Di tengah masyarakat Arab yang sangat menjaga kehormatan nasab, sebuah kejadian yang menyentuh hati terjadi pada masa Rasulullah ﷺ. Peristiwa ini berkaitan dengan Usamah bin Zaid dan sang ayah, Zaid bin Haritsah.Isu tentang nasab dan kehormatan keluarga bukanlah perkara ringan dalam tradisi Arab.
Pada masa itu, sebagian orang sempat meragukan hubungan nasab antara Usamah dan ayahnya karena perbedaan warna kulit keduanya. Keraguan tersebut mencerminkan kuatnya standar sosial yang berlaku, di mana kemiripan fisik sering dijadikan tolak ukur dalam menetapkan garis keturunan. Situasi ini tentu bukan perkara kecil, sebab menyangkut martabat keluarga dan kehormatan pribadi.
Namun keraguan akan hal itu terjawab
Oleh salah satu hadis yang diriwayatkan dalam kitab Mukhtasar Sahih Muslim karya imam Al – mundziri pada bab قبول قول القافة في الولد (no. 878), disebutkan:
عَنْ عَائِشَةَ مَا قَالَتْ : دَخَلَ عَلَى رَسُولُ اللهِ ﷺ ذَاتَ يَوْمٍ مَسْرُورًا، فَقَالَ : يَا عَائِشَةُ أَلَمْ تَرِي أَنَّ مُجَرِّزًا المُدْلِجِيَّ دَخَلَ عَلَيَّ، فَرَأَى أَسَامَةَ وَزَيْدًا وَعَلَيْهِمَا قَطِيفَةٌ، قَدْ قَطِيفَةٌ، قَدْ غَطْيَا رُؤوسَهُمَاوَبَدَتْ أَقْدَامُهُمَا، فَقَالَ : إِنَّ هَذِهِ الْأَقْدَامَ بَعْضُهَا مِنْ بَعْض
Dijelaskan bahwa suatu hari Rasulullah ﷺ masuk menemui Aisyah dalam keadaan gembira. Beliau menyampaikan bahwa seorang ahli nasab dari kabilah Mudlij, yaitu Mujazziz al-Mudliji, baru saja datang dan melihat Usamah serta Zaid yang sedang berbaring dengan tubuh tertutup selimut, sementara kaki mereka terlihat.
Setelah memperhatikan keduanya, Mujazziz berkata, “Sesungguhnya kaki-kaki ini sebagiannya dari sebagian yang lain.” Pernyataan tersebut menunjukkan adanya kemiripan yang jelas antara Usamah dan Zaid, sehingga menegaskan terdapat hubungan ayah dan anak di antara keduanya.
Ucapan itu pun menjadi penegasan yang mematahkan keraguan yang beredar di tengah masyarakat saat itu. Keahlian Mujazziz dalam mengenali keserupaan fisik diakui pada masa itu, sehingga kesaksiannya memiliki nilai yang kuat dan dipercaya.
Kegembiraan Rasulullah ﷺ bukan tanpa alasan. Kegembiraan itu bukan hanya karena prasangka berhasil dipatahkan, melainkan juga karena kehormatan seorang sahabat terlindungi. Peristiwa ini menjadi pelajaran bahwa kebenaran pada akhirnya akan tampak jelas, serta bahwa perbedaan warna kulit tidak dapat dijadikan alasan untuk meragukan hubungan darah ataupun merendahkan seseorang.
Peristiwa ini juga mencerminkan kebijaksanaan Rasulullah ﷺ dalam menjaga keharmonisan masyarakat. Beliau tidak membiarkan isu berkembang tanpa kejelasan, dan ketika kebenaran tampak, beliau menunjukkan kegembiraan sebagai bentuk dukungan terhadap keadilan dan penghormatan pada martabat manusia.
Dengan demikian, peristiwa tersebut bukan hanya menjadi catatan sejarah, tetapi juga pelajaran berharga tentang pentingnya menjaga kehormatan keluarga, menghindari prasangka, serta menghargai keahlian dalam menetapkan kebenaran.
Oleh: Melly Dwi Rahmawati
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan