Sesungguhnya bulan Ramadhan mempunyai 2 keistimewaan utama : Turun nya Al-Qur’an , dan malam lailatul qadr .
Peristiwa turun nya Al-Qur’an ini terabadikan di :
QS. Al-Baqarah: Ayat 185 (Juz 2)
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ
Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil).
Ayat ini menerangkan bahwa pada bulan Ramadan, Al-Qur’an diwahyukan.ayat ini mengisyaratkan bahwa Al-Qur’an itu diturunkan bertepatan dengan terjadinya pertemuan antara dua pasukan, yaitu pasukan Islam yang dipimpin Nabi Muhammad dengan tentara Quraisy yang dikomandani oleh Abu Jahal, pada perang Badar yang terjadi pada tanggal 17 Ramadan.M
Bagaiman penafsiran para ulama terhadap ayat ini?
Persepektif Imam Ashowi
Malaikat Jibril menerima (Al-Qur’an) dari Lauhul Mahfuz, lalu turun membawanya ke langit dunia dan mendiktekannya kepada para malaikat pencatat (As-Safarah).
Maka para malaikat itu menuliskannya di dalam lembaran-lembaran (shuhuf) sesuai urutan yang ada sekarang ini, dan tempat penyimpanannya berada di Baitul ‘Izzah di langit dunia. Setelah itu, Jibril menurunkannya kepada Nabi ﷺ secara berangsur-angsur selama dua puluh tiga tahun, disesuaikan dengan berbagai peristiwa yang terjadi.
Maka Jibril bertindak mendiktekan kepada para malaikat pencatat pada tahap awal (turun sekaligus), dan ia menerima/menyampaikannya kembali pada tahap akhir (turun bertahap kepada Nabi).
Adapun hikmah diturunkannya Al-Qur’an secara bertahap adalah: untuk meneguhkan hati Nabi, memperbarui argumen/jawaban terhadap para pembangkang, serta menambah keimanan bagi orang-orang mukmin.
(Hasyiyah Ashowi , 1/308)
Perspektif Imam Ibnu Asyur
yang dimaksud dengan “Penurunan Al-Qur’an” adalah awal mula turunnya wahyu kepada Nabi ﷺ. Karena pada bulan itulah permulaan turunnya wahyu terjadi, yaitu pada tahun ke-41 dari Tahun Gajah.
Maka penyebutan turunnya bagian awal Al-Qur’an menggunakan kata “seluruh Al-Qur’an”; hal ini dikarenakan bagian yang diturunkan tersebut sudah ditetapkan akan disusul oleh penyempurna (bagian-bagian) lainnya.
Sebagaimana terdapat dalam banyak ayat, contohnya firman Allah:
وهَذا كِتابٌ أنْزَلْناهُ مُبارَكٌ
“Dan ini (Al-Qur’an) adalah Kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi” [Al-An’am: 92].
Pernyataan ini disampaikan sebelum seluruh Al-Qur’an selesai diturunkan, namun maknanya mencakup segala hal yang akan diturunkan setelahnya, dan makna kalimat “Bulan Ramadan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an” adalah diturunkan pada “bulan yang serupa” dengannya.
Sebab, bulan (Ramadan pertama) saat Al-Qur’an benar-benar diturunkan sudah berlalu beberapa tahun sebelum turunnya ayat perintah puasa
Karena kewajiban puasa Ramadan baru ditetapkan pada tahun kedua Hijriah. Maka, antara waktu kewajiban puasa tersebut dengan bulan Ramadan yang menjadi waktu turunnya Al-Qur’an secara hakiki (pertama kali) terpaut jarak beberapa tahun.
Sehingga melalui bukti kontekstual (qarinah), jelaslah bahwa yang dimaksud adalah: diturunkan pada bulan yang serupa dengannya; yaitu pada bulan Ramadan yang berulang di tahun-tahun berikutnya.
(At tahrir wat tanwir , 2/172)
Perspektif Imam Abu hayyan
Secara tekstual, ayat ini menunjukkan bahwa bulan Ramadan adalah “wadah waktu” terjadinya proses turunnya Al-Qur’an.
Secara harfiah, kata “Al-Qur’an” di sini mencakup seluruh isinya. Namun, ayat ini tidak menjelaskan secara rinci “ke mana” atau “ke tempat mana” Al-Qur’an itu diturunkan pada saat itu.
Menurut Ibnu Abbas: Al-Qur’an diturunkan sekaligus seluruhnya ke langit dunia (Baitul Izzah) pada malam ke-24 Ramadan. Baru setelah itu, ia diturunkan kepada Rasulullah ﷺ secara bertahap (munajjaman) sesuai kebutuhan.
Ada juga pendapat lain: “Penurunan” di sini maksudnya adalah turun langsung kepada Rasulullah ﷺ. Jadi, kata “Al-Qur’an” (yang berarti seluruhnya) digunakan untuk menyebut “sebagiannya” (yaitu ayat-ayat awal). Maka maknanya adalah: Awal mula turunnya Al-Qur’an kepada Rasulullah ﷺ terjadi di bulan tersebut, tepatnya pada malam ke-24 Ramadan.
Atau, “Al” (Alif & Lam) pada kata “Al-Qur’an” di sini berfungsi untuk mendefinisikan “hakikat” atau “jenis” wahyunya. Maksudnya, yang turun itu adalah jenis wahyu bernama Al-Qur’an, bukan berarti seluruh mushafnya harus turun saat itu juga.
(Al bahrul Muhith , 2/195)
Penulis : Mujiburrohman
Sumber rujukan:
1. Hasyiyah ashowi ‘ala tafsir jalalain (cetakan dar tahqiq al kitab)
2. At Tahrir Wat Tanwir ( cetakan dar tunisiyah linnasyr)
3. Al bahrul muhith (cetakan darul fikr)
Ikuti perkembangan terbaru seputar akademik, kegiatan santri, dan dinamika organisasi di Ma’had Aly Andalusia melalui website resmi: maalyandalusia.ac.id. dan malyjurnalistik.com
Temukan informasi aktual, artikel inspiratif, dan liputan kegiatan langsung dari sumbernya. Jangan lupa ikuti juga media sosial kami untuk update cepat dan konten menarik setiap harinya.
Follow Media Sosial










Tinggalkan Balasan