10 Mei 2026, Bau harum sosis bakar yang menusuk hidung menyambut siapa saja saat pintu tangga lantai 4 terbuka. Ketika jam menunjukkan pukul 22.00, riuh tawa anak-anak mulai terdengar. Mengapa hal itu terjadi? Padahal senyum dan tawa itu bisa terjadi setiap waktu.
Jawabannya sederhana: jam itu menandakan kegiatan belajar telah selesai dan lampu-lampu mulai dinyalakan sebagai tanda bahwa tempat ini akan melapangkan pintunya untuk menyambut para pejuang literasi yang lelah.
Letaknya berada di lantai 4 Asrama Putri dan selalu ramai oleh orang-orang yang ingin mengisi perutnya dengan makanan yang lezat. “Cafe Andalusia”, sebuah tempat di mana setiap sudutnya dirancang instagramable, aesthetic, dan siap menjadi spot foto favorit para santriwati. Di tengah arsitektur bangunan asrama yang cenderung formal, cafe ini hadir dengan sentuhan modern yang memberikan nuansa berbeda, seolah-olah membawa para santriwati sejenak keluar dari rutinitas pondok yang padat tanpa harus melampaui pagar pesantren.
Berbekal banyak kreasi, cafe ini menyediakan beragam pilihan menu yang menggugah selera. Mulai dari mie, baik kuah maupun goreng dengan berbagai tingkat kepedasan, hingga nasi telur yang menjadi penyelamat bagi para santriwati yang merasa lapar di tengah malam. Ada pula seafood bakar seperti dumpling, sosis, dan nugget yang sangat cocok untuk camilan ringan sambil bercengkerama.
Tak lengkap rasanya jika makanan tersaji tanpa penghilang dahaga. Cafe ini menyediakan banyak varian minuman, mulai dari kopi yang menemani obrolan serius, minuman cokelat yang menenangkan, hingga minuman berasa buah yang menyegarkan tenggorokan.
“Kami berusaha menyediakan kebutuhan para santri yang ingin mengisi perutnya setelah menghadapi hiruk-pikuknya kegiatan seharian penuh. Kami tahu betapa lelahnya mereka setelah mengaji dan sekolah,” tutur Abqoriatus, 26 tahun, ketika saya menyengaja datang ke cafe saat malam Jumat.
Jiwa Tertib dan Disiplin dalam Diri Santri
Yang menarik perhatian saya kala itu adalah peraturan mengambil nasi. Salah satu penjaga memaparkan bahwa sistem pengambilan nasi ini diubah demi menjaga ketertiban antrean di dalam cafe yang luasnya terbatas namun peminatnya membludak.
“Sistem pengambilan nasi ini diubah agar tertib. Anak-anak akan membayar nasi terlebih dahulu di kasir utama, kemudian pihak kasir akan memberi balok kayu sebagai tanda bahwa pembayaran telah lunas,” kata Alfina, 19 tahun, rekan Abqoriatus yang malam itu sibuk melayani pelanggan.
Ketika anak-anak menerima balok tersebut, mereka akan bergeser ke stand nasi dan memberikannya kepada penjaga untuk ditukar dengan porsi yang diinginkan. Hal tersebut dirasa lebih efektif karena sistem pembayaran dan stok nasi menjadi lebih terkontrol, menghindari adanya santri yang terlewat atau antrean yang saling mendahului.
Cafe ini beroperasi selama kurang lebih 2 jam saja, dari pukul 22.00 hingga 24.00. Durasi ini dianggap ideal karena anak-anak sedang berada di fase santai setelah lepas dari jam wajib belajar dan sebelum memasuki waktu istirahat tidur malam.
“Harapannya, anak-anak bisa lebih gembira dan semangat dalam belajar serta tidak kesulitan mencari makanan saat lapar. Kami semaksimal mungkin memberikan pelayanan yang ramah dan bersahabat agar mereka merasa seperti di rumah sendiri,” ujar Nuri, 20 tahun, yang juga berjaga di sana.
Obat Bosan bagi Santri: Ruang Rekreasi Sederhana
Selain urusan perut, ada satu sudut yang mencuri perhatian dan menjadi favorit banyak orang: meja pingpong. Iya, betul, meja pingpong di dalam asrama putri. Pengunjung bisa menikmati fasilitas ini secara cuma-cuma alias gratis. Fasilitas ini menjadi pelampiasan energi yang positif; suara bola yang beradu dengan meja kayu berpadu dengan sorak-sorai penonton di pinggir meja, menciptakan atmosfer kompetisi yang sehat dan menyenangkan.
Anak-anak merasa senang karena ada hiburan lain yang mengusir bosan, seperti televisi yang menayangkan acara menghibur layaknya Upin-Ipin atau film kartun lainnya. Hal tersebut terasa sangat spesial karena selama di pondok, mereka tidak difasilitasi gawai atau barang elektronik pribadi. Menonton bersama teman-teman satu asrama memberikan sensasi kekeluargaan yang erat, di mana mereka bisa tertawa bersama pada adegan yang sama.
Bagi pecinta harmoni, Cafe Andalusia selalu memutar daftar musik yang sedang hits dan terbaru, menambah suasana malam menjadi lebih hangat, akrab, dan kekinian.
“Saya merasa selama saya jaga, anak-anak terlihat lebih ceria. Mereka bisa mengobrol dengan santai tanpa beban tugas, sambil menikmati hidangan yang ada. Melihat mereka tersenyum sudah menjadi kepuasan tersendiri bagi kami,” tutur Linnatul, 19 tahun, yang saat itu sedang merapikan beberapa kursi.
Kebersihan dan Keberkahan: Lebih dari Sekadar Cafe
Meski menjadi pusat keramaian dan tempat berkumpulnya ratusan santriwati dalam waktu singkat, kebersihan tetap menjadi prioritas utama yang tidak bisa ditawar. Cafe ini bukan hanya tempat makan, tapi juga tempat belajar karakter. Setiap santriwati yang datang diajarkan untuk bertanggung jawab atas sisa makanan dan kemasan mereka sendiri. Hal ini sejalan dengan pendidikan karakter di pesantren yang menekankan kemandirian.
Di beberapa sudut strategis, tersedia tempat sampah terpilah antara organik dan anorganik. Papan imbauan kecil bertuliskan “Kebersihan adalah Sebagian dari Iman” menjadi pengingat halus bagi setiap pengunjung yang datang. Petugas kantin pun secara sigap mengelap meja secara berkala dengan cairan pembersih agar suasana estetika cafe tetap terjaga dan nyaman dipandang mata. Mereka percaya bahwa tempat yang bersih akan melahirkan pikiran yang jernih.
Lebih dari sekadar transaksi jual beli atau mencari keuntungan materi, Cafe Andalusia dikelola dengan semangat pengabdian dan cinta. Para pengurus yang berjaga sangat sadar bahwa melayani para penuntut ilmu memiliki nilai keberkahan dan pahala tersendiri di sisi Allah. Di sela-sela melayani pesanan yang datang bertubi-tubi, sering kali terselip doa tulus, senyuman penyemangat, dan obrolan ringan yang memotivasi para santriwati agar tetap istiqomah dalam menuntut ilmu.
“Kami ingin cafe ini menjadi tempat healing sederhana bagi mereka. Tempat untuk membuang rasa lelah setelah seharian bergelut dengan kitab kuning, hafalan Al-Qur’an, dan pelajaran sekolah,” pungkas salah satu pengurus dengan mata berbinar.
Di sini, di lantai 4 Asrama Putri, pada sebuah sudut bernama Cafe Andalusia, rasa lapar mungkin hilang dengan seporsi mie, namun rasa lelah hilang karena kebersamaan yang tidak akan ditemukan di tempat lain. Malam pun ditutup dengan hati yang kenyang dan jiwa yang tenang.
Oleh : Aminah Nur kholifah
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan