Kita setiap tahun menjumpai bulan Dzulhijjah. Akan tetapi, terkadang kita lalai dalam memahami makna yang terkandung dalam bulan tersebut. Bahkan kita hanya tahu Idul Adha yang di dalamnya ada prosesi sembelih hewan kurban, dan tidak terlalu mengerti hari-hari sebelumnya yaitu hari Tarwiyah, hari Arafah …
Apa yang dimaksud dari hari-hari tersebut? Apakah Hanya untuk puasa sunnah saja? Ataukah ada sejarah yang tesembunyi di baliknya?
Maka kita akan membahas dari sisi sejarah, dan penafsiran ulama terhadap ayat yang berisi tentang runtutan hari-hari besar yang terdapat di dalam bulan dzulhijjah.
Sejarah awal mula nya Idul Adha
Idul Adha ,dan hari-hari besar sebelumnya tidak jauh dari kisah Nabi Ibrahim yang akan menyembelih Nabi Ismail atas perintah Allah SWT lewat mimpi yang berulang sebanyak 3 kali.
Kisah ini terabadikan pada QS. Ash-Shaffat: Ayat 102 (Juz 23)
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.”
Ayat ini menjelaskan tentang Nabi Ibrahim yang diperintahkan oleh Allah SWT lewat mimpinya untuk menyembelih Nabi Isma’il.
Adapun hikmah di balik peristiwa tersebut adalah karena Nabi Ibrahim telah dijadikan oleh Allah SWT sebagai Khalīl
(Kekasih).
Kedudukan Al-Khullah/Khalīl (kekasih) itu sendiri bermakna: kemurnian kasih sayang, yang konsekuensinya adalah tidak boleh ada pihak lain yang menyamai atau andil dalam membagi cinta bersama Sang Kekasih yaitu Allah SWT. (Hasyiyah Ash-Shawi, 5/510)
Antara anak dan tuhan
Dahulu Nabi Ibrahim telah memohon kepada Tuhannya agar dianugerahi seorang anak. Maka ketika Allah menganugerahkannya, ada satu bagian dari hatinya yang terpikat oleh rasa cinta kepada anak tersebut.
Seketika itu pula, muncullah sifat “Cemburu” dari kedudukan Al-Khullah (kekasih) untuk mencabut kecintaan makhluk itu dari hati sang Khalil (Nabi Ibrahim). maka Nabi Ibrahim pun diperintahkan untuk menyembelih seseorang yang dicintai yaitu Nabi Ismail, anak nya sendiri.
Hal itu bertujuan agar tampak nyata kemurnian cinta dan tiadanya persekutuan cinta di dalamnya; di mana Nabi Ibrahim langsung patuh melaksanakan perintah Tuhannya dan mendahulukan cinta kepada Allah di atas cinta kepada anaknya.
Maka ketika Nabi Ibrahim melangkah maju untuk menyembelih Nabi Ismail, sementara rasa cintanya kepada Allah jauh lebih besar di dalam dirinya daripada rasa cinta kepada sang anak.
pada saat itulah kemurnian cinta (al-khullah) menjadi bersih suci dari segala noda persekutuan tanpa andil cinta terhadap makhluk yang lain. Oleh karena itu, tidak tersisa lagi suatu maslahat (tujuan esensial) pada tindakan penyembelihan fisik tersebut; sebab maslahat yang sesungguhnya hanyalah terletak pada keteguhan tekad (al-‘azm) dan kesiapan jiwa (tawthīn an-nafs).
Tatkala maksud (tujuan ujian) tersebut telah tercapai, maka perintah itu pun dihapus, sang anak ditebus, dan Nabi Ibrahim telah membenarkan mimpi tersebut. (Al-Mawahib al-Madaniyyah, 1/69)
Sejarah penamaan hari-hari besar Dzulhijjah
Penamaan Hari-Hari tersebut tidak jauh dari kejadian bermimpinya Nabi Ibrahim menyembelih Nabi Ismail.
Imam Ashowi mengisyratkan bahwa mimpi tersebut benar-benar telah terjadi secara nyata. Hal ini didasarkan pada riwayat:
Bahwa Nabi Ibrahim bermimpi pada malam Tarwiyah (malam 8 Dzulhijjah) ada seseorang yang berkata kepadanya: “Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk menyembelih anakmu.”
Maka ketika pagi hari tiba, Nabi Ibrahim pun merenungkan dalam dirinya. Apakah mimpi itu datangnya dari Allah atau dari setan?
Kemudian ketika malam berikutnya tiba, Nabi Ibrahim bermimpi hal yang serupa pada malam kedua, lalu melihat mimpi yang sama lagi pada malam ketiga. Maka setelah yakin ia pun bertekad kuat untuk menyembelihnya.
Oleh karena itulah, ketiga hari tersebut dinamakan dengan: Hari Tarwiyah (Hari Merenung/Berpikir), Hari ‘Arafah (Hari Mengetahui/Yakin), dan Hari Nahr (Hari Penyembelihan).
Karena pada hari pertama Nabi Ibrahim Tarawwā (berpikir/menimbang-nimenimbang), pada hari kedua Nabi Ibrahim ‘Arafa (mengetahui dengan yakin), dan pada hari ketiga Nabi Ibrahim Nahara (melakukan penyembelihan). (Hasyiyah Ash-Shawi, 5/510-511)
Penyampaian kabar mimpi kepada sang anak
Ibnu Ishaq dan ulama lainnya berkata:
Ketika perintah penyembelihan itu telah diyakini kebenarannya, Ibnu Ishaq mengisahkan bahwa Nabi Ibrahim mengajak putranya dengan sangat halus: “Wahai anakku, ambillah tali dan pisau besar ini, lalu ayo ikut bersamaku pergi ke lembah untuk mencari kayu bakar.”
Maka ketika ia telah berdua saja dengan anaknya di dalam lembah tersebut, ia pun mengabarkan kepadanya apa yang telah Allah perintahkan kepadanya. Sang anak lalu menjawab: “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Niscaya engkau menemuiku sebagai orang-orang yang sabar.”
Maka pergilah mereka ke atas sebuah bukit yang tinggi di daerah Mina, untuk melaksanakan perintah tersebut.
Keikhlasan Nabi Ismail ketika Disembelih
Di dalam riwayat yang disampaikan oleh Ibnu Abbas, Nabi Ismail memberikan beberapa wasiat yang sangat menyentuh hati sebelum dirinya disembelih:
• Ikatlah aku dengan kuat agar aku tidak meronta-meronta yang dapat mengurangi pahalaku.
• Singsingkanlah pakaianmu agar darahku tidak memercik ke bajumu, yang bisa membuat ibuku sedih ketika melihatnya nanti.
• Tajamkanlah pisaumu dan gilaslah dengan cepat di leherku agar proses ini terasa lebih ringan bagiku.
• Sampaikan salamku kepada Ibu, dan jika berkenan, kembalikan baju gamisku ini kepadanya sebagai obat rindu dan penghibur atas kepergianku.
Lalu Nabi Ibrahim berkata: “wahai anakku, engkau adalah sebaik-baik penolong, dalam menjalankan perintah Allah.”
Maka Nabi Ibrahim pun melakukan apa yang dipesan oleh anaknya, kemudian ia mendekatinya seraya menangis, dan sang anak pun ikut menangis. (Hasyiyah Ash-Shawi, 5/512)
Tercegahnya pisau untuk memotong leher Nabi Ismail
Saat Nabi Ibrahim mulai membaringkan Ismail dan menempelkan pisau ke lehernya, sebuah keajaiban terjadi. Pisau yang sangat tajam itu sama sekali tidak mampu melukai kulit Nabi Ismail. Nabi Ibrahim mencoba menekannya kuat-kuat, bahkan mengasahnya kembali pada sebongkah batu sampai tiga kali, namun pisau tersebut tetap tumpul di leher Ismail. (Tafsir Al-Baghowi, 7/48)
Sebagian ulama lain berpendapat: Allah meletakkan lempengan tembaga (shafīhah min nuhās) pada leher sang anak (sebagai penghalang). Namun, pendapat pertama jauh lebih mendalam dalam menunjukkan Kuasa Ilahi (al-Qudrah al-Ilāhiyyah), yaitu ditahannya fungsi besi secara langsung untuk tidak melukai daging tanpa adanya pembatas fisik.
Melihat pisaunya tidak berfungsi, Nabi Ismail memberikan saran kepada ayahnya:
“Wahai ayahku, telungkupkanlah wajahku ke arah tanah dengan bertumpu pada pelipis/keningku (membelakangi Nabi Ibrahim). Karena sesungguhnya jika engkau memandang wajahku, engkau akan merasa iba, sehingga rasa haru itu akan menghalangimu melaksanakan perintah Allah. Selain itu, aku pun takut jika harus terus memandang ke arah mata pisau secara langsung.”
Maka Nabi Ibrahim pun melakukan permintaan anaknya tersebut. Kemudian ia meletakkan pisau di bagian tengkuk (belakang leher) sang anak, namun pisau itu justru tumpul/tidak mau mengiris. Ketika saat itulah Nabi Ibrahim diseru dengan firman-Nya QS. Ash-Shaffat: Ayat 105 (Juz 23)
قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَاۚ
“sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.”
(Tafsir Al-Khazin, 4,/23)
Gema takbir pertama kurban
Sebagai hadiah atas kelulusan ujian iman yang maha berat ini, Allah SWT menebus Nabi Ismail dengan seekor domba jantan yang besar (kabsyin ‘azhīm) dari surga, bahkan disuatu riwayat bahwa domba itu merupakan domba yang dahulu dikurbankan oleh Habil anak Nabi Adam
Malaikat Jibril membawa domba tersebut, lalu Nabi Ibrahim menyembelihnya seraya mengumandangkan takbir.
diriwayatkan: Bahwa ketika Ibrahim menyembelih domba tersebut, Malaikat Jibril mengumandangkan takbir: “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar”
Mendengar hal itu, Nabi Ismail menyambutnya dengan berkata: “La ilaha illallahu wallahu akbar”
Kemudian Nabi Ibrahim menyempurnakannya dengan berkata: “Allahu akbar wa lillahil hamd”
Maka rangkaian kalimat antara Malaikat Jibril, Nabi Ismail, dan Nabi Ibrahim inilah yang kemudian diabadikan menjadi kalimat takbiran Idul Adha yang berkumandang di seluruh pelosok bumi hingga hari ini. (Tafsir Abi As-Su’ud, 7/201)
Maka bisa kita simpulkan segala prosesi penyembelihan hewan kurban yang kita lakukan sekarang itu berhubungan dengan kejadian Nabi Ibrahim menyembelih anaknya sendiri yaitu Nabi Ismail.
Dari dianjurkannya menejamkan pisau sebelum menyembelih hewan kurban hingga tata cara takbir ketika Idul adha. Semua perkara tersebut bertendesi dengan kisah penghambaan tingkat tinggi oleh Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya sendiri.
Allahu A’lam
Penulis: Mujiburrohman
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan