Sepenting apa sih, masuk pesantren itu? Sebenarnya, apa sih gunanya kita mondok? Bukankah mondok itu tak jauh beda dengan lembaga pendidikan lainnya? Kalau mau ngaji, tinggal ngaji di rumah. Bahkan sekarang, kajian-kajian Ustaz Abdul Somad atau Ustaz Adi Hidayat sudah banyak di YouTube,lengkap, mudah diakses,dan gratis.
Lalu kalau alasannya untuk belajar hidup mandiri, anak-anak sekolah umum yang ngekos juga bisa belajar itu. Bahkan mungkin mereka lebih dituntut mandiri, karena semua diurus sendiri. Kita pun bisa ngaji dekat rumah, cari ustaz atau kiai terdekat, sambil bantu orang tua. Dan kalaupun kita ngaji di rumah, peluang ngantuknya lebih kecil daripada di pondok.
Pernah nggak, pertanyaan-pertanyaan semacam ini terlintas di benak kalian? Guru saya pernah menanyakan langsung sekitar dua tahun lalu, saat pertemuan terakhir beliau dengan kelas kami. Mungkin saat itu beliau ingin memberi wejangan terakhir untuk kami renungkan.
Saat ditanya “Apa gunanya mondok?”, jawaban saya dan teman-teman tentu seperti yang di atas. Beliau hanya diam, membiarkan kami berpendapat, lalu dengan wajah serius dan satu jari telunjuk yang teracung, beliau menjawab: “Ikhlas!” Kata itu yang membedakan pesantren dari tempat lain. Lalu beliau menjelaskan bahwa di pesantren ada tiga fase penting, dan siapa yang mampu melewati ketiganya, dialah santri yang berhasil. Tiga fase itu adalah:


- Alim (Berilmu)
Tujuan utama mondok adalah menuntut ilmu agama. Belajar berbagai kitab dari berbagai fan (bidang) ilmu. Supaya kita tahu bagaimana cara beribadah yang benar, cara membaca Al-Qur’an yang sesuai tajwid, mengetahui hukum-hukum syariat untuk menjalani hidup, dan banyak lagi. Ilmu menjadi bekal hidup di dunia dan akhirat.
- Amil (Mengamalkan Ilmu)
Ilmu tidak berhenti di kepala, tapi harus merembes ke hati dan diamalkan dalam laku. Karena sebaik-baik ilmu adalah yang diamalkan. Seperti dalam pepatah:
“العلم بلا عمل كالشجر بلا ثمر”
Ilmu tanpa amal bagaikan pohon tak berbuah.
- Ikhlas (Mendidik Hati dan Jiwa)
Inilah puncaknya. Di sinilah letak keistimewaan pesantren. Di pondok, kita hidup bersama orang yang awalnya asing bagi kita. Bukan cuma satu dua orang, tapi puluhan, bahkan ratusan. Pondok ibarat satu kampung kecil,sholat bareng, makan bareng, tidur bareng, semuanya bersama. Berbeda dengan kehidupan warga RW yang masing-masing tetap punya rumah pribadi, santri tidak punya sekat itu. Setiap hari, 24 jam penuh, kita hidup berdampingan dengan orang-orang berbeda karakter: yang menjengkelkan, yang menyenangkan, yang menguji kesabaran, bahkan yang membuat kita ingin menyerah.
Namun dari situlah, ikhlas mulai tumbuh. Kita belajar menerima perbedaan, belajar sabar, belajar memahami kenyataan bahwa dunia tidak selalu seperti yang kita inginkan. Dunia punya aturannya sendiri. Ada terang, ada gelap. Ada manis, ada pahit.


Kita juga belajar amar ma’ruf nahi munkar: mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran. Tapi… apakah semua orang akan menerima nasihat kita dengan baik? Apakah semua akan berubah setelah kita ingatkan? Tentu tidak. Kadang kita dinasihati pun enggan menerima. Di situlah ikhlas bekerja. Bahwa kita hanya menyampaikan. Kita tidak bisa memaksa orang untuk berubah sesuai kehendak kita. Rasulullah SAW bersabda:
عن أبي سعيد الخدري رضي الله عنه، قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول:
“من رأى منكم منكراً فليغيّره بيده، فإن لم يستطع فبلسانه، فإن لم يستطع فبقلبه، وذلك أضعف الإيمان.”
“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.”
(HR. Muslim)
Saya masih ingat jelas bagaimana guru saya mengucapkannya, dan sampai sekarang saya masih belum bisa mencapai tahap ikhlas itu secara sempurna. Kadang masih harus dipaksa menerima kenyataan. Tapi saya tahu, bahwa ikhlas adalah puncak perjalanan, dan pesantren adalah tempat paling tepat untuk belajar mencapainya. Kalau kalian sendiri, sudah sampai di tahap yang mana?
Oleh : Khumairo
Kabar Terkini dari Ma’had Aly Andalusia Leler Banyumas
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
follow Media Sosial
#SANTRILELERMENDUNIA










Tinggalkan Balasan