Megahnya panggung Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy 2 Andalusia ke-12 tahun ini bukanlah hasil instan. Di balik kesempurnaan visual dan tatanan estetikanya, tersimpan dedikasi seorang maestro santri yang telah mengabdikan kreativitasnya sejak bertahun-tahun silam, Amri Hidayat. Figur ini bukan hanya dikenal sebagai santri, namun juga sebagai perupa visual, desainer grafis, dan konseptor kreatif yang mewarnai perjalanan estetik Andalusia sejak 2017. Dari mural panggung hingga pamflet, dari sketsa digital hingga triplek panggung, jejak tangan dingin Amri terasa dalam setiap garis dan warna.


Tim Jurnalistik Ma’had Aly Andalusia berkesempatan untuk mewawancarai langsung sosok di balik panggung itu. Inilah jejak langkahnya—dari ketertarikan pribadi, proses mandiri, hingga menjadi penggerak utama tim visual pondok yang karyanya disaksikan ribuan pasang mata. Amri mulai terlibat dalam proyek Haflah sejak pertama masuk Andalusia pada 2017. Saat itu, perannya masih di seputar pembuatan properti karnaval. Baru pada Haflah ke-9 ia mulai dipercaya menangani elemen-elemen visual yang lebih besar: desain logo, pamflet, hingga ilustrasi pendukung acara. Ketika divisi Media Andalusia belum terbentuk secara resmi, ia adalah salah satu pelopor yang mengisi kekosongan itu dengan kerja dan kepercayaan diri.
Figur inspiratif dalam perjalanannya pun beragam. Dari kalangan pesantren, ia menyebut Mas Imam Bayhaqqi dari PP Asy-Ariyyah, Wonosobo. Sedangkan dari ranah profesional, ia mengikuti karya @singaraja, seorang desainer logo asal Malang, yang menurutnya “punya gaya visual kuat dan berkarakter.” Tahun 2025 menjadi tonggak baru. Untuk pertama kalinya, desain panggung Haflah digarap langsung oleh tim santri secara penuh, tanpa vendor eksternal. Waktu pengerjaannya memakan lebih dari tiga bulan, dari tahap brainstorming, eksekusi desain digital, hingga pembangunan fisik panggung.
Seluruh konsep awal digarap menggunakan aplikasi Procreate di iPad dengan ukuran desain 8×20 cm. Setelah desain disetujui, hasilnya diterapkan ke media triplek yang kemudian disusun menjadi panggung fisik berukuran 8×20 meter. Struktur dibangun menggunakan rangka bambu, yang ditutup mural hasil lukis manual. Seluruh proses diawasi langsung oleh Amri, dibantu oleh Ustadz Asyrof dan rekan-rekan tim lainnya. Dalam tim kreatif Haflah ke-12 ini, Amri melibatkan 5 santri aktif (Asyrof, Kamal, Luqman, Rafael, dan dirinya sendiri), serta 3 alumni: Raka, Albab, dan Nadhif. Seleksi dilakukan bukan hanya berdasarkan keterampilan, namun juga semangat. “Untuk skill, cukup tiga orang. Selebihnya yang penting mau bergerak, pasti kami rekrut,” tuturnya.


Kendala pun tak sedikit. Selain keterbatasan waktu akibat jadwal ngaji yang padat, mereka juga harus berhadapan dengan cuaca yang tidak bersahabat: hujan deras dan banjir beberapa kali mengganggu jalannya proses pengecatan mural. Namun semua itu terbayar lunas saat panggung berdiri megah dan para hadirin menikmati hasilnya. “Kami sangat bahagia. Hadirin bisa puas menikmati karya kami,” ungkapnya dengan syukur.
Konsep visual panggung tahun ini selaras dengan tema Haflah ke-12: Kompetensi Digital. Maka tak heran jika desainnya terasa lebih modern, geometris, dan menampilkan nuansa futuristik yang kuat. Tak hanya berkarya di panggung Haflah, Amri juga dikenal sebagai penanggung jawab utama Percetakan Azzahro. Awalnya ia direkomendasikan oleh Ustadz Sholah kepada ndalem, lalu disekolahkan selama sebulan di Sarang untuk memperdalam keilmuan percetakan. Kini, ia tidak hanya mengelola operasional percetakan, tapi juga melatih santri agar mampu menjalankan unit itu secara mandiri saat ia harus fokus ke proyek lain.


Bakatnya memang tumbuh sejak kecil. Ia sudah menyukai dunia menggambar sejak SD. Saat SMA, ia mulai mengenal dunia desain grafis digital, mempelajarinya secara otodidak lewat YouTube, Instagram, dan komunitas online. Baru setelah itu ia memutuskan ikut kursus untuk mematangkan kemampuan teknisnya. Di luar pesantren, Amri mulai menerima jasa desain profesional, dan sesekali membagikan prosesnya di media sosial, terutama TikTok. Meski tidak terlalu gencar dalam promosi, ia mengaku bersyukur dengan respon yang ia dapatkan. “Bisa jadi hanya beruntung, atau kebetulan saja,” katanya merendah.
Ia juga tidak menampik, respon positif dari publik pernah membuatnya terlalu cepat merasa puas—hingga sempat merasa stagnan. Namun kemudian ia bangkit dan mengingat kembali akar perjuangannya. Baginya, pengalaman menjadi bagian dari Media Andalusia generasi awal adalah fondasi penting dalam membentuk dirinya seperti sekarang.

“Berkat Media Andalusia, ruang gerak saya makin luas. Bisa dibilang, saya sampai di titik ini karena pernah jadi bagian dari tim media pondok.”
Amri percaya bahwa seni visual bukan sekadar estetika, tapi juga media dakwah. Ia yakin wajah Andalusia di mata luar sangat dipengaruhi oleh bagaimana visual pesantren ditampilkan secara strategis. Sebagai penutup, ia menitipkan pesan untuk para santri yang tengah menekuni dunia seni dan desain:
“Terus asah bakatmu. Jangan gampang puas. Eksplor sebanyak-banyaknya, tapi tekuni satu bidang agar itu menjadi personal branding kamu.”
Ia pun berharap, ke depan akan lahir wadah khusus bagi santri kreatif, agar tim kreatif Andalusia terus mengalami regenerasi dan perkembangan yang terarah. Dari balik gemerlap panggung Haflah, tersembunyi tangan-tangan sunyi yang bekerja dalam senyap. Dan salah satunya adalah Amri Hidayat, maestro visual Andalusia, yang mengubah pesantren menjadi panggung seni dan syiar yang tak terlupakan.
Kabar Terkini dari Ma’had Aly Andalusia Leler Banyumas
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan