Hari itu, selasa sore, dengung percakapan anak-anak tercampur baur menjadi satu, ada yang menitip jajan di koperasi, bertanya lauk makan malam, bercerita keseruan kegiatan hari itu, hingga saling melempar candaan dan ghibah ringan khas kehidupan pondok. Berbeda dengan kamar lainnya, tak ada suara riuh dan gelak tawa berlebihan di kamar ujung lantai 3, kamar ini justru dipenuhi suara umik-umik (gumaman lirih) hafalan, nderes, dan saling simak-menyimak. Bahkan, dibeberapa ujung terdapat anak yang menunduk sambil memegang kitab, menghadap tembok maupun lemari kayu agar lebih fokus menghafal.
Enam penyimak duduk berjajar di tengah kamar, menerima setoran dari 44 anak bergantian. Sebagai kelas intensif, kamar bahasa putri kerap “curi-curi” waktu di sela kesibukan para santri, seperti ba’da Ashar maupun Maghrib, menyesuaikan waktu luang tiap tingkatan.
A. Tujuan pembentukan program bahasa putri
Kelas ini dibentuk sebagai wadah pembinaan dan pengembangan santri yang memiliki minat dan bakat dalam berbahasa arab, serta meningkatkan kemampuan anggotanya, khususnya dalam keterampilan berbicara, mendengar, membaca, dan menulis.
“Adanya kamar bahasa yang dipisah ini, kami harap bisa jadi lingkungan yang ngedukung anak-anak biar aktif ngomong pake bahasa arab. Karena, kita kan bisa karena terbiasa. Memang, awalnya harus dipaksa, jadi lingkungannya juga harus mendukung,” ujar Mba A’yun, salah satu pengurus bahasa putri.
B. Seleksi masuk
Tes seleksi bahasa putri hanya dibuka setahun sekali, sekitar 2 bulan sebelum haflah akhirussanah, dan hanya diperuntukkan bagi kelas 2 tsanawiyah dengan jumlah kuota yang sangat terbatas. Tes ini dilaksanakan dalam 2 tahap: Tes tulis, dan tes wawancara.
Suatu kebanggaan tersendiri bisa bergabung dengan kamar ini. Pasalnya, rata-rata penghuninya adalah pemegang ranking paralel, baik di bidang diniyyah maupun formal.
“Seneng, Mba, tapi juga ada sedikit rasa terbebani sama label ‘kamar bahasa, kamar unggulan’ karena buat aku sendiri, bukan aku yang hebat, tapi label kamar bahasa itu yang buat aku dipandang ‘wah’ sama anak-anak lain,” ujar Talitha, santri kelas 2 aliyah.
Tanggapan lain juga datang dari Nasya, santri kelas 1 aliyah.
“Jadi termotivasi sih, Mba, bisa sekamar sama anak-anak yang ambisius dan pinter. Enaknya lagi, kita bisa sharing pelajaran, yang ngga paham mana, nanti dijelasin sama yang paham.”
C. Jam pelajaran tambahan
Seperti yang sudah disebutkan diatas, kelas ini harus pandai memanfaatkan waktu luang demi terlaksananya jam tambahan. Adadapun mata pelajaran yang diperdalam meliputi fan nahwu, balaghoh, arudh, qiroah, istima’, dan lain sebagainya.
Jam tambahan ini dilaksanakan ba’da Shubuh dan Isya untuk anak-anak kelas 3 tsanawiyah dan 1 aliyah. Sedangkan kelas 2 dan 3 aliyah dilaksanakan setelah Maghrib sembari menunggu kloter ngaji alfiyyah bersama Syaikh Zuhrul Anam Hisyam.
“Gugup, takut tiba-tiba kloter satu udah selese. Tapi itu konsekuensi kita si mba, emang jadwalnya gitu…jadi, kita yang harus bisa nyesuain. Pas ngaji tambahan kita harus udah siap, rapi, biar nanti tinggal berangkat,” ucap Talitha.
D. Setoran mufrodat
Kitab yang digunakan ialah kitab al af’al al yaumiyyah yang berisi ratusan kosakata harian, baik berupa fiil maupun isim. Setoran dilaksanakan setiap selasa dan jumat sore, 10 hingga 30 mufrodat.
Selain itu, waktu sempit ini juga digunakan untuk ngaos Al-Qur’an bin nadhor bagi anak kelas 3 tsanawiyah dan 1 aliyah yang belum mengaju langsung bersama Ibu Nyai Rodliyah ba’da Shubuh.
“Kalo ditanya,eman-eman ngga waktunya. Ya…ngga sih, karena sebenernya kita ngga sesibuk itu. Malah, kita dapet benefit, belajar lebih banyak dari yang lain, kaya contohnya, kita udah belajar pelajaran kelas 2 aliyah padahal kita masih kelas 1. Jadi kita udah tau lebih dulu gitu… ” ucap Nasya.
Ia juga menambahkan bahwa momen paling melelahkan biasanya terjadi ketika jadwal tambahan berbenturan dengan piket pondok dan mengambil makan.
“Paling gugup itu kalo ngepasin banget jadwal piket pondok, ya piket ambil makan juga. Rasanya jadi orang paling sibuk sedunia, hehe. Soalnya kita kan posisi belum makan, terus wajib jamaah, dan habis jamaah langsung berangkat ngaos Abah.”
Di tengah padatnya aktivitas pondok, kelas bahasa putri menjadi ruang kecil yang dipenuhi kesungguhan. Di kamar sederhana itu, para santri bukan hanya belajar bahasa arab, tetapi juga belajar membagi waktu, menjaga disiplin, dan bertahan di tengah kesibukan yang tidak semua orang mampu jalani.
“Semoga kamar bahasa ini bisa jadi sarana pengembangan kemampuan berbahasa arab secara aktif dan berkelanjutan. Semoga nanti anggota-anggotanya bisa mencetuskan ide-ide baru buat ningkatin kebahasaan di pondok secara menyeluruh, seperti harapan Abah,” ujar Mba A’yun menutup percakapan kami.
Kamar bahasa putri menyimpan cerita tentang ketekunan yang tumbuh perlahan. Tidak selalu tentang siapa yang paling pintar, tetapi tentang anak-anak yang yang memilih bertahan di tengah kesibukan demi satu tujuan: belajar lebih banyak dari hari kemarin. Dari kamar sederhana di ujung lantai tiga itu, lahir kebiasaan kecil yang kelak mungkin akan menjadi bakal besar. Tentang disiplin, perjuangan, dan keberanian menjaga mimpi di tengah riuhnya kehidupan pondok.
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial









Tinggalkan Balasan