di sana puluhan ekor kambing gembel jenis Merino dan PE sudah riuh mengmbik, seolah tahu bahwa “pelayan” mereka telah datang.
Inilah potret keseharian di Andalusia Farm, salah satu sub Khidmah di Pesantren Attaujieh Alislamy 2 Andalusia, sebuah pendidikan lembaga Islam yang mempunyai jalan unik dalam mendidik santrinya. Di sini, kurikulum tidak hanya tertulis di atas kitab gundul, tetapi juga terwujud dalam bentuk nyawa-nyawa yang bergantung pada kedisiplinan seorang santri. Inilah konsep “Kandang culture”, sebuah laboratorium kehidupan tempat tanggung jawab ditempat melalui kotoran, keringat, dan kasih sayang kepada makhluk Tuhan.
Lebih dari sekedar urusan perut
Bagi masyarakat awam, perternakan di lingkungan pesantren sering hanya dilihat sebagai unit usaha pesantren. Namun, bagi kang Fadhil, senior Sub Khidmah ternak, perternakan adalah instrumen pedagogis yang paling jujur.
“Mengajar manusia lebih sulit karena manusia bisa bersandiwara. tapi hewan tidak, “ujar beliau sambil memberi makan kambing.” Kambing-kambing ini adalah saksi atas tanggungjawab kita, kalo tanggungjawabnya kurang, ya kambing akan terus berisik dan kurus karena tidak terurus, kalo tanggung jawab kita bagus maka akan terlihat pada kondisi fisik Kambing-kambingnya.”
“Di sini (di Andalusia farm), saya belajar bahwa tindakan saya akan memiliki konsekuensi langsung terhadap nyawa lain,” ujar Zaman, santri yang berkhidmah di perternakan.
Pendidikan karakter melalui ternak sebenarnya merupakan Napak tilas Sirah Nabawiyah. Dalam Islam, hampir seluruh Nabi pernah menjadi penggembala kambing. Ada filosfi mendalam di balik aktivitas tersebut: melatih kesabaran, kepekaan, kepemimpinan dan yang terpenting adalah tanggungjawab.
Kurikulum “Ngalap Barokah” di balik arit, Miftah dan kawan-kawannya tidak menganggap tugas di kandang sebagai beban atau hukuman. Sebaliknya, ini adalah bagian dari Khidmah (pengabdian). Di pesantren, ada keyakinan bahwa membantu urusan makhluk hidup lain mendatangkan keberkahan dalam menuntut ilmu.
Setiap pagi dan sore, para Santi yang berkhidmah di kandang dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil. Ada yang bertugas mencari rumput (ngarit), membersihkan kandang, memandikan ternak dan lain sebaginya. Proses ini tidak mudah, ngarit misalnya, menuntut fisik yang kuat dan ketelitian. Mereka harus tahu rumput mana yang segar dan mana yang mengandung racun yang dapat membahayakan hewan ternak.
“Awalnya saya merasa jijik, capek juga” kata Syarif salah satu santri juga sambil membersihkan kandang. “Bau kotorannya membuat saya mual di hari pertama saya ikut kandang”, lanjutnya.
Tanggung Jawab diuji saat cuaca tidak bersahabat. Ketika hujan deras mengguyur, para santri tidak bisa begitu saja bersantai. Mereka harus memikirkan bagaimana pakan untuk kambing selanjutnya. Kadang mereka rela ngarit pada cuaca mendung meski tahu pulangnya basah kuyup karena diguyur hujan. Mereka harus memastikan kondisi kandang tetap baik, tidak ada yang mengalami kebocoran saat hujan dan harus mengawasi kondisi kesehatan kambing agar tetap hangat dan tidak sakit.
Manajemen Konflik di Palung Pakan
Menariknya, perternakan pesantren juga arena belajar manajemen Konflik dan organisasi. Kambing memiliki hierarki sosial yang unik, ada yang dominan dan ada yang sering tertindas saat jam makan. Para santri belajar mengamati dinamika ini. Mereka harus memastikan kambing yang kecil atau lemah tetap mendapatkan jatah pakan dan perawatan yang cukup.
“Kami belajar keadilan, karena semua kambing harus mendapatkan porsi sesuai dengan kebutuhannya”, ujar Miftah.
Transformasi Ekonomi dan Kemandirian
Selain pembentukan karakter, aspek ekonomi juga tidak bisa dikesampingkan. Perternakan pesantren yang dikelola dengan baik mampu menjadi mesin ekonomi yang luar biasa. Hasil penjualan kambing, bibit ternak hingga daging hasil ternak sering kali diputar untuk mencukupi kebutuhan perternakan tersebut.
Ini adalah bentuk nyata dari kemandirian umat. Santri tidak lagi hanya lulus membawa ijazah dan kemampuan ceramah, tetapi juga membawa keterampilan wirausaha (entrepreneurship) yang mumpuni. Mereka siap terjun ke masyarakat bukan sebagai peminta kerja, melainkan sebagai pencipta peluang kerja.
Mencetak Pemimpin yang Membumi
Matahari mulai menenggelamkan diri, sinar jingga menyinari hamparan rumput hijau disekitar wilayah kandang. Miftah baru saja menyelesaikan tugasnya, Bajunya basah keringat dan bau kandang masih menempel ditubuhnya. Namun, ada binar kebanggan dimatanya saat melihat kambing-kambing asuhannya tenang mengunyah pakan.
“Kandang Culture” bukan sekadar tempat memelihara hewan ternak. Iya adalah rahim bagi lahirnya pribadi-pribadi yang tangguh. Melalui interaksi ternak, para santri diajarkan bahwa kepemimpinan yang sesungguhnya adalah tentang pelayanan. Seorang pemimpin harus turun kebawah dan memastikan semua yang dipimpinnya sejahtera.
Kelak, saat Miftah dan kawan-kawannya muqim (pulang ke rumah), mereka mungkin tidak akan menjadi perternak secara professional. Sebagian mungkin menjadi guru, pengusaha, penjabat pemerintah atau ulama’. Namun pelajaran palung pakan itu akan tetap melekat, bahwa tanggungjawab adalah amanah yang harus dijaga dengan ketulusan, layaknya menjaga nyawa yang dititipkan Tuhan di dalam kandang sederhana mereka.
Di pesantren, belajar agama tidak selalu berarti menatap kitab seharian. Kandang, suara embikan kambing dan aroma rumput adalah “ayat-ayat semesta” yang memberikan pelajaran jauh lebih dalam tentang arti menjadi manusia yang bermanfaat. Karena pada akhirnya, karakter tidak dibantuk teori, melainkan oleh tindakan nyata yang dilakukan berulang-ulang dengan penuh kesabaran.
Penulis: Ahmad Ibnu Malik
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial









Tinggalkan Balasan