Jarum jam menunjukkan pukul 21.30 WIB. Kegiatan diba’an di Pondok Pesantren Andalusia putri baru saja usai. Aula yang sebelumnya dipenuhi lantunan shalawat perlahan berubah suasana. Sebagian santri kembali ke aktivitas masing-masing. Ada yang membuang sampah, menuju koperasi, hingga bercengkrama santai bersama teman-temannya selepas kegiatan malam.
Namun di sisi lain aula, suasana berbeda justru semakin memanas.
Dua ratus santri berbaris rapat memanjang. Dari kejauhan terdengar dentuman tepukan tangan dan teriakan penuh semangat.
“Dum… dum… tap… tap… oii… oii!”
Suara itu menggema memenuhi aula utama putri. Energi para personel saman malam itu seakan tak habis meski hari telah larut. Dengan penuh semangat, mereka kembali menjalani latihan rutin yang dilakukan dua kali setiap pekan selama lebih dari empat bulan terakhir.
Latihan tersebut dipersiapkan untuk penampilan besar dalam berbagai acara pesantren, khususnya Haflah Akhirussanah mendatang.
Tari Saman sendiri bukan hal baru di Andalusia. Kesenian ini telah hadir sejak tahun 2017 dan terus diwariskan dari generasi ke generasi. Setiap tahunnya, penampilan saman selalu berkembang—lebih rapi, lebih kompak, dan lebih memukau.
Saman dikenal sebagai tarian yang mengandalkan keselarasan gerak tangan, tepukan, gelengan kepala, teriakan, ketepatan tempo, hingga kecepatan gerakan. Semua harus dilakukan serentak dalam satu irama. Diiringi alunan hadroh saman dan tiga vokalis utama, suasana latihan malam itu terasa begitu hidup dan menggelegar.
“Beberapa masih ada yang belum fokus, power-nya kurang. Ketika tepuk baik ke dada maupun ke lantai harus bunyi dan tegas, nggak boleh loyo,” jelas Anggita (19), selaku koordinator saman saat memberikan evaluasi pada sesi pertama latihan malam itu.
Kekompakan menjadi kunci utama dalam tarian saman. Sedikit kesalahan dari satu anggota saja dapat memecah konsentrasi seluruh barisan. Apalagi, banyak gerakan dalam saman yang tergolong kompleks dan membutuhkan konsentrasi tinggi.
“Gerakan yang menjadi tantangan saat masa latihan adalah tangan kosong,” ujar Nafi (17), salah satu personel saman, mengenang pengalamannya saat pertama kali bergabung menjadi anggota baru.
Meski melelahkan, latihan tetap berlangsung disiplin.
Pada Minggu siang setelah kegiatan ro’an selesai, para personel kembali memenuhi aula untuk latihan berikutnya. Tidak ada toleransi bagi yang datang terlambat.
“Sebagai konsekuensinya, yang telat bayar denda sebesar 20 ribu,” ujar Bibah (19), salah satu PJ Saman.
Hal ini bertujuan untuk melatih kedisiplinan dan rasa tanggung jawab dari setiap personel.
Tahun ini, tim saman Andalusia menghadirkan sesuatu yang berbeda. Berbagai variasi gerakan baru mulai dipersiapkan demi memberikan penampilan yang lebih segar dan atraktif.
“Kami akan menampilkan beberapa variasi baru untuk saman tahun ini,” tutur Amanda (20) ,koordinator saman, kepada para personel.
Menurutnya, variasi tersebut sengaja dibuat agar penonton tidak merasa bosan dan semakin terpukau saat menyaksikan penampilan mereka.
“Variasi ini bertujuan agar para penonton tidak merasa bosan melihatnya,” tambah Amanda.
Variasi baru itu tampak pada bagian gerakan awal masuk, formasi pulang, hingga beberapa detail gerakan inti yang kini dibuat lebih dinamis dan energik. Perubahan tersebut sempat terasa sulit di awal latihan, namun perlahan mulai dinikmati para anggota.
“Emang awalnya susah, tapi lama-lama bisa. Terus pas dilihat-lihat ternyata bagus juga kalau divariasi,” tutur Nafi.
Salah satu gerakan yang paling disukai para personel adalah saat membawakan lirik:
Nyawoeng geutanyoe di didalam badan…
Barang pinjaman siat Tuhan bri…
Oeh trok bak wate kagecok pulang…
Nyawoeng lam badan Tuhan peu Cebre…
Pada bagian itu, gerakan para penari tampil lebih variatif dengan perpaduan tempo cepat, tepukan kuat, dan perpindahan formasi yang harmonis.
“Paling suka bagian ini sama pas bagian Bungong Jeumpa, soalnya gerakannya asik, bagus, enak juga sama lagunya,” ujar Nafi kembali.
Di balik kerasnya tepukan dan lantangnya teriakan, tersimpan semangat kebersamaan yang begitu kuat. Panas, gerah, hingga rasa lelah seakan terbayar saat gerakan demi gerakan berhasil dilakukan dengan kompak.
Bagi mereka, saman bukan sekadar tarian. Ia adalah warisan, perjuangan, sekaligus kebanggaan yang terus dijaga.
Dan tahun ini, dengan hadirnya berbagai variasi
gerakan baru, Tari Saman Andalusia siap tampil lebih hidup, lebih megah, dan lebih memukau di hadapan para penonton Haflah Akhirussanah nanti
Oleh : Lu’luun Haniyyah
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial









Tinggalkan Balasan