Sepulang sekolah, suasana di sekitar pondok mulai ramai. Para santri yang sejak pagi sibuk mengaji, belajar, dan mengikuti berbagai kegiatan mulai keluar dari kamar sambil membawa uang receh di tangan. Ada yang berjalan santai bersama teman-temannya, ada pula yang langsung menuju gerobak jajanan favorit sebelum antrean semakin panjang. Di sekitar pondok, jajan bukan sekadar membeli makanan, tetapi juga menjadi hiburan sederhana yang selalu dinantikan setiap hari.
Salah satu tempat yang paling ramai ialah penjual bakso citet. Dari kejauhan, aroma kuah hangat bercampur sambal pedas sudah tercium. Tambahan daun seledri, bawang goreng, dan remah rempeyek menjadi ciri khas bakso tersebut. Dengan harga yang masih terjangkau bagi santri, tidak heran jika gerobaknya selalu dipenuhi pembeli.
“Kalau habis capek kegiatan pondok, bakso citet paling cocok, apalagi saat cuaca dingin,” ujar Salsa, salah satu santri sambil menunggu antrean.
Tidak jauh dari sana, terdapat penjual seblak murah yang juga menjadi favorit banyak santri. Dengan topping sederhana seperti mi, kerupuk, sosis, dan sayuran, seblak itu tetap diminati karena rasa kencurnya yang khas. Harganya yang murah membuat para santri tetap bisa jajan tanpa khawatir uang saku cepat habis.
“Seblak di sini murah, tetapi porsinya banyak. Tingkat pedasnya juga bisa dipilih sendiri,” kata Aulia sambil tertawa kecil.
Selain makanan pedas, ada pula penjual es krim unik dengan roti tawar sebagai pelapisnya. Jajanan sederhana itu justru menarik perhatian karena rasanya yang berbeda. Perpaduan dinginnya es krim dengan lembutnya roti membuat banyak santri penasaran untuk mencobanya. Penjual juga menyediakan potongan roti kecil dengan tambahan mutiara bagi yang mau menambah topping.
“Awalnya saya pikir aneh, ternyata rasanya enak sekali, apalagi dimakan saat siang hari,” ucap Nisa.
Tidak kalah ramai, sempol juga selalu dipenuhi antrean santri. Teksturnya yang kenyal dengan balutan telur gurih membuat jajanan ini disukai banyak orang.
“Kadang baru datang sudah habis duluan,” ujar Rere sambil tertawa.
Bagi pencinta camilan renyah, leker legend menjadi jajanan wajib. Penjual leker itu sudah lama berjualan di sekitar pondok dan masih bertahan hingga sekarang. Aroma margarin yang dipanggang di atas wajan sering membuat santri berhenti karena tergoda wanginya. Pilihan topping-nya pun beragam, mulai dari cokelat hingga keju.
“Dari dulu rasanya tetap sama. Itu yang membuat banyak orang suka,” kata Dinda.
Selain itu, risol mayo dan risol cokelat crunchy juga sedang digemari. Kulitnya yang renyah dengan isian mayones, sosis, dan telur membuat banyak santri ketagihan.
“Kalau sedang lapar tetapi ingin camilan, risol mayo paling cocok,” ujar Fitri.
Bukan hanya jajanan ringan, makanan berat juga mudah ditemukan di sekitar pondok. Salah satunya ialah mi ayam Bu Sari yang hampir selalu ramai pembeli. Dengan harga yang cukup terjangkau, tempat itu menjadi pilihan banyak santri.
“Kalau lagi gak pengin makan yapi laper, biasanya saya makan di Bu Sari,” kata seorang santri.
Selain mi ayam, ada pula penjual nasi goreng yang selalu ramai hingga sering kewalahan melayani pembeli. Aroma bawang dan kecap yang dimasak di atas wajan besar sering membuat santri tergoda untuk membeli. Beberapa santri bahkan memilih memesan terlebih dahulu karena malas mengantre.
Tidak jauh dari sana, penjual pecel juga menjadi favorit. Dengan sayuran segar dan sambal kacang yang gurih, pecel menjadi pilihan sederhana tetapi mengenyangkan. Pembeli juga bisa menambahkan ketupat dan mendoan.
“Mendoan dan ketupat dengan sambal kacang itu perpaduannya sangat cocok,” kata Umi.
“Kalau sedang malas makan nasi, pecel menjadi solusinya,” ujar Lina.
Berbagai minuman segar turut meramaikan suasana sekitar pondok. Ada penjual jus dengan banyak pilihan buah, mulai dari alpukat, mangga, jeruk, hingga melon. Selain itu, tersedia pula es cokelat, bubble gum, matcha, es kelapa muda, dan es campur. Tempat minuman tersebut biasanya dipenuhi santri yang ingin menikmati kesegaran setelah beraktivitas seharian.
“Es cokelat dan es buah paling sering habis lebih dulu,” kata seorang penjual sambil melayani pembeli.
Di sekitar pondok juga terdapat warung sayur matang yang ramai didatangi pembeli. Berbagai lauk dan sayur tersedia setiap hari, mulai dari sup, oseng, telur balado, hingga aneka gorengan. Tidak jauh dari Zawiyah, tempat para mahasantri Andalusia menuntut ilmu, terdapat warung yang menjual jajanan pasar seperti klepon, lumpia, risol, dan kue lapis yang sering diburu saat pagi maupun jam istirahat.
“Kalau rindu masakan rumah, biasanya saya membeli sayur matang. Rasanya sederhana, tetapi membuat nyaman,” kata Fitri.
“Kalau ingin makanan tradisional, tidak perlu jauh-jauh pergi ke pasar,” ujar Nida, salah satu mahasantri Ma’had Aly Andalusia.
Bukan hanya makanan, kebutuhan sehari-hari santri juga mudah ditemukan di warung Letter U. Warung itu menjual berbagai barang, seperti hijab, alat tulis, aksesoris, perlengkapan mandi, printilan printilan lucu dan gantungan lucu untuk tas. Tempat tersebut sering dipenuhi santri yang sekadar melihat-lihat ataupun mencari kebutuhan mendadak.
“Di sini lengkap, jadi tidak perlu jauh-jauh mencari barang,” ujar seorang santri sambil memilih jepit rambut.
Menariknya lagi, di sekitar pondok juga terdapat beberapa tempat laundry yang membantu santri mencuci pakaian. Karena padatnya kegiatan pondok, banyak santri memilih menggunakan jasa laundry agar lebih praktis. Tempat laundry biasanya semakin ramai ketika waktu bergantinya baju.
“Kalau mencuci sendiri kadang tidak sempat, jadi laundry lebih membantu,” kata salah satu santri.
“Kalau sedang malas mencuci, laundry memang lebih praktis,” ujar santri lain sambil mengambil pakaiannya.
Walaupun hanya jajanan sederhana di pinggir jalan, semuanya sudah menjadi bagian dari cerita kehidupan anak pondok.
Bagi banyak santri, keberadaan jajanan, warung, dan berbagai tempat di sekitar pondok memberikan warna tersendiri dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah jadwal yang padat, hal-hal sederhana seperti membeli seblak, menikmati leker hangat, minum jus dingin, atau mengobrol sambil makan cilok menjadi momen kecil yang menyenangkan. Suasana itu bukan hanya menghadirkan rasa kenyang, tetapi juga menciptakan kebersamaan dan kenangan yang sulit dilupakan selama mondok.
Oleh: Vina shofia A
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan