Di bawah naungan Zawiyah yang tenang, gema suara dosen yang menjelaskan kitab Kalilah wadimnah dan diskusi hangat mengenai Ushul Fiqh biasanya menjadi asupan harian yang menyejukkan jiwa. Namun, pagi itu suasana terasa berbeda. Di balik deretan kitab dan konsentrasi yang berusaha dijaga, terdapat sebuah perjuangan fisik yang mulai menyerang. Rasa nyeri yang hebat di bagian perut muncul tanpa aba aba, menusuk perlahan namun konsisten. Sebagai seorang mahasantri yang terbiasa mandiri, ego sempat membisikkan bahwa ini hanyalah gangguan kecil yang lazim dialami kaum hawa. Namun, ketenangan semu itu perlahan runtuh saat langkah kaki terasa semakin berat untuk sekadar membeli lauk pauk bersama teman temanku yaitu Anggita, Melly, dan Roro.
Sakit yang semula dianggap remeh ternyata bertransformasi menjadi badai yang melumpuhkan. Di balik aroma freshcare yang menyengat di bagian perutku, tubuh ini tergeletak tak berdaya, bahkan untuk menyentuh makanan pun tak sanggup. Meski sempat memaksa diri untuk menyambut kedatangan Syaikh dari Mesir sebagai bentuk penghormatan terhadap ilmu pada malam hari, pertahanan fisik akhirnya kena juga. Diagnosis muntaber yang datang tiba-tiba mengubah malam yang sunyi menjadi rangkaian perjalanan menyakitkan menuju kamar mandi. Di tengah heningnya pukul 03.00 WIB, saat tubuh terjatuh lemas di depan pintu kamar dalam kondisi kedinginan, bantuan datang melalui tangan lembut kakak tingkat yang penuh empati.
Keputusan untuk dilarikan ke rumah sakit membawa kecemasan baru yang lebih besar daripada rasa sakit fisik itu sendiri, ketakutan akan membuat orang tua khawatir. Bayangan wajah Ibu yang hancur hatinya mendengarkan kabar ini menjadi beban moral yang menghimpit dada. Namun, di bawah pengaruh cairan infus yang mulai mengalir dan nasehat bijak dari dokter serta kakak tingkat, kesadaran mulai muncul bahwa menerima bantuan bukanlah tanda kelemahan. Sakit adalah sisi manusiawi yang tak terelakkan, dan dalam kondisi inilah peran orang tua seringkali menjadi obat yang paling mujarab melampaui resep kimia manapun.
Fajar menyingsing di rumah sakit, membawa serta merta sosok yang paling dirindukan. Ibu datang bukan dengan kemarahan karena kabar yang mendadak, melainkan dengan raut wajah yang merupakan perpaduan antara kekhawatiran mendalam dan kelegaan luar biasa. Saat mata kami bertemu, ada sebuah frekuensi tak kasat mata yang menyalurkan kekuatan seketika. Ibu, dengan segala ketulusannya, segera mengambil alih seluruh peran perawatan. Beliau bukan sekadar penunggu pasien, melainkan menjadi sandaran utama yang menyuapi setiap sendok makanan dengan penuh kesabaran, memastikan setiap teguk air masuk ke kerongkongan, hingga menuntun langkah kaki yang masih goyah menuju kamar mandi.
Malam-malam di ruang perawatan menjadi saksi bisu betapa luasnya samudera kasih sayang seorang Ibu. Di saat Bapak harus kembali karena tuntutan kesibukan, Ibu tetap teguh berdiri di garis depan sebagai penjaga tunggal. Kehangatan itu semakin terasa saat aku ingin berbagi ranjang rumah sakit demi memeluknya di tengah dinginnya malam. Air mata seringkali tak terbendung saat melihat beliau terlelap dalam posisi yang jauh dari kata nyaman, namun tetap menampakkan wajah yang tegar di hadapanku. Ketegaran itu seolah menjadi pesan tersirat bahwa selama beliau ada di sisi, maka kesembuhan hanyalah masalah waktu yang sebentar lagi akan tiba.
Transformasi luar biasa terlihat jelas bahkan setelah kami kembali ke rumah. Ibu, yang biasanya memiliki karakter tegas dengan nada bicara yang terkadang tinggi, seketika berubah menjadi sosok yang penuh kelembutan dan kesabaran tanpa batas. Beliau seakan memiliki energi cadangan yang tak ada habisnya, meski lelah setelah berhari-hari di rumah sakit, beliau tetap merawat harmoni rumah tangga, mencuci pakaian kotor, dan meracik menu bergizi demi memulihkan staminaku. Larangan “istirahatlah nak” menjadi kalimat sakti yang beliau ucapkan setiap kali aku mencoba untuk sekadar meringankan beban pekerjaannya yang menumpuk.
Di tengah haru birunya kasih sayang Ibu, hadir pula sosok Bapak yang berjuang dengan caranya sendiri di balik layar. Beliau sibuk mengurus aktivasi BPJS-ku yang sempat nonaktif karena terdaftar sebagai penerima bantuan pemerintah. Beruntung, melalui tangan seorang rekan Bapak, jalan itu dimudahkan hingga proses administrasi tak lagi menjadi beban pikiran yang menghimpit. Kelegaan ini memberikan ruang bagi jiwaku untuk fokus pada pemulihan, sembari menyimpan rasa kagum pada Bapak yang tetap mampu mengatasi kesibukannya meski tampak sedikit kewalahan tanpa kehadiran Ibu di sisinya.
Ketidakhadiran Ibu di rumah demi menjagaku di rumah sakit menyingkap sisi lain dari ketergantungan kami pada beliau. Bapak, yang terbiasa menyerahkan urusan domestik sepenuhnya pada Ibu, seringkali lupa waktu hingga melewatkan jam makan karena tak ada sosok yang mengingatkan. Dalam masa-masa kritis itu, harmoni keluarga tetap terjaga berkat kebaikan hati kak iparku yang dengan telaten mengantarkan makanan untuk Bapak. Keadaan ini menjadi tamparan lembut yang membuatku semakin mengerti; bahwa tanpa kehadiran seorang Ibu, ritme kehidupan di rumah seolah kehilangan kompasnya. Ibu adalah perekat yang menyatukan seluruh elemen keluarga, dan tanpanya, segalanya terasa begitu berbeda.
Kesunyian malam di rumah, saat Bapak harus bertugas ke luar kota, menjadi momen refleksi yang sangat mendalam. Di bawah selimut yang sama, pelukan erat yang kuberikan adalah simbol dari rasa terima kasih yang tak mampu terucap secara tuntas lewat kata-kata. Kalimat sederhana, “Terima kasih ya Bu, sudah merawatku sampai sembuh,” mungkin hanyalah butiran debu dibandingkan gunung pengabdian yang telah beliau berikan. Di sana, aku menyadari bahwa cinta seorang Ibu tidak mengenal kata libur atau lelah, ia adalah pengabdian sepanjang hayat yang berjalan secara otomatis tanpa mengharapkan tanda jasa atau upah materiil.
Kini, kesehatan telah kembali dan rutinitas belajar pun berlanjut sebagaimana mestinya. Namun, ada satu hal yang berubah dalam cara pandangku terhadap hidup, kesembuhan ini bukan sekadar hasil dari kerja medis, melainkan dari doa-doa tulus yang dilangitkan Ibu di setiap sujudnya. Kasih sayang Ibu memang benar adanya bersifat sepanjang masa, sebuah anugerah tak ternilai yang menjadi pilar kekuatan bagi setiap anak dalam menghadapi badai kehidupan. Pengalaman pahit akibat sakit ini justru menjadi jalan bagiku untuk mencicipi manisnya ketulusan yang paling murni di dunia ini, yakni cinta seorang Ibu.
Menutup seluruh rangkaian kisah tersebut, sosok Ibu adalah bentuk dari keteguhan yang dibalut kelembutan, ia adalah pelabuhan terakhir tempat segala lara dan lelah seorang anak luruh tak bersisa. Melalui setiap suapan yang hambar di rumah sakit hingga pelukan hangat di bawah selimut rumah yang sederhana, Ibu telah membuktikan bahwa kasih sayangnya adalah kekuatan metafisik yang bekerja melampaui logika medis manapun. Beliau bukan hanya merawat raga yang sempat tumbang oleh sakit, melainkan juga memulihkan jiwa yang sempat goyah oleh kecemasan di perantauan. Pada akhirnya, kesembuhan ini adalah hadiah terindah yang dirajut dari benang-benang doa di sujud malamnya dan ketulusan jemarinya yang tak pernah lelah berkhidmat bagi kenyamanan sang anak. Di balik setiap bait ilmu yang kini kembali aku pelajari di pondok, tersimpan jasa luar biasa seorang Ibu yang kasihnya akan terus mengalir, abadi, dan takkan pernah mampu terbalaskan oleh waktu.
Oleh : Alfina Chalimatus Sa’diyah
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial









Tinggalkan Balasan