Puasa Ramadan merupakan kewajiban bagi umat Islam sebagaimana diperintahkan dalam Al-Qur’an. Ibadah ini tidak hanya memiliki dimensi spiritual sebagai bentuk ketaatan dan pendekatan diri kepada Allah, tetapi juga membawa dampak fisiologis bagi tubuh manusia.
Selama berpuasa terjadi perubahan pola makan dan metabolisme tubuh, yang dapat memengaruhi berbagai kondisi fisik, termasuk munculnya aroma napas yang berbeda dari biasanya.
Fenomena bau mulut saat berpuasa sering menjadi perhatian masyarakat. Namun dalam ajaran Islam, kondisi tersebut justru memiliki nilai keutamaan sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi Muhammad ﷺ yang terdapat dalam kitab sahih Bukhari dan Muslim.
Rasulullah ﷺ bersabda:
لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِندَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ
“Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak misik.”
Minyak misik (kasturi) pada masa Arab dahulu merupakan wewangian terbaik dan paling mahal. Oleh karena itu nabi Muhammad ﷺ menggunakan Perumpamaan tersebut untuk menggambarkan kemuliaan ibadah puasa di sisi Allah. Ungkapan tersebut bukan dimaksudkan untuk menilai bau secara fisik sebagaimana yang dirasakan manusia, melainkan sebagai bentuk penghargaan dan kemuliaan yang Allah berikan kepada orang yang menjalankan puasa dengan penuh keikhlasan.
Para ulama menjelaskan bahwa bau mulut yang muncul ketika berpuasa merupakan akibat dari kosongnya perut dan perubahan proses metabolisme dalam tubuh. Namun dalam perspektif keimanan, kondisi tersebut menjadi tanda ketaatan seorang hamba kepada Allah. Oleh karena itu, sesuatu yang secara lahiriah mungkin dianggap kurang menyenangkan bagi manusia justru memiliki nilai yang mulia di sisi Allah karena muncul dari ibadah yang diperintahkan-Nya.
Penjelasan mengenai makna hadis ini juga disebutkan dalam kitab Madarik al-Maram fi Masalik al-Siyam karya Imam al-Qastallani, sebagaimana berikut:
قَوْلُهُ: أَطْيَبُ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ، هٰذَا مِنْ بَابِ الْمَجَازِ، أَيْ: رَائِحَتُهُ الْكَرِيهَةُ عِنْدَكُمْ هِيَ أَعْجَبُ وَأَرْضَى لِلَّهِ مِنِ اسْتِنْشَاقِ رِيحِ الْمِسْكِ لِنَاشِقِهِ، كَمَا أَنَّ كَلْمَ الشَّهِيدِ اللَّوْنُ لَوْنُ الدَّمِ وَالرِّيحُ رِيحُ الْمِسْكِ
“Bau yang tidak sedap dari orang yang berpuasa itu, di sisi Allah lebih agung dan lebih diridhai daripada seseorang yang mencium bau minyak misik yang harum. Sebagaimana juga pada orang yang mati syahid, darahnya berwarna seperti warna darah, tetapi baunya seperti bau minyak misik.”
Perumpamaan tersebut menunjukkan bahwa sesuatu yang secara lahiriah tampak biasa atau bahkan kurang menyenangkan bagi manusia dapat memiliki kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah apabila hal itu muncul dari ketaatan dan pengorbanan dalam menjalankan perintah-Nya. Dengan demikian, hadis ini menegaskan bahwa nilai suatu amal tidak semata-mata diukur dari penilaian manusia secara lahiriah, tetapi dari keikhlasan dan ketakwaan yang menyertainya di hadapan Allah.
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan