Dalam perjalanan hidup, kita sering kali dihadapkan dengan dua sisi mata uang yaitu kebaikan dan keburukan. Walaupun kita senantiasa didorong untuk mengejar perkara yang positif, memahami apa yang dikategorikan sebagai “perkara buruk” adalah penting sebagai navigasi agar tidak terjerumus ke dalam lembah yang merugikan.
Keburukan, sekecil mana pun ia, mempunyai “kesan domino”. Sebagai contoh, satu penipuan kecil sering kali memerlukan penipuan yang lebih besar untuk menutupnya. Secara ilmiah dan psikologis, keterlibatan dalam perilaku negatif dapat meningkatkan hormon kortisol (stres) dan menurunkan tahap kepuasan hidup secara keseluruhan. Adapun beberapa perkara buruk yang sering menjerumuskan manusia antara lain:
- Penyakit Hati (mazmumah)
Penyakit inilah yang paling berbahaya karena tidak hanya merusak diri sendiri tapi juga merusak hubungan antara sesama. Sifat ini sering tumbuh tanpa disadari dan perlahan mengikis kebaikan dalam diri. Seperti: dengki, sombong dan suka mengumpat - Tabiat buruk yang merusak masa depan
Penyakit ini yang menjadi musuh terbesar bagi diri sendiri karena dilakukan tanpa memikirkan dampak untuk diri sendiri. Seperti: gaya hidup tidak sehat,dan malas berusaha. - Perilaku toksik
Penyakit ini yang sering muncul dalam interaksi kita dengan sekitar yang menciptakan suasana tidak sehat dalam masyarakat. Seperti: khianat dan perilaku kasar.
Di antara perkara-perkara buruk tersebut, tanpa kita sadari terdapat hal yang lebih buruk lagi sebagaimana disebutkan dalam kitab Nasoihul ‘Ibad yang tercatat ada 4 perkara :
١.الذَّنْبُ مِنَ الشَّابِّ قَبِيحٌ وَمِنَ الشَّيْخِ أَقْبَحُ
“Dosa dari seorang pemuda itu buruk, dan dari seorang yang sudah tua itu lebih buruk lagi.” karena usia tua adalah fase kematangan dan menjadi teladan bagi generasi setelahnya. Ia juga merupakan “muara” kehidupan, yakni fase akhir tempat seseorang menuai hasil dari perjalanan hidupnya.
٢.التَّكَبُّرُ مِنَ الْأَغْنِيَاءِ قَبِيحٌ وَمِنَ الْفُقَرَاءِ أَقْبَحُ
“Sombongnya orang kaya itu buruk, lebih buruknya lagi sombongnya orang yang tidak berkemampuan”. Karena kesombongannya dianggap sebagai bentuk keangkuhan tanpa modal, yang seharusnya kekurangan dibarengi dengan sikap tau diri agar bisa berkembang.
٣.التَّكَاسُلُ فِي الطَّاعَةِ مِنْ جَمِيعِ النَّاسِ قَبِيحٌ وَمِنَ الْعُلَمَاءِ وَالطُّلَّابِ أَقْبَحُ
“Kemalasannya seseorang dalam beribadah itu buruk, lebih buruknya lagi kemalasannya ulama atau penuntut ilmu yang dalam beribadah”. Karena dianggap “lampu jalan yang padam” yang mana membuat semua orang kehilangan arah.
٤. اشْتِغَالُ الْجَاهِلِ فِي الدُّنْيَا قَبِيحٌ وَمِنَ الْعَالِمِ أَقْبَحُ
“Kesibukannya orang yang jahil (tidak berilmu) dalam urusan dunia itu buruk, lebih buruknya lagi jika dari orang alim”. Karena nantinya dikhawatirkan akan muncul pandangan negatif di tengah masyarakat, seperti anggapan bahwa agama hanya sebatas teori. Mereka bisa saja berkata, “Jika orang yang memahami agama saja terlalu sibuk mengejar dunia, maka mengejar dunia secara berlebihan adalah hal yang wajar.” Mengenali perkara yang buruk bukan bermaksud kita tertuju pada hal-hal negatif. tetapi justru sebagai langkah berwaspada dan introspeksi diri. Dengan menyadari dampak buruk dari sifat dan tindakan yang keliru, kita dapat mengambil pelajaran dan menentukan pilihan yang lebih bijak untuk menjadi versi diri yang lebih baik.
Oleh : Akhil
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan